Blog

Ngopi Bersama Paulo Freire

Suatu malam yang gerimis di Yogyakarta, listrik sempat mati beberapa menit. Aku duduk di warung kopi kecil dekat kampus tua yang cat temboknya mulai mengelupas. Di sudut ruangan, kipas angin berhenti berputar. Anak-anak muda masih sibuk menatap layar ponsel yang bercahaya seperti kunang-kunang modern. Di luar, suara motor bercampur dengan pengamen yang menyanyikan lagu lama Iwan Fals.

Di hadapanku duduk seorang lelaki tua berkacamata tebal. Wajahnya tenang, tetapi matanya seperti menyimpan ribuan ruang kelas miskin di Amerika Latin. Ia tersenyum kecil sambil mengaduk kopi hitam. “Akhirnya kita bertemu juga,” katanya. Aku mengangguk pelan. “Pak Paulo Freire, saya merasa pemikiran sampeyan justru makin relevan sekarang.” Ia tertawa lirih. “Biasanya orang baru mengingat pemikir tua ketika keadaan mulai kacau.” Aku menunjuk jalan raya di depan warung.

“Sekarang sekolah makin megah. Kampus penuh gedung kaca. Anak-anak dijejali target, ranking, sertifikat, kursus AI, coding, bahasa asing. Tapi banyak yang kehilangan keberanian berpikir. Mereka pintar menjawab soal, tapi takut bertanya.”

Freire menatap hujan. “Itulah yang dulu saya sebut banking education,” katanya pelan. “Pendidikan seperti setor uang di bank. Guru menyetor informasi. Murid menyimpan. Lalu saat ujian, tabungan itu ditarik kembali.”

“Tapi sekarang lebih parah, Pak,” jawabku. “Bukan cuma guru. Sekarang algoritma juga ikut mengajar. Anak-anak belajar mengejar angka engagement, likes, views. Bahkan kemarahan dijadikan komoditas.”

Freire menghela napas panjang. “Dulu penindasan datang lewat kolonialisme dan rezim militer. Sekarang penindasan sering datang sambil tersenyum. Datang lewat iklan motivasi, platform digital, dan budaya produktivitas.”

Aku tertawa pahit. “Semua orang dipaksa menjadi ‘personal brand.’ Bahkan guru harus jadi konten kreator.” Freire ikut tersenyum. “Dan manusia perlahan berhenti menjadi manusia. Mereka berubah menjadi data.”

Warung mulai ramai. Seorang mahasiswa sibuk membuka laptop. Di meja lain, dua sopir ojek online menghitung pendapatan hari itu sambil mengeluh harga bensin. Aku berkata pelan, “Pak, sekarang banyak orang sekolah tinggi, tapi tetap takut bicara soal ketidakadilan. Mereka takut kehilangan pekerjaan. Takut dibully. Takut dicap radikal.”

Freire mengangguk pelan. “Itulah culture of silence. Budaya diam. Kaum tertindas dibuat merasa suaranya tidak penting. Lama-lama mereka percaya bahwa nasib buruk adalah kesalahan pribadi, bukan akibat struktur sosial.” “Jadi pendidikan hari ini gagal?” Freire menggeleng.

“Tidak sesederhana itu. Pendidikan selalu menjadi arena pertarungan. Tidak pernah netral. Pertanyaannya: sekolah ini sedang mendidik manusia merdeka atau hanya mencetak pekerja yang patuh?” Aku terdiam. Di luar, hujan mulai reda. Jalanan memantulkan lampu kuning seperti sungai minyak.

Aku lalu bertanya, “Tapi banyak guru juga lelah, Pak. Gaji kecil. Administrasi menumpuk. Mereka sendiri ditekan sistem.” Freire menatapku cukup lama. “Karena penindasan tidak hanya menghancurkan murid. Ia juga menghancurkan guru.” Kalimat itu menggantung seperti asap rokok.

“Lalu apa yang masih bisa dilakukan?” tanyaku. Freire tersenyum kecil. “Mulai dari dialog.” “Dialog?”

“Ya. Pendidikan bukan pidato satu arah. Guru harus mau mendengar pengalaman hidup murid. Anak petani membawa pengetahuan tentang tanah. Anak nelayan membawa pengetahuan tentang laut. Anak kampung membawa pengalaman tentang kemiskinan kota. Semua itu pengetahuan.”

Aku tertawa kecil. “Kalau di sekolah sekarang, jawaban di luar buku kadang malah dianggap salah.” Freire ikut tertawa. “Itulah tragedinya. Sekolah sering lebih percaya buku daripada kehidupan.” Angin malam masuk dari jendela warung. Bau tanah basah terasa kuat.

Aku berkata pelan, “Kadang saya pesimis, Pak. Ketimpangan makin besar. Politik terasa seperti bisnis keluarga. Pendidikan mahal. Orang miskin sibuk bertahan hidup. Sementara elite bicara kemajuan memakai bahasa statistik.”

Freire menatap lampu jalan yang berkedip. “Harapan bukan berarti menolak kenyataan pahit,” katanya. “Harapan adalah keberanian bekerja meski dunia terlihat gelap.” “Jadi harapan itu tindakan?” “Ya. Praxis. Refleksi dan tindakan. Berpikir tanpa tindakan hanya menjadi seminar. Tindakan tanpa refleksi hanya menjadi keributan.”

Aku tertawa keras. “Wah, ini cocok sekali dengan keadaan sekarang. Semua orang marah di media sosial, tapi jarang benar-benar membangun sesuatu.” Freire mengangguk sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.

“Revolusi terbesar kadang dimulai dari ruang kecil. Dari komunitas belajar. Dari keberanian mendengar cerita rakyat kecil. Dari guru yang tidak memperlakukan murid seperti mesin fotokopi.” Malam makin larut. Sebelum pergi, Freire berdiri pelan lalu berkata: “Jangan biarkan pendidikan hanya menjadi pabrik tenaga kerja.”

Aku mengangguk. Ia melanjutkan dengan suara tenang: “Karena ketika manusia berhenti berpikir kritis, kekuasaan tidak perlu lagi memakai senjata. Rakyat akan mengawasi dirinya sendiri.” Setelah itu ia berjalan keluar warung, menyusuri jalan basah yang memantulkan cahaya kota. Sosoknya perlahan hilang di antara suara motor dan bau gorengan.

Aku duduk sendirian cukup lama. Di meja masih tersisa secangkir kopi dingin, beberapa catatan kecil, dan pertanyaan yang belum selesai: Apakah sekolah hari ini benar-benar sedang mendidik manusia… atau hanya melatih manusia agar terbiasa hidup di dalam sistem yang tidak pernah mereka pertanyakan? []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *