Puncak Pertamaku

Berbagai tanda pada akhirnya menjadikan 4 orang remaja dengan semangat menggebu, keingintahuan tinggi, menemani saya kembali. Mereka mengejutkan saya. Para gamers ini, secara naluriah saling mengingatkan, saling menjaga dan melindungi, mengatur langkah dalam rima. Padahal, apa yang mereka hadapi di atas sana, melebihi batas kemampuan mereka sehari-hari. Dari hujaman lapar, dingin, lelah, terjangan emosi, belum lagi angin yang melimbungkan tubuh.

Shirley Argasetya
Sang Mentor

Kamis 24 Oktober 2020

Ini cerita tentang pengalaman pertamaku mendaki di Gunung Lawu. Di pendakian ini aku bersama 4 orang temanku, yaitu Dylan, Abram, Sufi, Bindi yang adalah ibu dari Dylan sekaligus mentor kami. Kami berangkat dari Jogja tanggal 24 Oktober jam 12.30 siang, dengan kendaraan mobil Avanza yang kita sewa, menuju ke basecamp Cemoro Kandang yang terletak di perbatasan antar Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sesampainya di sana jam 15.41 sore kita langsung makan kemudian sholat dan persiapan untuk mendaki.

 Selesainya persiapan kami langsung berangkat ke pos 1. Kami baru pertama kali mendaki jadi beberapa kali kami istirahat. Aku dan Dylan yang di depan saat menuju pos 1. Saat mau sampai pos 1, langit sudah mau gelap jadi agak seram. Saat aku dan Dylan sudah sampai pos 1 langit sudah gelap jadi kita memutuskan untuk jalan berbarengan saja. 10 menit kemudian Sufi, Abram dan Bindi sampai di pos 1, kemudian kami istirahat terlebih dahulu selama kurang lebih 30 menit. 

Setelah kami siap kami langsung berangkat, perjalanan ke pos 2 itu agak terjal, jadi perjalananya lebih lama dan melelahkan. Saat perjalan kami bertemu pendaki lain yang berjumlah 6 orang, salah satunya ada yang masih kelas 3 SD yang bernama Azril. Jam 19.55 malam kami sampai di pos 2. Di pos 2 ada rumah kecil untuk berteduh, di sana kami membangun tenda. Kami dan teman-teman pendaki lain makan dan ngobrol-ngobrol. Tidak lama kemudian teman-teman pendaki lain berangkat ke pos 3, tetapi kami memilih untuk camping di dalam shelter pos 2. Setelah itu kami memasak dan memakan makanan yang kami bawa, yaitu ayam dan telur kornet. Setelah itu kami membangun 2 tenda, lalu aku Abram, Dylan, dan Sufi bermain kartu, selama kurang lebih 30 menit sembari bermain aku meminum coklat hangat. Selanjutnya kami tidur.

Jumat 25 Oktober 2020

Kami bangun jam 6. Setelah semua bangun kami memasak lagi tetapi dengan menu yang berbeda. Kali ini kami memasak telur, kornet, dan indomie. Kemudian kami membongkar 1 tenda dan meninggalkan 2 tas. Di sana ada rumah berteduh kecil dan tempatnya yang sepi, jadi kami berani meninggalkannya. Kemudian kami berangkat ke pos 3 pada jam 7.30 pagi. Di perjalanan ini yang membawa tas adalah aku, Dylan, dan Bindi karena aku, Dylan dan Bindi bawa tas jadi kami beberapa kali istirahat, sementara Abram dan Sufi jalan terlebih dahulu. 

Di perjalan ke pos 3 ini aku pribadi sangat suka dan menikmati pemandangannya, di perjalan ke pos 3 ini ada pos bayangan yang berada di tengah perjalanan. Kata Bindi perjalanan ke pos 3 ini paling melelahkan, jauh, dan terjal. Aku dan Dylan sering memakai jalan pintas, tetapi beberapa kali mengikuti burung lewat jalan yang biasa di lalui. Sebelum aku dan Dylan sampai di pos 3, kami memanggil Bindi tetapi tidak dijawab, kemudian kami memanggil Sufi, ternyata mereka menjawab. Berati kami sudah dekat dengan pos 3. Kami langsung semangat, dan langsung jalan cepat ke pos 3. Saat aku dan Dylan sampai di pos 3 tiba-tiba Abram dan Sufi langsung mengambil tas kami dan lanjut ke pos 4, padahal aku ingin memberitahu mereka untuk jalan bareng saja, tetapi karena untuk ngomong saja aku susah jadi mereka langsung lanjut. 

