Si Mamad, Aku & Syumandjaya

Si Mamad adalah film Indonesia yang diproduksi pada tahun 1973 dan memenangkan Piala Citra pada FFI 1974 antara lain sebagai Film Terbaik (dengan pujian) dan Pemeran Utama Pria (dengan pujian). Film ini disutradarai oleh Sjuman Djaja dan diperankan oleh antara lain Mang UdelAedy Moward dan Rina Hassim.

Judul film ini berubah berkali-kali. Dari Matinya Seorang Pegawai NegeriIlalang sampai akhirnya Renungkanlah Si Mamad. Film ini kemudian populer dengan judul Si Mamad saja.

Sebuah kisah komik yang nyaris menjadi tragedi, atau sebaliknya. Sebuah film Sjumandjaja yang tergolong berhasil dan menunjukkan jelas sikap sosialnya. Mamad (Mang Udel) terpaksa melanggar kejujuran dirinya dengan berkorupsi kecil-kecilan seperti mencuri kertas kantor, ketika menghadapi kelahiran bayinya yang ketujuh. Perbuatan ini ternyata malah menyiksa dirinya, apalagi ketika ia hendak menjelaskan duduk perkaranya kepada atasannya (Aedy Moward), yang bersikap realistis dan sebenarnya mengerti keadaannya, apalagi dirinya bukan tidak bersih dari korupsi. Komedi yang tragis berangkat dari kesalahpahaman ini. Mamad yang selalu diganggu perasaan bersalah belum bisa lega sebelum bisa menjelaskan masalahnya, sementara kesempatan untuk itu seolah selalu lepas, bahkan puncaknya dirasa mengganggu oleh atasannya. Ia dipecat. Kesedihan mendalam dibawanya ke liang kubur.

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorangpun kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang

Puisi “Aku” karya Chairil Anwar telah  menginspirasi SjumanDjaya untuk menuliskan sebuah buku berjudul sama  “AKU” yang mengisahkan tentang Chairil Anwar penyair besar Indonesia  yang meninggal diusia muda, 27 tahun.

Buku “Aku” semakin popular setelah pemain utama dalam film “Ada Apa dengan Cinta?”(2012) banyak mengekspos buku tersebut. Tahukah, sejatinya buku tersebut adalah skenario film?  Adegan-adegan film yang tergambar dalam skenario ini tak sempat diwujudkan oleh sang penulis sekaligus sutradara, Sjumandjaya. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair besar yang dikaguminya, Chairil Anwar, bagi para penikmat sinema tak pernah jadi nyata.Namun, tak dapat disangkal bahwa skenario ini merupakan salah satu karya terpenting Sjuman Djaya yang menempatkannya di jajaran para seniman besarIndonesia.

Sjumandjaja, Idealis dan Kejujuran Hati

Lahir di Jakarta pada 5 Agustus 1934, Sjumandjaja sejak remaja memanggemar membuat cerpen, sajak dan esai. Bakatnya menjadi seorang sutradara film dan sineas sudah mulai diasah sejak remaja. Ia pun mengawali karirnya di dunia film sebagai artis-artis figuran. Sambil berperan pemain figuran, Sjumandjaja menawarkan karya-karyanya. Pada tahun 1965, karyanya yang berjudul “Kerontjong Kemajoran” difilmkan dengan judul “Saodah”.

Kemudian, ia bekerja di Persari bidang penulisan skenario, hinggaakhirnya ia berhasil menjadi pembantu sutradara film untuk film “Anakku Sajang”. Berkat bakat filmnyayang luar biasa dan kerja keras serta kedisplinan, Sjumandjaja pun berhasil meraih beasiswa untuk belajar film di Moskow, Rusia. Bahkan ia berhasil lulusdengan nilai memuaskan (cum laude).

Film berjudul “Bajangan” adalah karya Sjumandjaja di sekolah film Moskow.Dia menjadi orang ketujuh dan satu-satunya di luar orang Rusia yang lulusdengan nilai sangat tinggi sejak akademi film tersebut didirikan tahun 1919.

Sepulang dari Rusia di tahun 1965, Sjumandjaja menjadi Direktur Direktorat Film Deppen (Departemen Penerangan, sekarang Kementerian Komunikasi dan Informasi) hingga tahun 1968. Pada masa  jabatannya itulah lahirnya SK. Menpen no. 71/1967 tentang pengumpulan dana lewat film impor. Dana yang terkumpul  digunakan untuk meningkatkan produksi dan rehabilitasi perfilman nasional. Kemudian, ia juga menggagas lahirnya DewanProduksi Film Nasional di awal 1968 yang kemudian sempat melahirkan beberapafilm.

Usai tak lagi menjabatsebagai Direktur Direktorat FilmDeppen, ia banyak membuat film, bahkan terkadang ia ikut tampil dalam film yang ia buat. Salah satunya, Skenario film “Pengantin Remadja” (1971) yangditulisnya mendapat penghargaan dalam FFA-1971.

Dari sinilah lahirkarya-karya besar Sjumandjaja lainnya, karena ia makin kerap menulis skenariofilm. Di antaranya, film “Laila Majnun” (1975) dalam FFI 1976 di Bandungmendapat penghargaan sebagai Penulis Cerita Terbaik. Ia juga berhasil meraihpenghargaan sebagai Sutradara Terbaik lewat film “Si Mamad” (1973) dalam FFI1974 dan pada FFI 1977 di Jakarta, ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film“Si Doel Anak Modern” (1976). Film “Si Doel Anak Modern” inilah yang mengilhami Rano Karno membuat sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” yang sempat populer di eratahun 90-an. Dan masih banyak karya-karya Sjumandjaja lainnya yang meraihberagam penghargaan.

Sumandjaja adalahsedikit dari sutradara yang memiliki keteguhan idealisme dan tidak disetir olehpara produser film. Namun begitu, Sjuman juga fleksibel terhadap para aktor-aktris nya untuk berimprovisasi.

Kekuatan inilah yang harus kita tularkan kepada anak-anak kita di masa depan, Pondasi yangkuat dan kejujuran cita-cita kita yakini bisa mengantarkan sang juara di masa depan. Jadi jika anak-anak kita tertarik dengan dunia kreatif, dorong dan arahkan dengan bijak, siapa tau suatu hari menjadi akan lahir kembali sutradara hebat sekaliber Sumanjaya. []