Melihat Lebih Dekat Proses Belajar Sanggar Anak Alam

Ada sekolah tanpa aturan. Ada sekolah tanpa mata pelajaran. Ada sekolah tanpa seragam. Ada sekolah tanpa guru. Pada sebuah area di tengah persawahan di Nitiprayan, Yogyakarta, sekolah itu berada. Lalu, SEKOLAH APA INI?

Para Peramu Buku “Sekolah Apa Ini?. Foto Anang Febe

Begitu mungkin pertanyaan banyak orang usai mengetahui ada sekolah ‘aneh’ semacam itu. ‘Aneh’ karena khalayak ramai di negeri ini tidak terbiasa dengan sekolah semacam itu. Di kepala hampir seluruh manusia di Indonesia, sudah sejak lama terkonstruksi bahwa sekolah itu ya seperti sekolah pada umumnya. Ada mata pelajaran yang dipelajari. Berseragam, dan ketat dalam menerapkan aturan. Dan, sudah barang tentu ada guru. Lewat konstruksi itu, sepertinya tak mungkin bisa ada sekolah jika tak ada guru. Pun begitu dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan itu lantas berkembang dengan liar di kepala. Jika tidak ada mata pelajaran yang dipelajari, lalu apa yang dipelajari di sana? Jika tak ada guru, lantas murid-murid di sekolah itu belajar dengan siapa? Bagaimana metode belajar yang dijalani di sekolah?

Pertanyaan-pertanyaan itu berkembang semakin liar ketika saya mau tak mau mesti membandingkan sekolah ini dengan sekolah-sekolah formal yang lazim ada di negeri ini. Tentang kurikulum. Silabus. Sistem penilaian. Pembagian kelas. Metode kenaikan kelas. Dan lain-lain. Dan seterusnya.

Wahya, Tyas, Gerna. Foto Anang Febe

Adalah Sanggar Anak Alam, atau kerap disebut SALAM, sekolah di Nitiprayan yang memicu ragam bentuk pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait konsep sekolah yang mereka jalani. Dan pertanyaan-pertanyaan itu, terjawab dengan jawaban-jawaban yang bagi saya, sangat memuaskan dalam sebuah buku berjudul ‘Sekolah Apa Ini?’ yang merupakan buku terbaru yang dikeluarkan oleh penerbit Insist Press.

Dalam tataran paradigma dan ideologi, keberadaan SALAM sebagai bentuk alternatif pendidikan ideal bagi anak-anak, sekaligus kritik terhadap sistem pendidikan formal yang diberlakukan di negeri ini, sudah dijelaskan secara gamblang dan menyeluruh dalam buku berjudul ‘Sekolah Biasa Saja’ karya Toto Rahardjo, juga terbitan Insist Press. Buku ‘Sekolah Apa Ini?’ yang ditulis oleh fasilitator-fasilitator SALAM, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul usai membaca ‘Sekolah Biasa Saja’ perihal bagaimana paradigma dan ideologi SALAM yang dijabarkan dalam ‘Sekolah Biasa Saja’ diterapkan dalam proses belajar sehari-hari. ‘Sekolah Apa Ini?’ menjelaskan dengan runut bagaimana pendidikan alternatif dijalankan dalam keseharian di SALAM.

Pada sebuah desa asri di kelilingi perbukitan di wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah, desa bernama Lawen, semua ini bermula. Adalah Sri Wahyaningsih yang kerap disapa Wahya yang memulai ini semua. Titimangsa 1988, usai menimba ilmu secara langsung kepada Romo Mangun lewat pendampingan dan pengorganisasian masyarakat di tepi Kali Code, Wahya mesti hijrah ke kampung halaman Toto Rahardjo, suaminya di Desa Lawen. 

Menyadari kondisi Desa Lawen cukup terisolasi secara geografis namun berkecukupan sumber daya alam, berbekal koleksi buku pribadi miliknya, Wahya lantas menginisiasi kegiatan belajar bersama anak-anak, remaja dan orang tua di Lawen. Kelas membaca, bercerita, dan kreasi kesenian menjadi pintu masuk Wahya berkegiatan bersama masyarakat di satu pedukuhan di Desa Lawen. Di Lawen pula, nama Sanggar Anak Alam (SALAM) ditemukan oleh Wahya dan warga belajar untuk menyebut kegiatan belajar mengajar yang mereka lakukan. Memulai SALAM sejak 1988 hingga 1996, Wahya menemukan empat fondasi utama pendidikan dasar yang terus dipegang keluarga besar SALAM hingga saat ini: pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya.  

Dari Desa Lawen, Wahya mesti kembali hijrah ke Yogya dan memutuskan menetap di Nitiprayan. Kecintaan Wahya pada dunia anak dan pendidikan untuk anak-anak membikin Ia membawa SALAM ke ladang subur baru di Nitiprayan tanpa harus menutup kegiatan SALAM di Lawen. Di Nitiprayan, SALAM memulai kegiatan dengan pendampingan remaja. Selanjutnya berturut-turut menginisiasi kegiatan Kelompok Bermain (KB), Taman Anak (TA), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA).

Lantas, bagaimana sekolah itu berjalan jika tanpa mata pelajaran? 

SALAM memandang, pengotak-kotakan mata pelajaran membatasi insting anak dalam mengeksplorasi dan memperoleh pengetahuan. Anak dipaksa menelan pengetahuan yang sebenarnya tidak terlalu penad (relevan) atau bahkan tidak mereka butuhkan. Di lain pihak, anak juga tidak punya kesempatan mendalami pengetahuan dan keterampilan yang dianggap “tidak penting” oleh institusi pendidikan (hal 99-100).

Saya mutlak sepakat dengan ini. Misal, apa relevansi mengetahui diameter bumi, pemisahan kekuasaan dalam negara dalam wujud eksekutif, legislatif dan yudikatif, bilangan prima pada matematika, bahkan menghafal nama-nama menteri kabinet yang sudah lama bubar bagi kehidupan sehari-hari anak-anak usia sekolah dasar. Mereka semua belum butuh itu atau bahkan sama sekali tidak butuh itu, namun, beberapa mata pelajaran di sekolah formal mengajarkan itu, dan anak-anak mesti menghafal semua tanpa mereka ketahui apa manfaatnya. 

SALAM dengan berani menghilangkan seluruh mata pelajaran untuk diajarkan di sekolah dan menggantinya dengan riset-riset yang relevan dengan jenjang usia anak-anak SALAM dan terutama sesuai dengan minat dan bakat mereka. Riset-riset itu dilakukan baik secara berkelompok maupun riset-riset individual yang merangsang anak-anak SALAM tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Dari riset-riset yang dilakukan tersebut, diskusi terbangun, interaksi setara antara murid dengan narasumber riset serta fasilitator yang memfasilitasi riset terjadi. Semua ini sulit ditemui bahkan sama sekali tidak ada dalam sekolah formal yang ada saat ini. 

Lantas bagaimana jika riset-riset yang dilakukan oleh anak-anak SALAM mengalami kegagalan? SALAM membangun ekosistem belajar yang menjadikan kegagalan-kegagalan riset itu sebagai sesuatu yang lumrah, wajar, dan menjadikan kegagalan-kegagalan itu sebagai wadah baru untuk belajar bersama. Bahkan kerap kali kegagalan-kegagalan riset itulah yang ditunggu warga belajar di SALAM, karena dari kegagalan itu muncul diskusi-diskusi baru dan pelajaran-pelajaran tambahan yang menyenangkan. Di SALAM, sebuah proses pembelajaran begitu dihargai dan dicintai, bukan hasil akhir yang menjadi satu-satunya patokan. Ini jelas berbeda dengan sistem pendidikan formal yang diterapkan di negeri ini. Keberhasilan adalah mutlak. Mesti berhasil. Harus mendapat nilai tinggi. Jika tidak begitu, pelabelan-pelabelan menyakitkan bagi anak-anak mesti diterima. Bodoh! Bermasalah! Tertinggal! Dan label-label penghukuman yang membikin anak-anak minder.

Di saat sekolah-sekolah formal yang berkembang di negeri ini berlomba-lomba melakukan penyeragaman hampir di segala hal. Mulai dari pakaian, pelajaran yang dipelajari, standar nilai yang ditetapkan, hingga isi kepala bahkan sampai isi hati murid-murid di sekolah, SALAM memilih pendekatan yang berbeda sekaligus sebagai kritik keras terhadap penyeragaman yang diterapkan dunia pendidikan di negeri ini lewat legitimasi otoritas di bawah dinas pendidikan.

Sebagai sekolah yang memerdekakan, memanusiakan manusia, bentuk pengekangan lewat penyeragaman menjadi haram dan terlarang di SALAM. Untuk pakaian, tak ada seragam sama sekali. Silakan memakai pakaian apa saja ke SALAM selama mematuhi kaidah kesopanan dan kerapian yang disepakati, dan dirasa nyaman oleh seluruh warga SALAM. Selain meniadakan mata pelajaran yang seragam dan menggantinya dengan riset, riset yang dilakukan anak-anak SALAM juga tidak seragam. Riset dipilih dan dirancang sendiri oleh anak-anak SALAM lewat fasilitasi para fasilitator SALAM. 

Selain riset, dengan meniadakan mata pelajaran di tiap jenjang pendidikan di SALAM, wadah-wadah baru sebagai sarana belajar diciptakan lewat kesepakatan bersama. Ada kunjungan keluarga, perjalanan pendek, dan proses live-in yang mesti dilakukan seluruh murid secara periodik sesuai kesepakatan. Selain itu, kegiatan makan kudapan di jam rehat dan makan siang bersama usai proses belajar juga dijadikan wadah belajar bersama-sama.

Jika di sekolah-sekolah formal, interaksi orang tua murid dengan sekolah sebatas peran-peran transaksional semata, membayar uang pendaftaran, membayar uang sekolah, dan pembayaran-pembayaran lain yang dibebankan sekolah kepada anak, atau dipanggil ke sekolah jika anak bermasalah, atau ketika masa pengambilan rapor, tidak begitu dengan peran orang tua murid di SALAM. Orang tua terlibat langsung dan menjadi salah satu kunci proses pembelajaran anak-anak di SALAM. Selain terlibat secara langsung dalam proses belajar sehari-hari, orang tua secara bergiliran juga wajib memberikan materi ketika kunjungan keluarga berlangsung. Ketika SALAM kekurangan dana, orang tua berperan aktif menginisiasi bermacam kegiatan untuk penggalangan dana.

Salah satu jebakan utama dalam sistem pendidikan formal adalah peran guru bak dewa yang tak bisa salah. Anak-anak murid seolah menjadi objek semata, laiknya ember kosong yang bebas diisi apa saja oleh guru dengan dalih pengetahuan. Ini lazim disebut pendidikan bergaya bank. SALAM menerapkan pendidikan yang merdeka dan penuh kesetaraan. Murid-murid menjadi subjek pendidikan, pun begitu dengan orang tua murid, dan fasilitator. Ketiadaan guru di SALAM diganti dengan fasilitator. Mereka adalah sukarelawan yang merasa cocok dan se-ideologi dengan apa yang sudah dipraktikkan selama ini di SALAM.

Tak seperti guru yang dianggap serba tahu dan bisa memperlakukan murid sekehendaknya, fasilitator di SALAM berperan lebih kepada pendampingan terhadap anak-anak dalam proses belajar. Mereka menjadi rekan diskusi, rekan berkeluh-kesah, dan menjalin hubungan yang menuntut kesetaraan di antara seluruh warga belajar SALAM. 

Lalu, apa jadinya jika semua itu berjalan tanpa aturan?

Ya, SALAM memang menerapkan sistem pendidikan tanpa aturan. Aturan yang biasanya mengikat dan dibuat oleh satu pihak untuk menertibkan pihak lain tanpa pernah meminta persetujuan pihak lain itu. Aturan yang selalu beriringan dengan hukuman jika aturan-aturan itu dilanggar. SALAM tidak menerapkan itu sama sekali. Aturan-aturan diganti dengan kesepakatan-kesepakatan. Kesepakatan dibuat bersama-sama di setiap kelas dengan difasilitasi oleh fasilitator. Tak ada hukuman juka kesepakatan itu tidak terpenuhi. Gantinya, ada konsekuensi yang pada akhirnya lagi-lagi menjadi pelajaran bersama bagi warga belajar.

Apa yang terjadi di SALAM, saya kira sebuah bentuk perlawanan paling nyata terhadap sistem pendidikan formal yang mengekang, melulu menuntut hasil akhir tanpa menghargai sebuah proses dengan layak, mengalienasi murid-murid dari lingkungan sekitar, dan memaksa menyeragamkan murid-murid sejak dari pakaian hingga isi kepala dan isi hati mereka. SALAM menawarkan pendidikan yang membebaskan. Menyesuaikan dengan minat dan bakat anak-anak. Membumi dan kontekstual. Dan pendidikan yang lebih berpihak pada proses dengan buah tanggungjawab, kejujuran, solidaritas, serta peka terhadap lingkungan. Sesuai dengan semboyan mereka: jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan.

Lebih jauh lagi, lewat hasil bacaan saya terhadap buku ‘Sekolah Apa Ini?’ dan buku sebelumnya ‘Sekolah Biasa Saja’, saya berkesimpulan, SALAM tak hanya membangun sistem pendidikan alternatif yang relevan dan memerdekakan. SALAM membangun sebuah komunitas, sebuah kolektif bersama antara murid-murid, orang tua murid, dan fasilitator. Komunitas dan kolektif yang merdeka, berdaya, dan mampu menyongsong kehidupan dengan gembira lewat sudut pandang yang segar khas SALAM. 

Maka, jika ada yang bertanya perihal SALAM dengan pertanyaan SEKOLAH APA INI? Saya akan menjawab dengan meminjam pernyataan Pak Roem Topatimasang pada epilog buku ‘Sekolah Apa Ini?’. Ini sanggar. Bukan sekolah! Sanggar Anak Alam. Sanggar tempat sebuah ekosistem sehat berusaha dibentuk untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Judul Buku: Sekolah Apa Ini?

Penyusun: Gernatatiti; Karunianingtyas Rejeki; Sri Wahyaningsih

Editor: Bambang Wisudo

Penerbit: Insistpress

ISBN: 978-602-0857-84-8

Edisi: Cetakan pertama, Juni 2019

Kolasi: 14 x 20 cm/xviii + 240 halaman