Kemudian aku ingat kalau air yang aku bawa habis dan persediaan air dan makan ada di tas Sufi dan Abram. Di pos 3 aku dan Dylan bertemu Azril dan ayahnya. Sambil menunggu Bindi kami ngobrol-ngobrol. Setelah Bindi sampai dan istirahat, kami langsung berangkat. Di perjalanan kami bertemu tupai dan burung, kami juga beberapa kali memakai jalan pintas. Menurutku perjalanan ke pos 4 ini yang paling susah, karena kami tidak punya makanan dan air sementara punya Bindi tinggal sedikit. Karena aku dan Dylan terlalu lapar dan kehabisan energi, kami terpaksa memakan coklat bubuk yang aku bawa. Sesampainya di pos 4 aku, Dylan, dan Bindi langsung makan dan minum yang ada di tas Abram dan Sufi. Saat aku melihat puncak Gunung Lawu aku berpikir kalau sampai puncaknya masih lama, gara-gara untuk mencapai puncak harus melewati 2 anak Gunung Lawu terlebih dahulu.

 Setelah kami selesai makan kami langsung lanjut mendaki. Selama perjalanan aku sepertinya masuk angin karena perutku mual,badanku kurang fit dan pusing karena itu aku jalannya pelan dan sering istirahat. Saat kami sampai pos 5 aku langsung sangat semangat karena puncak sudah dekat. Setelah kami istirahat beberapa saat, kami langsung naik puncak, selepas kami sampai di puncak rasa lelah seakan hilang dan badanku langsung merinding karena senangnya bisa sampai puncak. Dan ya aku berhasil mencapai puncak Gunung Lawu 3.265 meter diatas permukaan laut. Rasa lelahku berjalan selama 10 jam ini terbayarkan oleh kegembiraan bisa mencapai puncak dan melihat pemandangan yang indah

Di sana kami mengambil beberapa foto dan melihat pemandangan. Karena angin tambah kencang dan dingin, kami memutuskan untuk turun ke warungnya Mbok Yem yang sudah menjadi legenda. Di sana aku minum susu jahe dan kami makan pecel. Selesai itu kami langsung berangkat untuk turun. Setelah dari warung Mbok Yem itu badanku langsung segar dan masuk anginku hilang, karena itu jalanku jadi tambah cepat.

 Sampai di pos 4 aku dibuat sangat takut karena angin yang sangat kencang sampai bisa membuat kami jatuh, matahari yang tenggelam, dan awan yang sangat besar. Anehnya angin yang kencang itu seperti mengikuti kami, tetapi saat Sufi melepas topi yang berwarna hijau, tiba tiba angin yang kencang itu langsung hilang, kemudian kami langsung turun. Sepertinya Gunung Lawu tidak suka dengan topi yang Sufi pakai.

Sesampainya di pos 2 kami langsung packing dan bongkar tenda, kemudian kami turun. Karena terlalu lelah aku beberapa kali halu melihat gunung sangat besar di awan, mocca (peliharaanku), dan muka di tanah. Sesampainya di pos 1 kami istirahat, memakan snack, dan minum, lalu karena terlalu lelah kami tidur selama 1 jam. Walaupun cuma tidur 1 jam badan langung segar, berasa tidur 8 jam. Setelah tidur itu kami langsung turun dengan cepat ke basecamp. Sesampainnya di basecamp aku, Sufi dan Abram sholat, setelah itu kami ke mobil lalu tidur. Sampai di Jogja jam 9.30 pagi kemudian sampai dirumah jam 11.00 siang. Sekian cerita pengalaman pertamaku mendaki di Gunung Lawu.

Pengalaman pertamaku mendaki ini sangat menyenangkan dan aku sangat menikmatinya. Ada banyal hal yang kudapat di pendakian ini. Saat di atas aku jadi sadar betapa kecilnya kita di bumi yang indah ini. Perjuangan untuk ke puncak ini memang melelahkan tapi sangat terbayarkan dengan pemandangan yang indah dan bermacam-macam tanaman indah. 

Sebenarnya aku ingin naik gunung sejak lama tetapi tidak ada yang mengajak dan aku tidak tahu mau mengajak siapa. Akhirnya keinginanku tercapai pada tanggal 24 Oktober sampai dengan 26 Oktober kemarin.

Total waktu perjalanan

Naik 

● basecamp – pos 1 = 1.5 jam ● pos 1 – pos 2 = 1.5 jam ● pos 2 – pos 3 = 4 jam ● pos 3 – pos 4 = 2 jam ● pos 4 – pos 5 = 1 jam ● pos 5 – puncak = 15 menit

Total = 10 jam 15 menit

Turun 

● pos 4 – 3 = 1 jam ● pos 3 – pos 2 = 2.5 jam ● pos 2 – pos 1 = 1.5 jam ● pos 1 – basecamp = 1 jam.

Total = 6 jam