karya anak salam

Es Krim Stik Strawberry dan Mimpi Membeli Mikroskop

Pagi itu, Lapangan Salam sudah ramai ketika Andaru Pandunata Resmawan—yang akrab dipanggil Pandu—datang dengan langkah kecil yang tergesa. Matahari bersinar cukup terang, membuat suasana Gelar Karya Riset Kelas 1 Semester 2 terasa hidup sejak pagi. Di antara meja-meja yang dipenuhi karya anak-anak, Pandu membawa termos berisi es krim stik strawberry, cetakan es krim, buku riset, poster harga jualan, dan sebuah kotak kecil tempat menyimpan uang hasil penjualan. Ia datang sedikit terlambat, bukan karena bangun kesiangan, melainkan karena harus bergantian dijemput setelah kakaknya lebih dulu berangkat ke sekolah.

Tema “Panen Pengetahuan” yang diusung dalam bulan presentasi semester itu terasa benar-benar hadir di Lapangan Salam. Anak-anak kelas 1 memilih bentuk gelar karya sebagai cara memperlihatkan hasil riset mereka. Ada yang berjualan makanan, memamerkan karya, membagikan hasil percobaan, hingga menghadirkan hewan peliharaan dalam akuarium besar. Di tengah keramaian itu, meja Pandu berdiri sederhana namun mencolok dengan tulisan “Es Krim Stik Strawberry”.

Sebelum kegiatan dimulai, Pandu duduk memperhatikan suasana sekitar sambil sesekali bercakap dengan Pak Bomo yang duduk di sebelahnya. Ia tampak santai, tetapi sorot matanya menunjukkan rasa antusias. Rachel, salah satu panitia Panen Pengetahuan, membantu menempelkan poster harga dan judul riset agar lebih mudah dibaca pengunjung. Di meja itu juga tersusun stiker bergambar robot yang memegang es krim stik strawberry—bonus kecil yang ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli.

Ketika sesi jual beli dibuka, antrean di depan meja Pandu perlahan memanjang. Es krim stik strawberry yang dijual seharga lima ribu rupiah itu rupanya menarik perhatian banyak orang. Pandu melayani setiap pembeli dengan wajah gembira. Ia tidak terburu-buru. Baginya, berjualan bukan sekadar soal uang, tetapi juga kesempatan bercengkrama. Ada pembeli yang bertanya bagaimana cara membuat es krimnya, ada yang mengajak menghitung uang kembalian, dan ada pula anak-anak kecil yang hanya datang untuk meminta stiker.

Setiap kali seseorang memilih stiker favoritnya, Pandu bereaksi lucu dan ekspresif. Ia tampak sangat menikmati momen itu. Kepada beberapa anak TK dan Kelompok Bermain yang datang membeli bersama fasilitator, Pandu dengan sabar membagikan stiker sambil menjelaskan rasa es krim buatannya. Sementara kakak-kakak SMP dan SMA yang menolak bonus stiker justru membuat teman-teman kecil semakin senang karena stok stiker masih banyak untuk mereka.

Di sela-sela kesibukan melayani pembeli, Pandu juga belajar menghadapi situasi nyata dalam jual beli. Ia berusaha menghitung uang kembalian sendiri. Kadang lancar, kadang berhenti cukup lama sambil memperhatikan jumlah nol pada uang kertas sebelum diberikan kepada pembeli. Tante Gracesyera yang ikut mengantre bersama Gendis bahkan sempat mengajak Pandu berhitung bersama. Interaksi kecil semacam itu membuat suasana lapangan terasa hangat dan penuh dukungan.

Tak butuh waktu lama hingga 28 es krim yang dibawa Pandu habis terjual. Wajahnya tampak berbinar ketika melihat dompet kecilnya mulai penuh uang. Dengan bangga ia berkata, “Aku seneng banget soale jualan aku laris banget.” Kalimat itu meluncur begitu saja, penuh rasa puas sekaligus takjub pada hasil usahanya sendiri.

