Senin siang, 18 Mei 2026, jarum jam menunjukkan pukul 11.15 WIB. Ruang Teater Garasi menjadi saksi sebuah momen penting bagi Kiana Milena Setyotomo. Siang itu, remaja kelas 7 SMP tersebut bersiap mempresentasikan hasil riset semester duanya yang bertajuk “Membuat Zine”. Di bawah bimbingan dua fasilitator, Dian dan Mega, suasana ruang presentasi dipenuhi energi yang hangat dari teman-teman dan para orang tua yang hadir mendukung. Namun, di balik ketenangan ruangan itu, ada badai kecil yang sempat berkecamuk di dalam hati Kiana.
Hari itu tidak dimulai dengan mulus. Jadwal presentasi Kiana bergeser dari yang tertera di grup orang tua—yang semula dijadwalkan pukul 10.40 WIB mundur menjadi 11.15 WIB. Perubahan mendadak ini memicu ketegangan. Sang Ayah sempat menegur Kiana, memintanya untuk lebih aktif mencari informasi mengenai perubahan jadwal tersebut. Teguran itu bukan tanpa alasan; sang Ayah harus mengejar kereta menuju Jakarta pada pukul 12.00 siang. Tekanan waktu, rasa bersalah, dan kecemasan berbaur menjadi satu, membuat air mata Kiana tumpah sebelum ia sempat melangkah ke depan panggung.
Namun, kedewasaan tidak diukur dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk terus melangkah. Meski hatinya masih berdegup kencang, Kiana menyeka air matanya. Ia berdiri di depan forum, siap menghadapi tantangannya.
Saat presentasi dimulai, sisa-sisa ketegangan itu masih tampak jelas. Di tangan kanannya, lembaran kertas catatan bergetar pelan, mengkhianati rasa gugup yang coba ia sembunyikan. Namun, begitu ia membuka suara, Kiana mengejutkan semua orang. Ia mampu menyapa teman-teman dan hadirin dengan suara yang jelas, lantang, dan pembawaan yang sangat menyenangkan. Menggunakan media presentasi visual, ia mulai membagikan apa yang ada di dalam kepalanya.
Jujur diakui, arah tujuan proses risetnya malam itu belum sepenuhnya terpetakan dengan runut. Pikirannya tampak penuh, berjejal dengan berbagai ide yang belum sempat disortir. Jika ditanya bagian mana yang paling dikuasai, jawabannya adalah belum ada yang benar-benar matang; semua materi masih berupa tumpukan informasi yang berseliweran di dalam benak Kiana.
Secara konseptual, Kiana sebenarnya tahu persis ke mana arah risetnya. Ia paham betul apa itu Zine dan bagaimana proses pembuatannya. Inspirasi ini pun lahir dari lingkungan terdekatnya, di mana mereka sekeluarga sedang bersama-sama membuat Zine keluarga. Hanya saja, tantangan terbesar Kiana terletak pada eksekusi. Menuangkan rasa, tulisan, dan gambar ke dalam lembaran Zine nyata membutuhkan usaha yang belum sepenuhnya ia kerahkan.
Dalam sebuah kejujuran yang polos sekaligus menohok, Kiana mengutarakan momen kuncinya: “Zine itu sebenarnya tinggal menulis atau menggambar cerita pada saat ini juga sih, tapi gak tahu aku gak langsung kerjakan, aku kerjakan besok saja.”
Pernyataan ini merangkum musuh terbesar dalam proses belajarnya: prokrastinasi dan manajemen prioritas. Pikirannya dipenuhi banyak distraksi, membuatnya kesulitan memilah mana hal yang harus segera disentuh, mana yang bisa menyusul, dan mana yang bisa ditunda nanti.
Meski demikian, ketika sesi tanya jawab dibuka, Kiana menunjukkan kapasitasnya. Ia dengan sangat baik mampu menjawab pertanyaan Ibu Fidel mengenai apa itu Zine. Begitu pula saat Bapak Bram S. menanyakan tentang metode pelipatan kertas—apakah itu murni idenya sendiri atau bersumber dari narasumber lain—Kiana menjelaskannya dengan lancar dan penuh pemahaman.
Refleksi dan Langkah ke Depan
Melalui dinamika di kelas 7 semester 2 ini, Kiana telah menunjukkan satu modal berharga yang tidak dimiliki semua orang: keberanian dan kejujuran yang luar biasa untuk mengakui proses dirinya. Ia hanya butuh sedikit lagi ketekunan untuk mengimbangi ide-idenya yang melimpah. Sebagai bekal perjalanan Kiana selanjutnya dirumuskan beberapa catatan reflektif yang mendalam untuk Kiana:
Presentasi hari itu bukan sekadar tentang selembar kertas Zine yang terlipat, melainkan tentang Kiana yang sedang belajar melipat jarak antara ide di dalam kepala dan kenyataan di dunia nyata.
serangkaian catatan reflektif yang mendalam untuk menuntun tumbuh kembangnya. Langkah awal yang perlu dipelajari Kiana adalah menata pikiran, di mana ia harus belajar mengurai benang kusut di dalam kepalanya agar tidak mudah terdistraksi oleh banyak hal sekaligus. Beriringan dengan itu, Kiana juga perlu melatih diri dalam menyusun skala prioritas, sebuah kecakapan untuk menentukan dengan tegas pekerjaan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu setiap harinya.
Agar proses ini berjalan secara organik, membangun konsistensi menjadi kunci; Kiana diajak untuk merawat kebiasaan menulis jurnal secara rutin sebagai ruang untuk merefleksikan rasa, emosi, serta kejadian sehari-hari dengan lebih mendalam. Melalui ketekunan tersebut, ia bisa melakukan latihan rutin demi terus mengasah kemampuannya menuangkan gagasan abstrak ke dalam bentuk fisik sebuah Zine yang nyata.
Terakhir, sebuah ajakan penting untuk kembali fokus pada dunia nyata. Kiana perlu mengurangi kebiasaan doom scrolling atau berselancar tanpa arah di media sosial. Alih-alih tenggelam dalam arus informasi yang sia-sia, setiap kali membuka layar gawai, ia harus membiasakan diri untuk mencari berita dan hal-hal baik yang sifatnya membangun. Sikap ini pun harus selaras dengan kesehariannya di dunia nyata, di mana Kiana diharapkan mampu memusatkan energinya untuk menaikkan kapasitas diri, ketimbang menghabiskan waktu mendengarkan isu atau informasi di luar lingkaran kegiatannya yang utama.
Dari Notulensi: Ratna Sary
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply