Mendirikan Sekolah Baru

Kini kita hidup dalam suatu zaman yang padat dan cepat dengan perubahan-perubahan, suatu zaman lahir temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan, teori dan metoda serta permasalahan baru serta pemecahannya. Alvin Toffler telah memperingatkan kita bahwa peningkatan dan kemajemukan kehidupan abad ini telah pula meningkatkan dan menghasilkan banyak kegoncangan budaya dan kepelikan yang luar biasa. Oleh karena itu, kita harus menemukan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan kita dalam memilih secara cepat dan tepat yang benar-benar menjadi keinginan dan kebutuhan kita. Maka harus belajar bagaimana membuat berbagai keputusan dan melaksanakannya, dalam kaitannnya dengan orang-orang lain yang dipengaruhi oleh keputusan itu. Keadaan ini telah melahirkan pertanyaan akan tujuan pendidikan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusiawi.

Perubahan Tujuan Pendidikan

Pada umumnya teori pendidikan di dasarkan pada anggapan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mengalihkan keseluruhan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asumsi ini menyiratkan dua hal, yakni :

  1. bahwa jumlah pengetahuan cukup sedikit untuk dikelola secara menyeluruh oleh sistem pendidikan.
  2. bahwa kecepatan perubahan yang terjadi dalam tata-budaya atau masyarakat cukup lamban sehingga memungkinkan untuk menyimpan pengetahuan dalam kemasan tertentu serta menyampaikannya sebelum pengetahuan itu sendiri berubah.

Kedua asumsi tersebut sudah tak berlaku lagi di abad ini. sekarang kita hidup dalam zaman peledakan pengetahuan yang menimbulkan perubahan-perubahan sedemikian cepat. Kecepatan dan banyaknya perubahan dalam masyarakat tersebut telah menimbulkan pertanyaan yang meragukan “teori pengalihan pengetahuan” melalui sekolah. Daripada sekadar mengalihkan yang kita ketahui, maka barangkali tujuan kita yang sesungguhnya adalah menumbuhkan dorongan dalam diri peserta didik keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui.

Doc: SALAM

Jika rumusan terakhir ini disetujui, maka ada dua konsekuensi yang akan menyertainya, Pertama, sekolah tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang terutama diperuntukkan bagi kanak-kanak. Kedua, tanggung-jawab untuk menetapkan apa yang harus diajarkan dan yang akan dipelajari beralih dari tangan guru ke tangan murid. Karena pendidikan, sebagai suatu proses seumur hidup, dengan demikian akan mampu memenuhi kebutuhan kita dan pengalaman kita yang terus berubah.

Pertimbangan lain yang mempengaruhi pendapat bahwa pendidikan adalah kegiatan yang berkelanjutan terus menerus sesudah masa kanak-kanak adalah bahwa hidup itu sendiri adalah pengalaman pendidikan. Confusius pernah menekankan pentingnya arti belajar dari pengalaman ketika ia menyatakan :

“saya dengar dan saya lupa”

“saya lihat dan saya ingat”

“saya lakukan dan saya paham”

“saya temukan dan saya kuasai”

Pernyataan itu tersirat bahwa pemahaman dan pengetahuan secara langsung memang berkaitan dengan kehidupan dan pengalaman keseharian. Pendidikan sebagai suatu proses seumur hidup dengan demikian berlangsung sepanjang kegiatan manusia yang dilakukan secara sadar. Proses itu tidak selesai setelah tamat sekolah. Setiap yang kita lakukan selalu mengandung unsure belajar. Apa yang kita pikirkan dan lakukan di masa lalu dan apa yang kita lakukan pada saat ini serta apa yang rencanakan untuk masa mendatang, semuanya menunjukkan proses belajar dengan cara melakukannya sekaligus. Mungkin saja kita tidak melihat hal itu sebagai “pengalaman belajar” atau sebagai suatu situasi belajar, justru karena pemahaman kita telah dibatasi oleh pandangan yang sempit bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya belajar setiap saat. Oleh karena itu apa yang kita butuhkan adalah suatu proses pendidikan yang dapat membantu kita menghasilkan pengetahuan dari situasi kehidupan yang kita alami dalam kegiatan sehari-hari. Belajar dari pengalaman kehidupan, karenannya, merupakan sesuatu yang sangat penting pada saat ini. Bahwa pendidikan itu sendiri adalah proses berulang tanpa henti untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

Doc: SALAM

Masalah-masalah sosial yang kita hadapi saat ini, seperti tindak kejahatan, kekejaman,  kemiskinan, masalah narkotika, dan sebagainya adalah jauh lebih banyak dan lebih gawat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Dengan demikian terdapat kebutuhan yang lebih besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut melalui proses pendidikan ulang (re-education). Pendidikan ulang, sebagai suatu proses, tidak hanya mempengaruhi unsur-unsur kognitif (fakta, konsep, keyakinan), tetapi juga mengubah nilai-nilai (minat, perasaan, sikap). Pendidikan  ulang menjadi lebih efektif, tidak hanya melalui ungkapan lisani, tetapi juga melibatkan perubahan dari anutan nilai-nilai lama ke anutan nilai-nilai baru, serta penghayatan perilaku baru yang mempertegas anutan nilai-nilai tersebut. Terdapat dua prasyarat mutlak bagi berhasilnya proses pendidikan ulang ini. Pertama, seseorang  harus terlibat secara aktif  bersama orang lain dalam menemukan kekurangan dirinya dan bersama orang-orang lain tadi ia berusaha menemukan cara untuk memperbaiki dirinya. Kedua, harus ada jaminan kemerdekaan kepada setiap kelompok untuk menerima atau menolak nilai-nilai  baru yang diperkenalkan. Karena itu, proses pendidikan ulang sebagai suatu cara mengatasi konflik sosial menjadi hal yang sangat penting bagi proses pendidikan berkelanjutan untuk masyarakat saat ini.

bahwa proses belajar itu sendiri adalah pemahaman tentang bagaimana caranya belajar. Disampingnya belajar dari pengalaman dan mengalami proses pendidikan ulang untuk mengatasi konflik-konflik sosial, maka kita pun harus memahami dan menguasai cara bagaimana proses belajar itu sendiri berlangsung. Setiap orang di antara kita sangat diharapkan agar dapat melaksanakan peranannya masing-masing dengan baik di tengah masyarakat dan dalam komunitas dimana kita hidup. Jika kita tidak mampu melakukan hal itu dengan baik, berbagai konsekuensi tertentu akan segera kita tanggungkan pada diri kita. Kita tidak lagi sepenuhnya dapat menjalankan peranan sebagai peserta didik dalam lembaga-lembaga pendidikan formal, karena padatnya waktu yang kita butuhkan untuk peranan lain. Oleh karena itu, kita membutuhkan suatu bentuk proses belajar tentang cara belajar yang tepat bagi diri kita.