karya anak salam

Agatha, Merajut Mimpi, Menenun Keberanian

Pagi itu, Selasa, 19 Mei 2026, Ruang Bagong perlahan dipenuhi anak-anak dan orang tua yang datang untuk mengikuti Bulan Presentasi Semester 2. Meski beberapa peserta masih dalam perjalanan, suasana sudah terasa hangat dan penuh antusiasme. Di antara para presenter hari itu, Agatha Gendhis Purnama, siswi kelas 2 SD SALAM yang akrab dipanggil Agatha, tampil membagikan perjalanan risetnya tentang merajut.

Dengan semangat yang terlihat sejak awal, Agatha membuka presentasinya di depan teman-teman, fasilitator, dan para orang tua. Ia menggunakan media sederhana namun penuh makna: sebuah poster yang dibuat dari kardus bekas. Poster itu disusun dan ditulisinya sendiri, berisi foto-foto kegiatan praktik, dokumentasi workshop, serta hasil-hasil rajutan yang telah ia buat selama proses riset.

Meskipun suaranya masih terdengar pelan dan belum terlalu lantang, Agatha mampu menjelaskan isi risetnya dengan baik. Ia berusaha membaca setiap tulisan yang ada di poster dan menunjukkan perkembangan yang cukup besar dibandingkan semester sebelumnya. Kemauan untuk membaca dan menjelaskan hasil kerjanya terlihat semakin kuat.

Ketika menjelaskan alasan memilih riset merajut, Agatha menyampaikan sebuah cita-cita sederhana namun jelas: suatu hari ia ingin memiliki toko rajut sendiri. Untuk mewujudkan impian itu, ia mengikuti berbagai workshop dan meluangkan waktu untuk terus berlatih. Bagi Agatha, belajar merajut bukan sekadar membuat kerajinan tangan, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal proses, ketekunan, dan tanggung jawab.

Di tengah presentasi, muncul pernyataan yang membuat banyak orang tersenyum. Dengan polos Agatha berkata, “Aku melakukan praktik rajut agar tidak disuruh-suruh Mamah.” Kalimat sederhana itu menggambarkan cara berpikir anak-anak yang jujur dan apa adanya. Namun di balik candaan tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana ia perlahan belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Dalam sesi tanya jawab, Agatha menunjukkan kemampuan yang mengesankan. Ia mampu menjawab pertanyaan dari teman-teman maupun orang tua dengan percaya diri, jujur, dan lugas. Dukungan dari lingkungan sekitar tampak memberikan energi positif baginya. Teman-teman yang memuji hasil rajutannya membuat Agatha semakin bangga terhadap karyanya. Bahkan semangatnya semakin bertambah ketika beberapa teman dan fasilitator mulai memesan hasil rajutannya.

Melalui proses riset ini, Agatha merasa belajar tentang kesabaran. Orang tua dan fasilitator juga melihat perubahan yang cukup nyata dalam dirinya. Ia menjadi lebih tekun dan lebih sabar ketika menghadapi proses yang membutuhkan waktu. Perkembangan lain yang sangat membahagiakan adalah tumbuhnya kemampuan membaca dan menulis. Agatha mulai terbiasa menulis jurnal kegiatan hariannya tanpa diminta. Tulisan-tulisannya memang masih sederhana, tetapi menunjukkan kemajuan yang pesat. Ia juga mulai mampu membaca poster maupun papan reklame di jalan, meskipun masih terbata-bata.

Menariknya, pelajaran tentang kegagalan justru tidak datang dari riset merajut. Pelajaran itu hadir dari pengalaman mengikuti lomba renang. Menjelang perlombaan, Agatha sempat merasa tidak percaya diri dan bahkan ingin membatalkan keikutsertaannya. Namun setelah lomba selesai dan ia tidak menjadi juara, Agatha menunjukkan sikap yang matang untuk usianya. Ia berkata kepada ibunya, “Aku tidak menang, tidak apa-apa kan ya, Ma? Aku besok-besok mau belajar renang lagi biar kakinya cepat.”

Kalimat itu menjadi bukti bahwa Agatha sedang belajar memahami makna kegagalan. Ia mulai menyadari bahwa kalah bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk mencoba lagi dengan lebih baik.

Orang tua Agatha mengungkapkan bahwa selama proses riset mereka berusaha memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mengatur waktu praktik, mengerjakan riset, dan menyelesaikan poster presentasi. Namun menjelang hari presentasi, mereka juga perlu bersikap lebih tegas karena Agatha belum mulai menyiapkan bahan presentasinya. Dari seluruh perjalanan tersebut, momen yang paling menyentuh bagi keluarga adalah ketika Agatha dengan sukarela menulis jurnal hariannya sendiri dan menunjukkan kemajuan dalam membaca berbagai tulisan di lingkungan sekitarnya.

Perjalanan riset merajut ini mungkin berawal dari benang, jarum, dan keinginan sederhana untuk membuat karya. Namun lebih dari itu, Agatha sedang merajut sesuatu yang jauh lebih penting: kesabaran, ketekunan, keberanian menghadapi kegagalan, serta kepercayaan diri untuk terus belajar. Setiap simpul yang ia buat bukan hanya membentuk rajutan, tetapi juga menenun pertumbuhan dirinya sebagai seorang pembelajar muda yang terus berkembang.

Dari Notulensi: Pak Adrian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *