Kata “Pertama Kali” dari SALAM.

Harus kuakui bahwa SALAM tempat saya banyak menemukan kata “pertama kali”. Pertama kalinya saya merasa damai berjalan di pematang sawah. Sebab, Bekasi kota saya berasal hampir tidak bisa ditemukan sawah. Pertama kali saya menyadari bahwa pembelajaran adalah tiap kali saya menjalani kehidupan. Artinya, dimana saja dan kapan saja saya dapat belajar.

Pertama kali saya membuat kurikulum sendiri untuk memenuhi kebutuhan belajar mandiri saya. Pertama kali saya berani membuka usaha mandiri yang saya berikan nama “Birong”. Pertama kali saya berani menerima orderan sebanyak 700pcs pouch lewat Birong. Dan saya kira masih banyak kata “pertama kali” yang belum dan tidak mampu saya ungkapkan. Jadi, kalau ditanya “kamu dapat pelajaran apa saja sih dari SALAM?”. Jawabannya sama seperti pertanyaan yang dilontarkan kekasihmu “seberapa cinta sih kamu sama aku?”. Hehe.. Mungkin bisa saja di deskripsikan tapi sepanjang apapun kita mampu mendeskripsikannya tidak membuat perasaan kita puas, bukan? 😀

Samar-samar saya mengingat, semasa masih sekolah di sekolah formal. Acap kali ujian, ulangan maupun mengerjakan PR saya tidak segan dan enggak pernah merasa bersalah untuk mencontek. Waktu itu pertanyaan besar saya “kenapa saya enggak boleh mencontek? Padahal dikehidupan manusia bukan mahluk individual. Kalau enggak tahu, ya tinggal nanya saja, kan?”. Pun sampai saat ini saya enggak pernah merasa bersalah pernah mencontek.

Suatu waktu saya mengamati adik-adik saya di SALAM yang sedang menjalani ujian paket A. Mereka berbincang bangga pada dirinya sendiri sebab tidak mencontek kala ujian berlangsung, bahkan fasilitator membenarkan tindakan mereka. Peristiwa itu kembali jadi pertanyaan bagi diri saya. “Apa mencontek perbuatan yang secela itu?”.

Lama sekali sampai saya berada dijenjang kelas 3 SMA dan waktu itu saya kekeh tidak mengikuti ujian nasional untuk sekadar mendapatkan ijazah. Saya baru mengerti, perihal mencontek ada pertanyaan yang lebih mendasar lagi.

“Kenapa saya harus mencontek dan meragukan bahkan malu akan kemampuan saya mengerjakan soal-soal itu?”. Tentu jawabannya, karena di sekolah formal saya dituntut untuk mencapai standar-standar nilai yang sudah ditentukan. Sementara SALAM tidak menentukan standar nilai tersebut yang malah membuat saya abai akan “nilai-nilai” yang lain.

Buat saya kata “pertama kali” ini amat berarti. Pasti juga sangat berarti bagi kita semua. Sangat berarti sekali pemikiran pak Toto dan bu Wahya saat “pertama kali” berpikir untuk mendirikan SALAM hingga usianya telah mencapai 21 tahun. Selamat ulang tahun Sanggar Anak Alam (SALAM)