Ekspresi Cahaya Bersama

Fotografi, bagi M.A. Roziq, bukan lagi tentang menangkap momentum dan cahaya. Lewat fotografi, pria kelahiran Lampung, 40 tahun silam ini kerap mengungkapkan keprihatinannya atas kerusakan lingkungan hidup lewat metafora yang ia bangun dari objek-objek sederhana. Mainan, umpan pancing dan balok es adalah beberapa dari sekian banyak benda sehari-hari yang kerap ia gunakan sebagai objek fotografi.

Kolaborasi M.A. Roziq & Anak SALAM

Pria yang aktif mengikuti berbagai pameran seni rupa sejak 2012 silam ini, selalu antusias setiap diajak terlibat dalam helatan seni rupa CARAKA. Bagi Roziq, begitu ia kerap disapa, seni selalu bisa menjadi media belajar yang tak berkesudahan. Konsep seni sebagai media untuk mengolah cipta, rasa dan karsa sudah menjadi laku sehari-hari dalam keluarga bapak satu anak ini.

Merespon konsep CARAKA#2: Tut Wuri Handayani, dimana seni disandingkan dengan pendidikan dan mengkolaborasikan karya besama anak-anak, tentu saja menjadi sebuah tantangan baru bagi Roziq. “Bagi saya konsep ini sangat menarik. Saya sebagai seniman diberi kesempatan berkolaborasi dengan anak-anak Salam yang mempunyai spirit yang luar biasa,” ujar Roziq dalam wawancara tempo hari.

Sadat, Banyu, Elang, Ranu dan Dylan adalah anak-anak Salam yang turut berkolaborasi bersama Roziq. Rozan, putra semata wayang Roziq yang juga pernah bersekolah di KB Salam, tak ketinggalan ikut berkolaborasi pada kesempatan kali ini. Banyu yang sudah berminat pada fotografi sejak duduk di bangku kelas 2 SD berujar, “belajar foto sama pak Roziq itu enak, ngajarinnya serius gitu lho.” Siswa kelas 5 SD Salam ini membuat beberapa karya, salah satunya adalah siluet badan yang terikat tali.

Dalam helatan CARAKA#2 yang akan berlangsung 9-23 Desember 2018 di Kopi DST, Kasihan, Bantul, Roziq akan menampilkan karya kolaborasi dengan teknik fotografi painting with light. Dengan teknik yang dikenal dengan istilah long eksposure, Roziq memberi ruang bermain bagi anak-anak dan mengajak mereka untuk menggerakkan cahaya sesuai yang mereka mau.

“Tantangannya adalah bagaimana menyatukan energi yang sama. Anak-anak lebih berenergi dan bersemangat, dan saya harus mengimbangi spirit mereka agar karya yang tercipta adalah bukan sekedar karya saya atau karya mereka, tapi menjadi karya kami. Karya bersama,” lanjut pria yang saat ini juga sedang menggelar Pameran senirupa bertiga ‘Mongsorumongso’ bersama Erica Hestu Wahyuni dan Bambang Heras. []