Foto: Yanuar Surya.

Kita Bersaudara (Original Song from Agni Band)

Kau sahabat sejatiku
Berawal dari canda tawa
Kita bermain bersama

Tak perduli kita beda
Slalu lengkapi kekurangan
Tanpamu terasa sepi

Olala sahabat ku
Olala kita bersaudara
Olala sahabatku
Olala kita bersaudara

Ada suka dan ada duka
Kita lewati bersama-sama
Bersamamu ku bahagia

LAGU yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Agni Band, yang terdiri dari siswa Kelas 6, SMP, dan alumni Sanggar Anak Alam (SALAM) ini terus terngiang. Apalagi jika mengingat momen pada bulan Juli lalu, saat anak saya, Rachel Amanda Aura, berulang tahun ke sepuluh.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Momen ulang tahun beberapa waktu lalu memang begitu membekas di benak Rachel, yang saat ini duduk di Kelas 5. Dia mendapatkan kejutan dari teman-temannya.

Tadi aku bengong saat dikasih kue sama teman-teman. Soalnya baru kali ini aku dapat kejutan,” ujar Rachel usai mendapatkan cake ultah dari teman-teman sekolahnya.

Bagi Rachel yang baru saja genap sepuluh tahun pengalaman itu merupakan hal baru. Memang, di keluarga kami tidak selalu merayakan ulang tahun dengan meriah. Terkadang, saya dan suami hanya membeli cupcakes dan membangunkan Rachel di tengah malam untuk tiup lilin. Kalau pas ada rezeki lebih kami masak nasi kuning untuk disantap bersama. Sudah sampai di situ saja. Tidak ada genggap gempita balon dan pita-pita di rumah.

Momen itu juga menjadi salah satu pengalaman yang menakjubkan buat saya. Kenapa? Karena saya sama sekali tidak me-arrange pesta kejutan itu. Semua dilakukan oleh teman-teman Rachel. Adalah Fafa, Nayla, Katja, dan Citta yang menjadi ”panitia” pesta.

Sepertinya mereka sudah merencanakan jauh-jauh hari. Sebab, dua hari menjelang ulang tahun Rachel, Fafa mendatangi saya. ”Bu Reren, teman-teman patungan buat beli kue. Nanti Bu Reren yang pesen ya, ini uangnya,” ujar Fafa.

Tentu saja saya heran. ”Loh buat apa?” tanya saya.

”Buat kejutan ulang tahunnya Rachel. Pokoknya, ini uangnya, Bu Reren beli aja. Nanti semuanya udah disiapin. Bu Reren tinggal datang aja ke Joglo Elang besok Senin sama Rachel,” jelasnya.

Sik sik. Pikir saya. Ini anak-anak merencanakan sesuatu di rumah salah satu orang tua, wes minta izin apa belum. Dan, lagi saat hari ulang tahun Rachel, 24 Juli, sekolah pas libur.

”Fafa, sebaiknya diundur saja ulang tahunnya. Kan tanggal 24 sekolah libur. Nanti merepotkan, malah pada wira-wiriwong pas libur sekolah,” kata saya.

”Jadi gini, Bu Reren datang ke rumah Mimi (Joglo Elang). Skenarionya gini, Bu Reren ambil kuenya, terus langsung bawa aja ke Joglo sekitar jam 11. Nah, Bu Reren kalau bantu dekor juga boleh. Jam 11 ya. Nah, kalau udah selesai kita ngabari Pak Aji biar ngajak Rachel ke Joglo,” jelas Fafa panjang lebar. Okelah, karena semua sudah dipersiapkan. Saya pun mengikuti strategi mereka.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Tiba hari Senin, sekitar pukul 10.30 giliran Nayla yang mengirimkan pesan WhatsApp untuk mengingatkan agar saya tidak lupa membeli kue. Saya pun lantas bergegas membeli kue dan menuju ke Joglo Elang yang letaknya tak jauh dari sekolah di Nitiprayan.

Sesampainya di Joglo Elang, Nayla, Katja, Fafa, dan Citta sudah standby. Mereka bersiap membeli pernak-pernik untuk dekorasi. Saya dan mamanya Nayla, Bu Etik, pun mengantar mereka belanja kebutuhan pesta ulang tahun itu.

Ternyata, mereka patungan tidak hanya untuk membeli kue. Tapi juga hiasan, lilin, dan tentu saja kado ulang tahun. Saya mbatin, waduh ini anak-anak urunan uangnya dari mana ini. Saya jadi merasa tidak enak dengan orang tua mereka. Karena ternyata mereka menyisihkan uang saku dan tabungan yang mereka punya untuk urunan kepanitiaan pesta ulang tahun itu.

Begitu selesai membeli hiasan dekorasi, kami pun menyiapkan segala sesuatunya. Fafa, Nayla, dan Citta bertugas menghias salah satu ruangan. Sedangkan Katja bertugas menulis kartu ucapan dan menyiapkan kado. Sekitar 15 menit kemudian mereka selesai. Nayla lantas mengabari suami saya, Pak Aji, kalau kami sudah ready.

Akhirnya, Rachel pun datang. Dan, taraaaaaaaa…. Selamat Ulang Tahun Rachel. Teriak Fafa, Nayla, Katja, Citta ditambah Mas Sena, Mas Elang, dan Ranu yang ikut memeriahkan suasana.

Rachel jelas senang sekali. Saya dan Aji pun merasa bersyukur bahwa Rachel memiliki teman-teman yang care. Sekadar diketahui, Fafa, Nayla, Katja, Elang, dan Sena merupakan kakak kelas Rachel yang sekarang duduk di Kelas 6. Sedangkan Ranu adalah adik kelas Rachel yang masih duduk di Kelas 3. Hanya Citta dan Nara, yang baru datang belakangan, merupakan teman satu kelasnya.

Saya lantas flashback ke masa kecil dulu. Saat duduk di bangku SD, boro-boro saya berteman dengan kakak kelas atau adik kelas saya. Kenal saja tidak. Sebab, saat masih sekolah ada semacam gap antara adik kelas dan kakak kelas. Jarang sekali kami bermain bersama di sekolah. Ya mainnya hanya dengan teman sekelas saja.

Itulah yang membedakan suasana pertemanan di sekolah yang saya rasakan dan Rachel alami saat ini. Di SALAM terdapat sebuah kesepakatan. Jaga Diri, Jaga Teman, Jaga Lingkungan. Tak hanya diikrarkan saat ice breaking di pagi hari dan saat upacara bendera saja.

Jaga diri, anak-anak diajak untuk peduli dengan apa yang dimiliki dan dirasakan. Gampangnya, jika anak mengalami sakit maka dia akan belajar bagaimana caranya mengantisipasinya, dengan minum yang banyak mungkin, atau istirahat jika memang benar-benar lelah.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Jaga teman, anak-anak diajak untuk peduli dan menghargai temannya. Simpelnya ya tidak nakal-nakalan lah. Jika ada konflik di antara mereka, maka fasilitator (sebutan guru di SALAM) akan mendengarkan persoalan mereka dari masing-masing sisi. Lantas dicari solusi bersama dengan anak yang tengah berkonflik.

Jaga lingkungan, tentu saja anak-anak diajak untuk peduli dengan alam sekitar. Tidak membuang sampah sembarangan misalnya. Mengurangi penggunaan plastik. Menjaga dan merawat tanaman, tidak menyiksa hewan dan lainnya.

Namanya kesepakatan, tentunya jargon Jaga Diri, Jaga Teman, Jaga Lingkungan ini dijalankan. Maka tak heran jika di SALAM, kita bisa melihat anak kelas besar berbaur dengan kelas kecil, bahkan bertanding futsal atau kasti bersama. Anak SMP yang sudah masuk fase ABG pun tak sungkan untuk menjaga adik-adik kelas mereka.

SALAM layaknya sebuah keluarga. Saling menjaga, saling peduli, dan saling mengasihi. Olala sahabatku… Olala kita bersaudara… kembali terngiang lirik lagu Agni Band di kepala saya, tanpa sadar saya pun lantas bersenandung.