Industri dan Pendidikan

Cukup menarik tulisan dari seorang profesional yang pernah belajar di negeri orang dan bekerja di perusahaan asing. Beliau membandingkan apa yang dialami ketika belajar di negeri orang dibandingkan praktek pendidikan di negeri ini. Sama-sama berorientasi pendidikan untuk industri—namun sangat tidak memenuhi syarat—jadi betapa ruginya menyiapkan untuk tenaga industri tak memenuhi syarat, sementara berorientasi memperkuat sumberdaya manusia, maupun sumberdaya alam setempat juga diabaikan. Ada ibarat Jawa yang tepat untuk menggambarkan persoalan ini; “mburu uceng kelangan dheleg”—artinya,  memburu uceng (ikan kecil berbentuk seperti lele, berwarna hitam), tetapi malah kehilangan tongkat untuk menyebrangi sungai atau mengejar sesuatu yang sepele dan tidak berharga. Akibatnya, kehilangan miliknya yang jauh lebih berharga dan bermanfaat. Hal ini adalah gambaran orang yang terpukau pada hal yang sebenarnya remeh belaka dan memburunya dengan meninggalkan kewaspadaan ***

webceo.com

Bagaimana teknologi dihasilkan? Tentu saja melalui riset. Riset adalah kerja intelektual, tentu saja. Tapi tidak hanya itu. Riset pada saat yang sama adalah “kerja rodi” fisik. Waktu saya masih belajar sebagai mahasiswa pasca sarjana di Jepang, kemudian dilanjutkan bekerja sebagai peneliti di Jepang selama beberapa tahun, saya menyaksikan bagaimana “kerja rodi” riset itu. Para periset tidak pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Bahkan, sering kali saya saksikan, saat saya pulang dari tempat kerja lewat tengah malam, banyak periset yang masih bekerja.

Kerja riset tidak sekadar memerlukan orang-orang yang cerdas secara intelektual, tapi juga kokoh dalam semangat dan kekuatan fisik. Banyak kerja riset yang menuntut periset untuk melakukan eksperimen yang sulit hingga tingkat ekstrim. Untuk mencapai hasilnya diinginkan diperlukan waktu yang sangat lama. Jadi, untuk mencapainya tidak hanya diperlukan kecerdasan, tapi juga kesabaran dan ketahanan fisik.

Waktu saya baru tiba di Jepang tahun 1997 para periset masih giat dengan usaha untuk membuat LED dengan cahaya warna biru. Di kelompok riset tempat saya belajar, ada beberapa mahasiswa Korea yang mengerjakan riset ini. Salah satu dari mahasiswa itu mengalami cidera otot leher, sehingga harus memakai penyangga selama berbulan-bulan. Cidera itu akibat terlalu lama mengoperasikan alat penumbuh kristal untuk menghasilkan semikonduktor dengan struktur sesuai kebutuhan untuk membuat LED tadi.

Industri yang berdikari memerlukan platform teknologi. Platform teknologi hanya bisa dihasilkan dengan riset yang berdikari pula. Seperti yang dijelaskan di atas, riset yang berdikari hanya bisa berjalan kalau kita memiliki orang-orang yang tidak hanya cerdas, tapi juga kreatif dan tangguh, dalam hal fisik maupun mental. Pertanyaannya adalah, adakah sistem dalam pendidikan kita yang menjamin tercapainya syarat-syarat itu?

Masalah utama kita adalah, perguruan tinggi kita belum menjadi tempat riset untuk menghasilkan platform teknologi. Tidak ada kerja riset sistematis yang menghasilkan platform teknologi. Otomatis juga tidak ada orang-orang yang mendapat pelatihan intelektual dan mental, juga fisik, seperti yang diuraikan di atas. Itulah sebabnya kita tidak punya industri yang berdikari dalam hal teknologi. Industri kita hanyalah pelayan kepentingan industri asing.

Lalu, apa fungsi perguruan tinggi kita? Fungsinya sekadar menghasilkan orang-orang yang “siap pakai”, yaitu orang-orang yang memenuhi syarat untuk bekerja di berbagai industri. Tugas mereka adalah mengoperasikan berbagai peralatan teknologi pada industri tersebut. Ingat, mengoperasikan, bukan menghasilkan teknologinya.

Bahkan untuk “sekadar” menghasilkan orang-orang seperti itu saja pun perguruan tinggi kita masih keteteran. Banyak perguruan tinggi yang sekadar menghasilkan orang-orang bergelar, minus kompetensi. Mahasiswa digiring untuk mengikuti berbagai mata kuliah, mengikuti ujian, lulus dengan suatu nilai. Tapi mereka sebenarnya tidak paham soal apa yang mereka pelajari. Mereka juga tidak punya kemampuan belajar mandiri, untuk belajar lebih lanjut. Tentu saja mereka pun tak mendapat pelatihan yang memadai soal kreativitas, dan ketangguhan mental (ketekunan) seperti dijelaskan di atas.

Persoalan yang sama ada pada lembaga pendidikan di tingkat yang lebih rendah, yaitu pendidikan menengah dan dasar. Sekolah-sekolah kita cenderung menjadi lembaga tempat anak-anak berlatih menghafal. Hafalan itu dipakai untuk menjawab soal-soal ujian, menghasilkan daftar nilai. Pelajar tidak dilatih untuk paham, berpikir, lalu menjadi kreatif. Juga tidak tangguh dalam hal mental dan fisik.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Tentu kita memerlukan perombakan besar-besaran. Tapi, apakah perombakan akan mengubah sesuatu? Bukankah dunia pendidikan kita sudah melakukan perombakan setiap terjadi pergantian Menteri Pendidikan? Yang saya saksikan terjadi pada setiap pergantian menteri adalah perombakan besar-besaran pada administrasi pendidikan, bukan substansi pendidikan. Kenapa bisa begitu? Ada banyak soal yang rumit di situ.

Kurikulum 2013 yang semangatnya adalah “memangkas” berbagai formalitas pendidikan, ditujukan untuk lebih fokus pada hal-hal substansial di atas, pada kenyataannya disusun dengan cara semrawut. Semrawut pada rumusan kurikulum, dan kesemrawutan terlihat lebih parah pada penyusunan bahan ajar. Kenapa bisa begitu? Di antara berbagai sebabnya adalah birokrasi pendidikan yang masih itu-itu saja. Orang dan pola pikirnya tidak berubah.

Mohon maaf, sampai akhir tulisan ini saya hanya sanggup mengomel, tanpa menyodorkan solusi. Apa boleh buat, persoalan pendidikan kita memang sangat rumit. Semua itu menjadi semakit rumit oleh adanya kenyataan bahwa birokrasi pendidikan kita sangat korup. Nah, pembenahannya mungkin bisa dimulai dari situ. Walapun kita juga sadar, bahwa menangani soal ini pun juga tidak mudah.

*) Hasanudin Abdurakhman, cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia. [detikNews Senin 05 Desember 2016, 12:09 WIB]