Tamu-tamu SALAM

Banyak tamu yang datang berkunjung ke SALAM (Sanggar Anak Alam), ada yang hanya sekadar lihat-lihat, mungkin dipikirnya SALAM seperti tempat untuk refresing — ternyata sekarang ini ada fenomena semacam tamasya pendidikan, dan itu ada EO-nya (Event Organizer) yang cara nyari duwitnya semacam itu, SALAM termasuk yang telah masuk dalam direktori para EO. Lama-lama kami tahu modusnya dan lebih baik tamu jenis ini dengan ringan hati kami tolak saja, karena buang-buang waktu.

Ada juga rombongan satu bus besar dari organisasi guru, konon katanya mau studi banding, studi banding tapi cuma sebentar. Diskusi tidak tenang, tidak fokus karena banyak orang dan waktunya pendek, ditambah lagi pikirannya sudah kebelet kepengin belanja ke Malioboro.

Yang sering adalah mahasiswa yang mau bikin tugas akhir studi S1, S2, S3, ternyata efeknya kami kadang-kadang capek menjawabnya karena hampir seragam pertanyaannya.

Yang paling menjengkelkan justru ketika mereka bertanya namun jawaban kami semacam dipaksa harus cocok menurut mereka. Kami kadang mbathin; “sebetulnya ini riset model apa?” Kasarnya “Riset Cap apa?”

Baru-baru ini dari sekian banyak periset yang datang, kami menemukan ada satu orang yang cukup lumayan pertanyaannya, sehingga kami cukup semangat untuk menjawabnya.

Apa dasarnya SALAM berani bikin Kurikulum sendiri?

Kurikulum itu kan memang tugasnya setiap guru untuk membuatnya. Lha untuk apa dulu ketika sekolah guru diajari bikin kurikulum.

Kan sudah ada kurikulum yang dibuat oleh pemerintah, yakni kementrian Pendidikan?

Ya itu salahnya mentrinya bikinin kurikulum. Kementrian itu mustinya yang utama bikin konsep dan garis besar saja, lalu biarkan dijabarkan oleh masing-masing sekolah/guru.

Jadi SALAM sebelum bikin kurikulum mengacu pada Kurikulum Nasional apa tidak?

Ya…baca-baca, apa maunya. Yang kami merasa cocok diadopsi, yang kami merasa itu tidak penting, tidak masuk akal ya kami lupakan, tidak kami pakai. Bahkan kami tidak hanya pelajari kurikulum yang baru, kurikulum jaman baholapun kita pelajari.

Jadi, bagaimana proses penyusunan kurikulum di SALAM?

Kurikulum disusun berdasarkan tujuan umum yang ingin dicapai oleh komponen komunitas SALAM yang terdiri; Penyelenggara, guru/fasilitator, orangtua murid) selama proses belajar. Lalu tujuan umum diterjemahkan secara detail oleh masing-masing kelas dalam bentuk langkah-langkah proses belajar.

Apa saja kriteria yang di gunakan SALAM untuk menentukan target belajar?

Ada tiga aspek yakni: Paham apa, pemahaman apa yang hendak dikembangkan. Mampu apa, kemampuan apa yang hendak diperdalam. Dan nilai-nilai, prinsip serta bagaimana  bersikap, hal ini terkait dengan penanaman nilai-nilai, misalnya solidaritas, tidak eksploitatif, kerjasama, dan menghargai perbedaan.

Mengapa di SALAM menulis, membaca dan berhitung seperti menjadi porosnya?

Sudah lama kita memasuki era baca tulis dan hitung, maka membaca, menulis dan berhitung merupakan alat dan pengetahuan dasar yang akan membantu memudahkan seseorang untuk menemukan, mengungkapkan, mengekspresikan, serta mendeskripsikan hasil yang dipelajari.

Bagaimana penjabaran bagan di bawah ini?

Bagan proses belajar
Bagan proses belajar

Secara fundamental mata pembelajaran di SALAM hanya ada satu yakni MENULIS. Menulis huruf yang tersirat dan yang tersurat, menulis angka yang tersirat dan yang tersurat.