Ketika sesi tanya jawab dimulai, Pandu tampil dengan gaya yang sangat ekspresif. Bu Umi dan Pak Bomo mengajaknya bercerita tentang proses riset membuat es krim stik strawberry. Dengan lancar, Pandu menjelaskan bahwa ia telah melakukan lima kali percobaan sebelum mendapatkan rasa yang menurutnya paling enak.

Percobaan pertama, katanya, masih kurang manis. Pada percobaan kedua, ia menambah gula. Namun tekstur strawberry dirasa belum cukup halus sehingga pada percobaan berikutnya buah strawberry diblender. Di percobaan keempat, Pandu mencoba membuat es krim tanpa yoghurt dan susu agar warna merah strawberry lebih terlihat. Namun pada percobaan kelima, ia kembali menggunakan yoghurt dan susu karena rasa es krim menjadi lebih enak.

Cara Pandu menjelaskan proses itu memperlihatkan bagaimana seorang anak kecil sebenarnya sedang belajar berpikir ilmiah: mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Ia bukan sekadar membuat jajanan, melainkan sedang belajar memahami sebab dan akibat dari setiap perubahan bahan dan cara pembuatan.

Di tengah sesi tanya jawab, fokus Pandu beberapa kali buyar karena microphone kecil bermagnet yang menempel di microphone utama terasa sangat menarik baginya. Ia berkali-kali melepas dan memasangnya kembali sambil tetap berusaha menjawab pertanyaan. Tingkah itu membuat suasana menjadi cair dan mengundang tawa orang-orang di sekitar.

Namun di balik keceriaan itu, ada satu hal yang paling menarik perhatian banyak orang: rencana Pandu menggunakan uang hasil jualannya. Ketika Bu Umi bertanya untuk apa uang itu akan dipakai, Pandu segera menjawab tanpa ragu, “Beli mikroskop!”

Keinginan itu muncul setelah beberapa waktu sebelumnya ia pernah meminjam mikroskop milik Tiga di sekolah. Sejak saat itu, Pandu ingin punya mikroskop sendiri. Maka berjualan es krim bukan hanya soal bermain jual-beli, tetapi juga tentang menabung untuk sebuah rasa ingin tahu yang lebih besar.

Meski tampak sangat menikmati proses membuat es krim, Pandu mengaku ada bagian riset yang paling tidak ia sukai: menulis catatan. Baginya, menulis masih terasa sulit dan melelahkan. Dalam proses dokumentasi, sebagian besar catatan dituliskan oleh pendamping sambil mendengarkan cerita Pandu. Namun perlahan ia tetap diajak berlatih menulis melalui papan tulis, buku, dan berbagai media sederhana.

Selain menulis, tantangan terbesar lainnya adalah membawa es krim ke sekolah tanpa meleleh di perjalanan. Kekhawatiran itu cukup sering ia pikirkan. Tetapi semua rasa cemas itu akhirnya terbayar ketika es krimnya habis terjual dan banyak orang menikmati hasil percobaannya.

Menjelang siang, ketika para pembeli mulai bubar dan stok es krim sudah habis, Pandu masih berkeliling membawa stiker-stikernya. Dengan polos ia menawarkan kepada orang-orang yang belum kebagian, bahkan berkata bahwa siapa pun yang ingin membeli lagi boleh datang ke rumahnya.

Hari itu, Pandu tidak hanya belajar membuat es krim stik strawberry. Ia belajar menghadapi pembeli, belajar menjelaskan proses berpikirnya, belajar menghitung uang, belajar menerima perhatian banyak orang, dan belajar bahwa sebuah ide kecil bisa tumbuh menjadi mimpi yang lebih besar. Di balik es krim strawberry yang dingin itu, ada seorang anak kecil yang diam-diam sedang membangun keberanian dan rasa percaya diri—selangkah lebih dekat menuju mikroskop impiannya.

Diolah dari notulensi Butet RSM

Bottom of Form

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *