Merdeka Sejak Dalam Pendidikan

(Catatan tentang Gendhis, Dari Ndimun & Aurel)

Dear SALAM,
Merdeka!

Anak adalah titipan Tuhan. Tugas pertama sebagai orang tua adalah memberi pendidikan/pembelajaran.

Kepada sekolah sebuah tempat belajar yang di sana fasilitas pendidikan itu diberikan, anak anak dititipkan, agar belajar selain dari orang tua masing masing

SALAM Nitiprayan, mempertemukan berbagai semangat, beragam kemungkinan yang orang tua ingin berikan kepada anak anaknya. Berbagai aktivitas yang mendorong pendidikan itu maju setahap demi setahap.

Demi pendidikan itu sendiri, setidaknya pendidikan tidak hanya berhenti disana, namun seumur hidup bagi anak anak nantinya.

Merefleksikan pendidikan di SALAM, tak ubahnya merefleksi diri kita masing masing, orang per orang, keluarga per keluarga.

Banyak Alasan masing masing mengapa menyekolahkan anaknya ke SALAM, barangkali yakni agar anak bisa mencari temannya sendiri, kemudian mencari relasinya, misal dengan lingkungan, fasilitator, kemudian dari antar orang tua, dan yang tak kalah penting mencari ilmu.

Sejak dini, anak anak harus dikenalkan kepada alam, mengenalkan pada lingkungan sekitar sekolah, pada konsep konsep pembelajaran yang membumi, yang mengajarkan realitas sangatlah penting agar anak anak mengenal buminya sendiri.

Setiap anak juga diajarkan bagaimana menjadi dirinya sendiri, menjadi apa yang diinginkan dengan mengetahui kekuatan dan kekurangan pada dirinya sendiri, mau belajar memeras keringat dan juga daya pikir, supaya anak anak menemukan cita citanya kelak.

Tuhan telah menitipkan anak anak kita. Sebagai anugerah terindahNya, kita tidak mungkin memilih bentuk rambut, hidung, mata dan lain sebagainya seperti apa yang kita inginkan, namun itu anugerah Yang Maha Kuasa. SALAM adalah upaya kita bersama untuk menjaga anugerah itu.

Anak anak mungkin ada yang tumbuh berkembang dengan baik, ada yang punya keistimewaan tersendiri, ada yang belum cukup mengikuti. SALAM, Sebagai zona penyangga bagi keseluruhan anak anak didik.

Paradigmanya adalah anak anak yang membangun SALAM, bukan SALAM membangun anak anak. Untuk itu, yang terpenting adalah anak anak itu sendiri yang menyukai sekolahnya, mereka senang dengan sekolah SALAM, lalu orang tua dan warga sekitar sekolah ikut senang dengan adanya sekolah SALAM, lalu orang orang luar daerah akan ikut senang dengan SALAM.
Karena itulah, kita mendorong SALAM menjadi sekolah yang menyenangkan.

Namun, bukan tanpa perjuangan menuju cita cita itu. Setidaknya, ada kemerdekaaam sejak dalam pendidikan. Merdeka dalam makna belajar menjadi manusia seutuhnya.

Bangunjiwo, 30 Agustus 2019