Tersirat mengandung arti kata “Tersembunyi” atau yang lebih jelasnya bahwa kalimat kata Tersirat berarti makna kata yang bisa di pahami dengan cara yang tidak langsung. Kata Tersurat adalah kebalikan dari kata Tersirat yaitu sebuah kata yang mudah di pahami maknanya karena makna dari kalimat kata Tersurat itu sudah ada dalam tulisan dari kata-kata tersebut.

Proses belajar di SALAM selalu diawali dari peristiwa nyata yang ada di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Dari peristiwa tersebut siswa menangkap dan mengenal dua unsur yang melekat pada peristiwa, yaitu yang tersurat dan tersirat. Hal-hal yang tersurat adalah hal-hal umum yang dapat dilihat dengan pancaindra. Misalnya bentuk huruf dari A – Z, atau symbol angka dari 0 – 9.

Hal-hal yang tersirat adalah yang bersifat konteks yang dibahasakan oleh huruf dan angka yang tidak lain adalah relasi,makna atas realitas yang ada di sekitar kita, termasuk sejak dini sudah memasuki perspektif pangan yang sehat, kesehatan, lingkungan dan social budaya terkait dengan kedaulatan.

Mengapa Salam menggunakan daur belajar

Daur Belajar
Daur Belajar

Karena belajar di SALAM selalu diawali dengan peristiwa dan kumpulan peristiwa itulah yang menjadi pengalaman. Maka daur belajar menjadi panduan proses setiap orang yang sedang belajar.

Adakah keterkaitan proses ilmiah dengan daur belajar tersebut?

Daur belajar juga dikenal dengan belajar dari peristiwa yang distrukturkan. Daur Belajar membimbing setiap orang untuk mengenal, memahami  asal usul, sebab akibat, struktur sejak dari menemukan data, fakta sampai dengan kesimpulan. Keterkaitan ilmiahnya bahwa daur ini tidak menciptakan seseorang hanya sebagai follower, peniru, atau penghafal saja melainkan menjadi aktor utama yang menemukan.

Maka proses belajar pada dasarnya melatih berfikir, tidak sekadar menambah pengetahuan, pendidikan tidak berhenti dalam dunia persekolahan tetapi merupakan proses belajar sepanjang hayat.

20160509-tamu-01

Ada tiga tahap dalam pendidikan dasar: pertama, mengalami sebab akibat, kedua, memahami sebab akibat dan ketiga, merancang sebab akibat. Maka sesungguhnya puncak dalam proses belajar adalah melatih berpikir agar mampu merancang sebab akibat.

Sebab akibat yang dimaksudkan dalam pendidikan dasar, basisnya adalah agar memahami semua komponen sebab akibat sehingga dapat menahkodai kehidupannya.

Sedangkan pengetahuan fungsinya untuk memahami komponen-komponen sehingga mempunyai bahan untuk mengembangkan sebab akibat tersebut. Salah satu contoh, kita tahu karena ada kerusakan hutan, maka ketika hujan turun, salah satu akibatnya terjadi banjir. Karena ada kerakusan manusia dalam menebang pohon maka hutan rusak. Maka dapat disimpulkan terjadinya banjir karena ada kerakusan manusia dalam menebang pohon.

Oleh karena itu “sebab — akibat” tersebut harus diolah atau diproses, sebab kalau tidak diproses ya hanya naluriah belaka. Padahal yang membedakan manusia dengan hewan adalah sejauh mana kita mampu mengolah. Sehingga pengetahuan tidak hanya berhenti sekadar menjadi kosa kata.

Bila anak tidak mengalami tiga hal di atas, anak akan menjadi mesin. Tidak bisa mengaplikasikan ilmunya. Karena tidak paham sebab akibat. Efeknya ilmu di sekolah tidak berhubungan dengan hidupnya.

Praktek mengalami, memahami sebab dan mendesain sebab akibat akan selalu terkait dengan pekerjaan apapun. Seorang pemimpin yang tidak memahami sebab akibat, tidak akan memiliki kemampuan memprediksi dan merencanakan.

Mengalami, memahami dan mendesain. Agar anak memiliki kemampuan mendesain, seharusnya yang diperbesar adalah komponennya. Komponen yang dimaksud adalah hal-hal yang terkait dengan realita keseharian. Kesalahan paradigma pendidikan kita saat ini justru yang diperbesar pengetahuannya belaka, lupa menyambungkan, mengkaitkan dengan realitas.