karya anak salam

Ayam Pratunam dan Cara Cahya Memahami Dunia

Pada Senin pagi, 11 Mei 2026, ruang Sukrosono Sanggar Anak Alam masih dipenuhi wajah-wajah yang sama sejak presentasi sebelumnya selesai. Udara ruangan terasa hangat oleh suara percakapan kecil dan bunyi kursi yang bergeser perlahan. Beberapa orang tua duduk di bagian dalam ruangan, sementara beberapa audiens baru memilih duduk di tangga, bersandar santai sambil memperhatikan layar proyektor di depan. Jam menunjukkan pukul 09.45 ketika Cahya Aji Ahimsa berdiri mengambil giliran presentasi setelah Ahmad Junaid selesai.

Di tangannya ada sebuah buku catatan kecil yang tampak akrab dengannya—buku yang hampir selalu ia bawa ke mana-mana. Cahya berdiri dengan sikap yang tenang, tetapi begitu membuka presentasi, suasana langsung berubah. Ia memulai dengan intonasi khas yang terdengar seperti seorang penampil panggung sedang membuka pertunjukan. Ada semangat yang mengalir dari cara ia berbicara: mantap, ritmis, dan percaya diri.

Judul risetnya terdengar sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari: Strategi Nomojowo di Bulan Ramadhan 2026. Nomojowo adalah tempat ia bekerja paruh waktu selama satu setengah tahun terakhir. Dari tempat kerja itulah Cahya menemukan rasa penasaran. Ia ingin memahami bagaimana sebuah usaha kuliner bersiap menghadapi bulan Ramadhan—bulan yang selalu mengubah ritme kota, pola makan, jam kerja, bahkan suasana malam.

Di layar presentasi muncul beberapa foto aktivitas restoran. Cahya mengaku foto-foto itu bukan hasil jepretannya sendiri, melainkan dokumentasi teman satu kru yang diambil di sela-sela jam kerja. Ia menjelaskan hal itu dengan santai, tanpa berusaha menutupinya. Baginya, bekerja sambil menjalani riset membuat waktu menjadi sesuatu yang harus diatur dengan cermat.

Namun justru di situlah kekuatan presentasinya terasa. Cahya menjelaskan risetnya dengan runtut dan sistematis. Ia tidak hanya bercerita tentang pengalaman bekerja, tetapi juga menunjukkan bagaimana ia menyusun penelitian: mulai dari mencari urgensi, membuat pertanyaan riset, mencari teori yang relevan, menyusun daftar pengamatan, hingga mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara dengan manajer Nomojowo.

Ia membagi penelitiannya menjadi tiga fase: masa persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dari sana, Cahya menemukan bahwa menjelang Ramadhan, Nomojowo melakukan berbagai strategi khusus. Mereka menyiapkan menu edisi Ramadhan, membuat paket berbuka, meningkatkan kapasitas pelayanan, hingga menggunakan Key Opinion Leader untuk promosi di media sosial. Ada pula keputusan penting yang diambil berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya: makanan harus keluar sebelum adzan, meskipun risikonya menjadi sedikit dingin, daripada pelanggan harus menunggu terlalu lama saat berbuka.

Ia juga menceritakan bagaimana pihak restoran menghadirkan live cooking untuk menghibur pengunjung. Cahya tampak menikmati ketika menjelaskan detail-detail kecil itu, seolah ia sedang membedah mesin besar bernama “operasional Ramadhan” dari dalam.

Menurut hasil wawancara, manajer Nomojowo merasa puas karena hasil selama Ramadhan melampaui ekspektasi. Salah satu indikator keberhasilan yang dianggap penting oleh Cahya justru sederhana: hampir tidak ada komplain pelanggan.

Di antara berbagai menu, ayam goreng Pratunam menjadi yang paling laris. Cahya menduga hal itu terjadi karena menu tersebut sedang populer di media sosial Indonesia. Nama “Pratunam” sendiri berasal dari sebuah kawasan pasar terkenal di Thailand yang belakangan ramai menjadi inspirasi kuliner viral.

Momen paling hidup justru muncul ketika sesi tanya jawab dimulai. Mikhael, teman sekelasnya, bertanya dengan nada penasaran tentang “rahasia dapur” ayam goreng Pratunam itu. Semua orang tampak menunggu jawaban serius tentang bumbu rahasia atau teknik memasak tertentu. Cahya menjelaskan asal-usul menu tersebut dengan lancar, mulai dari tren Thailand hingga strategi pemasaran yang memanfaatkan popularitasnya.

Lalu ia berhenti sejenak dan berkata jujur bahwa ia tidak tahu rasa detail menu itu. Karena ternyata, selama satu setengah tahun bekerja di Nomojowo, ia belum pernah benar-benar mencoba ayam goreng Pratunam tersebut.

Ruangan langsung pecah oleh tawa. Beberapa orang tampak terkejut, sementara Cahya sendiri ikut tersenyum malu-malu. Momen itu membuat suasana presentasi menjadi cair. Ada sesuatu yang lucu sekaligus manusiawi dari pengakuan itu—bahwa seseorang bisa bekerja cukup lama di sebuah tempat, memahami strategi bisnisnya, bahkan meneliti operasionalnya secara serius, tetapi belum tentu pernah mencicipi menu paling populernya. Di balik presentasi tentang restoran dan strategi bisnis, sebenarnya Cahya sedang mempelajari dirinya sendiri.

Ketika Bu Dewi bertanya mengapa ia justru menikmati teori—sesuatu yang sering dianggap membosankan oleh banyak orang—Cahya menjawab dengan antusias. Ia merasa “asik” ketika mengetahui bahwa pengalaman sehari-hari ternyata terhubung dengan banyak hal: gastronomi, manajemen, perilaku konsumen, hingga fluktuasi ekonomi musiman. Baginya, teori bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan, melainkan alat untuk memahami kenyataan dengan lebih jelas.

Ia juga menyadari bahwa dirinya cocok dengan proses belajar yang terstruktur. Panduan riset di awal membantunya tetap berada di jalur dan tidak kehilangan arah ketika mengumpulkan data. Cahya tampak puas karena untuk pertama kalinya ia merasa berhasil mengatur waktu, menyelesaikan proses penelitian, menulis laporan, hingga menyiapkan presentasi secara mandiri.

Sebagai fasilitator, Andre melihat hal itu sebagai perkembangan penting. Cahya adalah anak yang serius dan bertanggung jawab. Ia membutuhkan struktur yang jelas agar dapat bekerja dengan fokus. Meski sebelumnya sempat berganti-ganti tema dan mengalami kebingungan mencari topik yang tepat, Cahya tidak pernah kehilangan semangat. Ia terus mencoba sampai menemukan jarak yang paling nyaman: tema yang cukup dekat dengan kehidupannya, tetapi tidak terlalu personal.

Di akhir presentasi, ada kesan bahwa riset ini bukan hanya tentang Nomojowo atau Ramadhan semata. Ini adalah proses seorang remaja mengenali cara dirinya belajar, bekerja, dan memahami dunia.

Sementara ruangan Sukrosono perlahan bersiap menyambut presentasi berikutnya, Cahya menutup laptopnya dengan wajah lega. Orang tuanya memang tidak bisa hadir pagi itu, tetapi mereka tetap mengirimkan dukungan melalui laporan pengamatan kepada fasilitator.

Dukungan terbesar justru terlihat dari cara Cahya bertahan dalam proses panjang ini: tidak mencari jalan pintas, tetap menyelesaikan tanggung jawabnya, dan berani berdiri di depan banyak orang untuk menceritakan hasil pencariannya sendiri.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *