NUSANTARA KECIL

Sabtu, 10 November 2018 Pasar Ekspresi #13 berhasil terlaksana dengan meriah dan lancar. Waktu persiapan yang cukup singkat, tak menyurutkan semangat para pengurus baru OAS (Organisasi Anak SALAM) untuk menggelar Pasar Ekspresi #13. Tepatnya, mulai dari pemilihan tema pasar, publikasi hingga persiapan kelengkapan pasar, hanya memakan waktu tak lebih dari 10 hari. Kerja cepat tim OAS dan para orangtua yang turut mendukung dibalik pelaksanaan pasar patut untuk diapresiasi.

OAS (Organisasi Anak SALAM) Penyelenggara Pasar Ekspresi #13 Foto; anang Istiawan

Sejak pelaksanaannya yang kesepuluh, Pasar Ekspresi telah dikelola secara mandiri oleh OAS. Pasar kali ini dikelola oleh kepengurusan OAS angkatan kedua, dimana anak-anak kelas 5 SD telah dilibatkan sejak pembentukan kepengurusan OAS bulan lalu. Tentang pengalaman perdananya mengurus Pasar Ekspresi, Happy, siswa kelas 10 SMA SALAM yang baru bergabung di SALAM semester ini berujar, “Seru, Bu. Ngurus ini itunya tuh ribet, tapi santai. Hampir semua anak yang jadi panitia sudah bisa bekerja sesuai pos masing-masing.”

Sena, siswa kelas 7 SMP SALAM yang kali ini berperan sebagai lurah/ ketua pelaksana pasar, menyatakan kesulitan terbesar yang dialami panitia adalah cuaca. Memang, sejak beberapa hari sebelum pelaksanaan pasar, Jogja diguyur hujan hampir setiap hari. Begitu juga pada Jumat, sehari sebelum pelaksaan pasar, hujan bahkan turun tanpa henti sejak jam pulang sekolah. Lapangan sekolah yang berubah menjadi genangan besar, menyulitkan panitia saat harus menata meja-meja lapak. Penataan meja lapak baru bisa terlaksana pagi harinya, sesaat sebelum pasar dimulai.

Sena, siswa kelas 7 SMP SALAM berperan sebagai lurah Pasar Ekspresi #13 Foto Anang

Beberapa menit sebelum panggung usai Sabtu siang, hujan juga kembali mengguyur. Lagi-lagi halaman sekolah menjadi kurang kondusif. Namun hal tersebut tak mengurangi semangat para penampil. Bahkan beberapa anak tampak berlarian girang karena menemukan halaman sekolahnya menjelma kolam raksasa. Makin riang karena musik live mengalun mengiringi kegembiraan mereka.

Meski waktu persiapan yang relatif singkat, namun semua kelas, kecuali kelas 11, unjuk diri di atas panggung. Begitu juga dengan anak-anak dari SEKAR (Sekolah Akar Rumput). SEKAR adalah sekolah merdeka yang diinisiasi oleh orangtua dan fasilitator dengan menginduk sistem belajar SALAM. Sejak diinisiasi tahun ajaran lalu, SEKAR selalu terlibat dalam setiap helatan Pasar Ekspresi. Penampilan dari anak-anak SEKAR pun tak kalah unik. Pasar Ekspresi kali ini SEKAR tampil sesuai tema, dengan menampilkan tarian tradisi dan menyanyikan lagu-lagu Nusantara.

Anak-anak SEKAR (sekolah Akar Rumput) siap-siap tampil

Kemeriahan panggung Ekspresi memang selalu unik. Usaha semua anak dan fasilitator tiap kelasnya untuk tampil secara maksimal dan sesuai tema, selalu menghadirkan kekaguman tersendiri bagi pengunjung. Seperti yang dilakukan kelas 4, yang menampilkan medley lagu-lagu daerah dengan sisipan rap dengan membawa poster-poster raksasa bergambar peta Indonesia.

Selain penampilan dari kelas-kelas, tampil juga band-band yang berisikan anak-anak lintas kelas, seperti Bandanas dan Air Band. Sementara Anatha, siswi kelas 10 SMA SALAM, tampil solo dengan membawakan lagu ciptaannya sendiri. Seperti biasa, orangtua tak mau kalah. Dara Jelita, kelompok tari yang berisikan ibu-ibu turah energi, dan grup musik dadakan yang digawangi para bapak-bapak dengan menggaet pak Karel sebagai vokalis, turut memeriahkan panggung.

Tak hanya warga belajar SALAM yang memeriahkan panggung Ekspresi kali ini. Jono Terbakar, kelompok musik happy-metal yang dihidupi oleh Nihan Lanisy sejak 2013, turut tampil. Jono, begitu Nihan kerap memperkenalkan dirinya, hadir di Pasar Ekspresi dengan memboyong keluarga kecilnya dan tampil solo dengan membawakan 4 lagu.

Jono Terbakar

Cadas, siswi kelas 7 yang menjadi penanggung jawab panggung, sangat antusias dengan helatan Pasar Ekspresi #13. Saat saya bertanya tentang suka dukanya menjadi pengurus Pasar Ekspresi, Cadas berujar, “Seru, Bu. Ini pertama kalinya aku terlibat jadi panitia sebuah kegiatan. Di sekolahku dulu semua acara diurus sama orangtua dan guru-guru. Tapi capek juga, karena yang mendaftar untuk tampil nambah terus. Aku sama Rachel sampai harus mengganti rundown sampai lebih dari 5 kali.” Selain mendata penampil, seksi acara memang harus memastikan semua kebutuhan panggung dari para penampil terkonfirmasi untuk selanjutnya diteruskan ke bagian seksi perlengkapan.

Tak hanya panggung saja yang riuh. Lapak-lapak pasar, yang untuk pasar kali ini menyediakan 25 lapak, juga penuh atensi. Baik dari penjual maupun pembeli. Beberapa lapak adalah lapak mandiri yang disewa oleh perseorangan. Namun tak sedikit sebuah lapak dijadikan ajang kolaborasi. Seperti lapak orangtua TA yang menjual mulai dari beragam olahan jamur, jelly pelangi, pin hingga t-shirt dengan sablon karya anak. Selain itu tampak pula beberapa lapak yang disewa oleh anak dari berbagai kelas dengan menjual produk-produk pangan sehat. Selain keuntungan hasil penjualan bisa menjadi tambahan kas kelas, lapak-lapak ini juga tanpa disadari menjadi ajang pembelajaran ekonomi bagi anak-anak yang menjadi pengelolanya.

“Wah, jadi di SALAM anak-anak juga disuruh belajar wirausaha dengan praktek langsung ya, Mbak? Seru banget!” ujar salah satu kawan saat mendengar rencana anak-anak kelas 10 akan berdagang. “Enggak disuruh, kok. Mau-mau mereka sendiri,” jawab saya.

Kegiatan yang pelaksanaannya digawangi oleh anak-anak sendiri sebagai pelaksana, baik dalam konsep hingga pelaksana lapangan, memang masih jarang ditemui. Selain belum tumbuhnya inisiatif, anak-anak yang diharapkan menjadi pelaksana mungkin juga berpikir, “Buat apa susah-susah bikin acara?” Namun para pembelajar cilik yang menjadi panitia Pasar Ekspresi #13 ini telah menemukan manfaat dari segala kerepotan yang harus mereka lalui demi terlaksananya acara dengan lancar.

Seperti Rere, siswi kelas 11 SMA SALAM, yang berperan banyak untuk urusan desain. Lewat perancangan logo event, Rere belajar mengeksekusi gagasan menjadi visual. Baik untuk poster acara maupun desain untuk lapak sablon. “Karena temanya ‘Nusantara’ to, Bu, awalnya aku mau bikin desainnya itu seperti pulau-pulau gitu. Terus membentuk tulisan ‘Nusantara’. Tapi ternyata susah padahal waktunya udah mepet. Jadinya ya aku tulis aja, ‘Nusantara’ terus ditambah gambar-gambar ikon yang khas Indonesia,” kata Rere saat berkisah tentang desain logo event kali ini. Rere juga berpendapat, pasar kali ini lebih seru dari pasar sebelumnya. Terutama karena adik-adik kelasnya yang duduk di kelas 5 SD telah bergabung menjadi panitia.

Satu hal lagi. 30-an anak yang terlibat sebagai panitia pasar, belajar kemandirian tak hanya dalam tataran pelaksana. Meskipun Pasar Ekspresi kali ini menjadi ajang belajar anak dan dilaksanakan di lingkungan sekolah, namun pendanaannya murni tanpa subsidi, baik dari sekolah maupun forum orangtua. Belajar dari pengalaman dua Pasar Ekspresi sebelumnya yang sempat merugi, pasar kali ini berjalan mandiri secara finansial. Pos-pos penyumbang dana menjadi lebih diperhatikan dan dikelola secara lebih rapi. Pasar Ekspresi yang saat menjadi gawe orangtua menjadi ajang penggalangan dana, kini dikelola anak sebagai ajang pembelajaran untuk pelaksanaan acara yang mandiri, baik secara konsep maupun finansial.

Menurut Imung, siswi kelas 10 yang pada kepanitiaan kali ini berperan sebagai bendahara, keuangan pasar kali ini cukup baik. “Hitungan mentahnya sih lumayan, ada keuntungan. Tidak seperti tahun lalu yang harus tombok, kali ini lebih baik. Ada untung walau sedikit.”

Inisiatif, adalah satu hal yang sulit ditemui pada anak-anak remaja. Namun SALAM beserta seluruh warga pembelajarnya telah membuktikan, bahwa dengan cara belajarnya yang unik, inisiatif dapat tumbuh tanpa dipaksa. Sepertinya kami, para orangtua, harus segera merancang agenda kegiatan lain untuk penggelangan dana. Karena rupanya, anak-anak ini sudah tidak puas lagi kalau hanya bermain pasar-pasaran. Semoga hasil belajar mereka di ‘Nusantara kecil’ kali ini menjadi bekal bagi perjalanan hidup mereka yang masih luas terbentang. []