Sekolah Tempat Guru Bekerja

Ternyata sekolah di negeri kita ini memang dirancang bukan untuk belajar, tapi untuk guru bekerja. Karena belajar pada dasarnya tidak harus sekolah.

Anak SALAM Live in, belajar bersama masyarakat desa Lawen. Foto Din Setyawan

Indonesia, masalah utama adalah lemahnya sistem pendidikan. Salah satunya kualitas guru kita. Telah lama didengung-dengungkan bahwa salah satu solusi untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas ialah meningkatkan kesejahteraan guru dengan menaikkan gaji guru. Teorinya jika gurunya berkualitas juga akan berdampak pada kualitas siswa yang baik pula. Tetapi kenyataannya tidak demikian,

Siswa butuh wadah yang lebih luas untuk berekspresi dan berinovasi karena belajar itu bukan hanya dilingkungan sekolah. Lingkungan terbesar dalam proses belajar ada di lingkungan masyarakat itu sendiri termasuk keluarga karena selama-lama kita tinggal disekolah, tetap kita akan kembali ke lingkungan keluarga. Keluarga adalah pembentuk karakter yang utama bukan sekolah. Keluarga dan masyarakat adalah pembentuk karakter dan watak anak didik selama-lamanya, bukan sekolah. Siswa yang bisa belajar di lingkungan sekolah belum tentu terampil untuk menyikapi fenomena lingkungan sosial, tetapi siswa yang sudah terampil dalam menghadapi fenomena sosial, sudah tentu dia akan sukses belajar di dunia sekolah. Kedua ruang lingkup ini memiliki hubungan erat dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa.

Guru memberikan bimbingan dan pengawasan disekolah, orang tua memberikan dorongan, dan masyarakat memberikan apresiasi atas pencapaian anak didik, sepertinya sudah cukup untuk meningkatkan kualitas anak didik tanpa harus membebani pikiran dengan jam belajar disekolah. Belajar bisa dimana saja, bukan harus disekolah.

Selama ini kita menganggap bahwa sekolah dan belajar adalah sama karena disekolah kita belajar. Kalau demikian halnya, maka hatusnya setiap orang yang sudah lulus dari sekolah memiliki kemampuan yang sama—Namun kita seringkali dihadapkan pada kenyataan bahwa meskipun nilainya hampir sama namun kemampuan para lulusan ini tidaklah sama.

Perbedaan mendasar antara sekolah dengan belajar pertama ada pada peraturan, tata tertib dan kebiasaannya. Sekolah memiliki keteraturan yang lebih tinggi dibanding belajar. Misalnya, tempat, guru, waktu, materi yang sudah ditentukan oleh kurikulum. Berbeda dengan belajar dimana masalah tempat bisa dimana saja, guru bisa dengan siapa saja, waktu bisa kapan saja, materi atau topik yang dipelajari bisa apa saja. Jadi sekolah terikat oleh tempat, guru, waktu, materi yang sudah ditentukan, sedangkan belajar tidak ada batas ruang dan waktu.

Sekolah tidak hanya menjalankan target kurikulum namun lebih pada pembentukan pola pikir dan perilaku agar siswa kita menjadi insan yang cerdas dan berperilaku baik. Evaluasi untuk menilai keberhasilan sekolah perlu ditambah dengan melihat pola pikir dan perilaku lulusannya. Apabila pola pikir dan perilaku lulusan kita baik maka bisa dipastikan mereka telah melewati proses belajar di sekolah.

Belajar menurut wikipedia adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respons. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur—stimulus adalah bagian dari respon stimuli yang berhubunngan dengan kelakuan. Dalam fisiologistimulus adalah perubahan lingkungan internal atau eksternal yang dapat diketahui. Ketika stimulis dimasukan kedalam reseptor sensoris, stimulus akan memengaruhi refleks melalui transduksi stimulus.

 

Apakah belajar hanya berpikir atau membaca buku, menghafal? dan apa arti belajar yang sesungguhnya?. Belajar merupakan proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain terkait dengan kemampuan.

Pengertian yang lain—Belajar merupakan proses usaha yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Sedangkan Menurut Gagne—Belajar merupakan proses dimana suatu organisma berubah tingkah lakunya sebagai akibat  pengalaman Dari pengertian tersebut terdapat tiga atribut pokok atau ciri utama belajar, yaitu: proses, perilaku, dan pengalaman,

dengan pengertian sebagai berikut

Proses Belajar yakni, proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan yang  dapat diamati guru adalah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai akibat dari adanya aktifitas pikiran dan perasaan pada diri siswa tersebut.

Perubahan Perilaku Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, atau penguasaan nilai-nilai sikap.

Pengalaman Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik, misalnya :buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan sosial, misalnya: guru, siswa pustakawan, dan Kepala Sekolah. Belajar bisa melalui pengalaman langsung maupun melalui pengalaman tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung, misalnya siswa belajar dengan melakukan sendiri dan pengalaman sendiri. Belajar melalui pengalaman tidak langsung, misalnya mengatahui dari membaca buku, mendengarkan penjelasan guru. Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik karena siswa lebih memahami, lebih menguasai pelajaran tersebut, bahkan pelajaran terasa oleh siswa lebih bermakna.