Pasar Simbok

Didasari kerja kolektif dalam rangka penggalangan dana untuk  membantu kebutuhan Sekolah yang diinisiasi sepenuhnya oleh Orang tua SALAM—terbentuklah tim yang segera bergerak.

Foto: Mimi.

Dimulai dari gagasan dari orang tua murid, salah satunya adalah Pasar Simbok. Tujuan dibentuknya tim pelaksana pasar tersebut, yakni memanfaatkan usaha dari warga SALAM untuk distribusi pemasaran—sasaran pemasaran yang utama yakni warga SALAM sendiri, selebihnya dari mulut ke mulut mengajak teman, saudara atau warga sekitar untuk menjadi pembeli. Produk yang ditawarkan cukup bervariasi mulai dari kebutuhan pokok hingga bumbu dapur pokoknya lengkap tidak kalah dengan Supermarket yang berada dihampir tiap ruas jalan besar—diantaranya beras makanan organik mulai dari beras merah, telur organik, telur omega 3, sayur dan buah, gula pasir, kopi, minyak goreng, gula jawa, bawang merah, bawang putih. Tak ketinggalan juga aneka hidangan yang siap dikonsumsi dari mulai telur asin, bawang merah goreng, jamu kunir asem, yoghurt serta hidangan harian siap konsumsi yang dikelola tim Pasar Simbok.

Gelora Pasar Simbok

Selain kebutuhan makanan sehari-hari, juga pakaian, awul-awul atau baju bekas layak pakai juga tersedia disana tentunya dengan harga yang terjangkau. Juga ada media perawatan wajah, misalnya masker kefir terbuat dari susu kambing. Setiap Kamis pasar simbok digelar mulai jam 12 siang hingga pengunjung sepi. Terletak didepan kelas Taman Anak, para simbok siap menggelar dagangannya untuk beberapa waktu . Beberapa hari sebelumnya dibuka PO ( Pre Order ) untuk masing-masing produk yang ditawarkan dengan  penanggung jawab yang sudah ditunjuk. Tehnisnya, setiap warga yang ingin berbelanja bisa memesan lewat WA ke nomor yang ditunjuk kemudian pada hari Kamis, bisa mengambil di pasar simbok sekaligus membayar ( COD = Cash On Delivery ).

Foto: Mimi.

Selain barang yang sudah terpesan siap diambil dan dibayar, pada saat pasar digelar tersedia aneka titipan hasil karya orang tua murid yang ditawarkan.  Misalnya hasil panenan petani sekitar bisa berupa sayuran dan buah-buahan, cabe rawit panenan hari itu tersedia juga disana. Harga mengikuti pasar pada saat berlangsung. Dan hebatnya lagi, animo dari warga SALAM cukup antusias. Hampir setiap pasar digelar penjualan yang kita dapatkan melampaui target yang ditetapkan. Bersyukurnya lagi produk yang ditawarkan semua dari titipan warga SALAM.

Terlibat secara aktif dalam sebuah komunitas belum pernah saya alami, Apalagi diterima menjadi satu keluarga di SALAM. Menjadi bagian dalam sebuah keluarga memang menyenangkan—Apalagi bagi saya  yang datang dari luar daerah. Awal mendapat tawaran dari Bu Wahya menjadi tim dapur, saya menyambut tawaran tersebut dengan sedikit bimbang. Beberapa pertanyaan sempat  hinggap memenuhi kepala. Mampukah melakukan hal sebesar ini, disisi lain belum pernah menyediakan masakan untuk banyak orang. Berbekal sedikit nekad  ( Bonek = Bondo Nekad ) mulai mengeksplor apa yang saya bisa.

Ide awalnya entah dari mana, tiba-tiba terbentuk Kantin Simbok dan kini gaungnya memenuhi warga SALAM. Mengingat pasar simbok hanya digelar seminggu sekali, muncul sebuah gagasan untuk menambah pendapatan harian. Anggapan bahwa Fasilitator cuma ada di kelas-kelas saja itu salah. Ternyata menjadi Fasilitator bukan melulu berhadapan dengan anak-anak atau usia pelajar. Dan kenyataan itu saya temui di dapur SALAM.

Bukan bermaksud sok-sokan, tapi seperti yang sering saya dengar dan saya baca belajar bisa dimana saja. Saya akhirnya mau tidak mau terlibat dalam hiruk-pikuk mulai menyiapkan hingga menjadi sebuah hidangan.

Disitu sebenarnya saya banyak belajar. Menjadi bagian dari mereka, membutuhkan lebih banyak mendengar dan melihat. Dengan mendengar, melihat dan terlibat, saya akhirnya bisa mempelajari pada bagian mana saya harus berperan.

Melihat satu orang yang handal memasak, dan satu orang lagi yang harus didampingi setiap hari. Saya terpanggil untuk berbagi peran dengan mereka. Jadilah kami tim yang solid sekarang.

Kalau ada istilah We make the road by walking  itu yang sedang kami jalankan. Memanfaatkan energi satu orang yang bingung kalau tidak ada yang dikerjakan, dan yang satunya menunggu untuk diberi perintah untuk satu pekerjaan. Tercipta alur atau ritme di dapur. Pembagian porsi kerja dengan sendirinya tercipta tanpa gejolak. Dengan kesadaran sendiri mereka ambil bagian peran apa yang bisa dilakukan.

Foto: Mimi.

Hasilnya hampir tidak pernah terjadi ketegangan didalam ruangan ini. Ruang yang tidak terlalu luas, membuat kami semakin dekat. Pembagian porsi peran yang pas, membuat kami nyaman.

Coba kita bayangkan, seandainya setiap orang diberi porsi yang cukup untuk berperan pasti mereka akan merasa diberi kesempatan yang sama, apalagi kalau semua anak mendapatkan kesempatan yang sama, pastilah keberadaannya sungguh berarti, disitu sebenarnya sebagai orang dewasa atau seorang fasilitator masuk untuk memberikan ruang.

Jika mengerjakan bersama meringankan, mengapa kita tidak mencoba memberikan peran.

Dan hasil dari berbagi peran tersebut kita sudah menghasilkan beberapa hidangan yang bisa dijual. Saya pun terpanggil berbagi peran untuk menawarkan hasilnya.

Sasaran pemasaran tidak perlu harus jauh-jauh keluar. Cukup memanfaatkan orang tua yang harus menunggu teman-teman kecil berkegiatan, hingga tidak sempat masak di rumah. Menu harian masakan siap santap hadir tiap hari di Kantin Simbok.

Dan tak tanggung-tanggung, dari tim Pasar Simbok dan Kantin Simbok kita mendapat keuntungan penjualan untuk dikumpulkan sebagai penggalangan dana. Semoga kita tetap bisa berkarya bukan untuk mencari keuntungan pribadi tetapi lebih memberi contoh kepada teman-teman kecil. Menjadi bagian sekecil apapun bila dilakukan bersama bukan tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain juga masyarakat sekitar—dan tentunya lewat tulisan ini, kita menghimbau warga SALAM yang belum sempat berbagi peran untuk mencoba dari hal kecil. Mari kita bahu membahu mewujudkan mimpi kita bersama.