Foto: Yanuar Surya.

Semua Anak Unik, Semua Anak Istimewa

“Kami Tidak Seragam”. Begitulah tajuk dari gelar karya dan pentas teater yang disuguhkan Sanggar Anak Alam (SALAM) pekan lalu dalam perhelatan besar di ulang tahunnya yang ke 17. Melalui gelar karya dan teater ini SALAM menceritakan apa yang diperjuangkan dan dilakukannya sehari-harinya untuk mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia. Acara ini, meskipun digelar sendiri oleh seluruh warga SALAM, nyatanya tidak ditujukan untuk unjuk kebolehan SALAM. Bukan untuk menunjukkan bahwa SALAM berbeda atau “tidak seragam” dengan penyelenggara pendidikan lainnya. Bukan juga tentang SALAM yang dalam kesehariannya memang tidak pernah berseragam. Gelar karya dan pentas teater ini justru untuk membantu menyuarakan “suara banyak anak”, bahwa mereka “tidak seragam”.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Diawali dengan latar pedesaan, menampilkan para petani yang mendapati anak-anak bermain tak beraturan. Mereka kemudian mengadukan hal tersebut kepada Pak Toto dan Bu Wahya. Kemudian terjadilah diskusi berbobot yang berbalut dalam cerita dan obrolan. Sebagai penggambaran nyata atas praktik pendidikan di Indonesia, disisipkan cerita fabel tentang “Sekolah Binatang”. Dalam cerita itu dikisahkan seorang manusia yang “sok super” bernama Tarsan mengajari binatang untuk mampu menguasai segala hal. Katanya ini adalah cara terampuh untuk mengatasi berbagai permasalahan di hutan. Semua warga hutan harus pintar. Pintar berlari, pintar memanjat, pintar terbang, bahkan juga semua harus pintar berenang.

Ya, mau tak mau kita harus mengakui, seperti itulah gambaran praktik pendidikan kita saat ini. Pendidikan yang menyeragamkan. Anak-anak harus belajar semua hal, seperti para binatang tadi sampai “tingkat yang tinggi”. Hasilnya, dalam satu atau beberapa hal anak-anak mencapai hasil yang sangat baik, namun beberapa bidang lainnya jeblok. Supaya semuanya baik hasilnya, ditambahkan lagi pelajaran untuk meningkatkan kemampuannya. Padahal setelah ada tambahan pelajaran, peningkatannya tidak juga signifikan. Loh kenapa? Ya bayangkan saja seperti memaksa si kura-kura untuk mendapat tambahan pelajaran terbang. Apakah kemudian kemampuannya bisa meningkat, mampu terbang tinggi seperti elang? “Mikiiiiiiir”, begitu kalau kata Cak Lontong.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Pada akhirnya anak-anak “lulus” semua mata pelajaran (banyak yang dipaksakan dan dengan nilai pas-pasan) namun tetap tak mengenali kemampuan terbaiknya. Itu seperti halnya kura-kura yang lupa bahwa ia pandai berenang, kancil yang tidak menyadari bahwa kemampuan terbaiknya adalah berlari, atau elang yang sudah tak ingat bahwa ia bisa terbang.

Bisa dibilang di sekitar kita sebenarnya banyak orangtua yang kecolongan karena telah kehilangan masa yang baik untuk menggali dan mengembangkan kemampuan terbaik anaknya. Sampai seringkali anak tidak tahu apa potensi terbaik dirinya, bahkan sampai ia beranjak dewasa. Tidak percaya? Coba tanya itu para mahasiswa, seberapa dari mereka yang bisa menjawab, “Setelah lulus mau jadi apa?”

“Jangan paksa kura-kura terbang atau berlari, jangan tuntut burung elang untuk pandai memanjat atau berenang.” 

SALAM sendiri sejak dari mulai berdirinya hingga sekarang meyakini bahwa setiap anak itu unik, demikian pula dengan bakat dan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu orangtua dan pendidik harus menyadari fungsi mereka sebagai orang dewasa yang mendampingi anak. Menyadari bahwa tugas mereka adalah membantu menemukan dan menumbuhkan bakat, berarti orangtua dan pendidik perlu berfokus kepada kekuatan anak dan bukan pada kelemahannya. Alih-alih memaksa ikan untuk terbang, merdekakan ikan untuk terus mengembangkan kemahirannya berenang. lebih baik fokus untuk membangun “bukitnya”. Lebih baik fokus untuk membangun “bukit”, daripada menghabiskan tenaga untuk mengurug “jurang”.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Menghargai keunikan anak ini tampak dalam seluruh rangkaian gelar karya dan pentas teater kemarin. Semua anak diberi ruang untuk menampilkan karya juga terlibat dengan setiap kemampuan uniknya. Bahkan sampai dengan penampilan yang terakhir di penghujung acara, atmosfer itu tetap ada. Adalah Tanah Liat, salah seorang warga belajar SALAM, remaja dengan Down Syndrome, yang malam itu hampir-hampir membuat banyak mata tak kuasa menahan tangis karena menahan haru dan bahagia. Ya, Tanah, malam itu memecah puncak kemeriahan gedung Societet dengan tabuhan drumnya. SALAM sebagai tempat belajar, sekali lagi membuktikan bahwa setiap anak unik, setiap anak istimewa. Bahwa Tanah tidak perlu berdarah-darah harus mampu menguasai matematika, ilmu bahasa, ataupun kimia dan fisika. Tanah memiliki kemampuan unik yang memungkinkan untuk lebih dan lebih lagi dikembangkan. Tanah, ibaratnya seperti kura-kura yang tidak maksimal dalam hal berlari, tidak bisa memanjat, apalagi terbang, tetapi dalam berenang ia menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Keunikan setiap anak ini harus disadari sepenuhnya oleh orangtua dan juga pendidik, sehingga orang-orang dewasa di sekeliling anak ini tidak jatuh pada tindakan membanding-bandingkan anak dengan temannya. SALAM bersama orangtua berusaha menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya tanpa merasa dipaksa. Setiap aktivitas yang dilakukan harus betul-betul untuk kepentingan anak, bukan sekedar wujud ambisi orangtua atau sekolah. Ukuran sederhananya adalah anak menikmati “perjalanannya”, bukan melakukan kegiatannya dengan terpaksa. Prosesnya memang tidak singkat, anak seringkali masih ditemui berganti-ganti minat. Orang dewasa yang mendampingi harus jeli mengamati, supaya tetap menjadi teman diskusi yang membangun dan menumbuhkan, supaya mereka menemukan bahwa dirinya : Unik dan Istimewa!