Kawruh Pamomong

Belum lama ini saya kedatangan tamu di tempat kerja–Ringroad Utara 88. Beberapa dosen dan anggota lembaga swadaya masyarakat yang mengadakan sebuah seminar tentang kepengasuhan anak berbasis kearifan lokal. Begitu mendengar tema itu, saya tertarik untuk ikut, namun sayang waktu tak memungkinkan saya untuk hadir di sana.

Foto Yanuar Surya

Meski begitu, saya beruntung mendapatkan hardcopy materi yang disampaikan. Salah satunya tentang Kawruh Pamomong, pola pengasuhan anak ajaran Ki Ageng Suryomentaram. Ki Ageng Suryomentaram merupakan putra Sri Sultan Hamengkubuwini VII dan Bendara Raden Ayu Retnomandojo.

Ki Ageng Suryomentaram merupakan guru dan pencetus Kawruh Begja (ilmu bahagia) yang pemahamannya tentang manusia berasal dari pengamatannya dengan metode empiris percobaan yang dilakukan terhadap dirinya sendiri dengan cara merasakan, menggagas, dan lainnya hingga tercapai keselarasan.

Membahas tentang Ki Ageng Suryomentaram yang melakukan pengamatannya sendiri dan praktik langsung dengan kehidupan, kok rasa-rasanya familiar dengan kisahnya Pak Toto Rahardjo dan Bu Sri Wahyaningsing ya? Ahh sudahlah, dibahas nanti lagi aja hehe.

Jadi, dari materi hardcopy yang saya dapat ini dijelaskan bahwa dalam pemikiran Ki Ageng Suryomentaram hubungan antara orang tua dan anak dipaparkan dalam Kawruh Pamomong yang merupakan pola pendidikan anak dengan tujuan si anak mencapai kebahagiaannya. Kebahagiaan di sini diartikan seseorang yang merasa nyaman dalam pergaulannya dengan orang lain dan pandai dalam penghidupannya. Nah, yang mampu menciptakan rasa nyaman dalam pergaulan tersebut adalah rasa cinta (Raos Sih).

Foto Yanuar Surya

Langsung saja saya copy-kan materi yang saya dapat ya :

~“Kawruh Pamomong merupakan usaha orang tua agar anak berkembang raganya hingga beranjak dewasa. Dengan demikian, orang tua memelihara raga sesuai dengan aturan alam, bukan hasil pikiran, bukan larang-larangan, dan bukan diperintah.

Dalam Kawruh Pamomong terdapat beberapa prinsip, di antaranya sumerep yaitu mendidik anak agar paham dan mengerti terhadap hal yang benar dan agar bisa berpikir benar. Mengajarkan hal yang benar adalah mengajarkan ilmu nyata. Orang tua mengajarkan anak untuk tidak ytakut pada hal yang tidak nyata, tidak menakuti dengan mengancam, tidak berbohong dan mengelabuhi, tidak menyalahkan pihak lain, tidak memanjakan sehingga mampu mengajarkan kepercayaan diri dan mengajarkan anak untuk mandiri.Kemudian, raos sih atau menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Agar anak dapat mencapai kondisi yang kuat dan mampu menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Maka orang tua mengajarkan untuk tidak membeda-bedakan, tidak mengejek atau menjelek-jelekkan orang lain atau kepada anak sendiri, tidak melampiaskan kemarahan pada anak, orang tua tidak menimbulkan ketakutan, tidak menanamkan rasa curiga, tidak memberikan pembelaan dan penyalahan yang berlebihan pada anak, mengajarkan anak untuk tidak mengharap pujian, mengajarkan anak untuk kesiapan masuk masa pubertas, dan mengajarkan anak untuk tidak diperlakukan serta memperlakukan orang lain.

Foto Anang Istiawan

Dalam Kawruh Pamomong juga diajarkan untuk mencintai keindahan. Prinsip ini merepresentasikan tentang menumbuhkan rasa suka terhadap keindahan yang terdapat pada semua hal. Output dari proses ini adalah seluruh hal dapat diterima indera dengan wajar dan apa adanya.”~

Dari materi itu, saya merasa ada sedikit kesamaan dengan yang saya rasakan ketika berada di lingkungan Salam. Dalam Kawruh Pamomong disebutkan bahwa orang tua memelihara raga sesuai dengan aturan alam. Itu sama halnya dengan Salam yang melihat anak sebagai sosok yang merdeka. Anak merupakan pribadi mandiri yang sudah memiliki minat dan bakatnya secara alamiah. Lingkungan di sekitarnya, termasuk orang tua dan sekolah, hanya memfasilitasinya saja. Salam merupakan komunitas belajar yang tanpa ragu-ragu mengadopsi pola pendidikan berbasis kearifan lokal. Di mana ajaran Ki Hadjar Dewantara juga diterapkan dalam proses pendidikan di sana. []