karya anak salam

Es Dawet dan Perjalanan Belajar Ras

Pagi itu, ruang Limbuk Cangik sudah ramai sejak sebelum presentasi dimulai. Teman-teman duduk berkelompok sambil bercakap kecil, beberapa orang tua saling menyapa, sementara fasilitator sibuk membantu menyiapkan perlengkapan kegiatan. Di tengah keramaian itu, Ras Bintang Balian Putra Relipaltera datang dengan langkah santai. Wajahnya tampak biasa saja, bahkan sedikit malas-malasan seperti anak yang belum benar-benar siap menjadi pusat perhatian.

Namun suasana itu perlahan berubah ketika gilirannya semakin dekat. Ras mulai sibuk memegang poster yang telah ia buat bersama ayahnya. Tangannya menggenggam erat poster itu seolah menjadi pegangan keberaniannya hari itu. Di sudut ruangan, mama, Titi, dan Bu Erwin membantu menata perlengkapan es dawet yang akan digunakan untuk presentasi. Ketika fasilitator bertanya apakah posternya ingin dibantu pegang, Ras langsung menjawab mantap, “Ras mau pegang sendiri posternya.” Jawaban sederhana itu terdengar seperti pernyataan kecil tentang keberanian.

Teman-teman, fasilitator, dan para orang tua yang hadir mulai memberi semangat. Ada yang memuji posternya, ada yang tersenyum sambil mengacungkan jempol. Tepuk tangan yang terdengar ramai membuat Ras sedikit mengangkat dagunya. Meski matanya belum sepenuhnya berani menatap langsung ke arah banyak orang, ekspresi wajahnya menunjukkan kebanggaan yang perlahan tumbuh. Presentasi pun dimulai setelah MC kelas mengajak semua orang bersiap mendengarkan cerita Ras.

Dengan suara penuh semangat, Ras memperkenalkan dirinya dan mulai bercerita tentang risetnya semester ini: berjualan es dawet buatannya sendiri. Es dawet bukan sekadar minuman favorit bagi Ras. Dari minuman itulah ia belajar banyak hal—mulai dari keberanian berbicara, proses membuat makanan, hingga mengenal uang.

Menggunakan poster buatannya, Ras menceritakan tahapan yang ia lakukan sejak awal. Ia berkisah tentang pergi berbelanja bahan, belajar membuat dawet, menyiapkan perlengkapan jualan, hingga akhirnya siap melayani pembeli. Cerita itu disampaikan dengan sederhana, tetapi terasa hidup karena Ras benar-benar mengalami setiap prosesnya sendiri.

Di tengah presentasi, Ras menunjukkan hasil belajarnya tentang nominal uang. Ia memperlihatkan lembaran uang yang dimilikinya sambil menyebutkan nilainya satu per satu. Mulai dari Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, hingga Rp100.000 berhasil ia kenali dengan baik.

Bagi sebagian orang, mengenali nominal uang mungkin tampak sederhana. Namun bagi Ras, proses itu adalah perjalanan belajar yang penuh usaha. Ia masih mengalami kesulitan saat harus menghitung uang dalam proses jual beli karena adanya hambatan dalam memahami simbol dan numerasi. Tetapi justru di situlah makna penting dari riset ini: bukan tentang hasil yang sempurna, melainkan keberanian untuk terus mencoba memahami dunia dengan caranya sendiri.

Pilihan menjadikan es dawet sebagai tema riset juga bukan tanpa alasan. Ras memang sangat menyukai dawet. Dari kesukaan itulah mama dan papa berharap ia dapat belajar berkomunikasi, berani bertemu banyak orang, dan perlahan mengenal konsep uang melalui aktivitas yang ia sukai. Belajar tidak dipaksa datang dari buku atau angka-angka yang rumit, tetapi hadir dari pengalaman yang dekat dengan kesehariannya.

Sepanjang presentasi berlangsung, Ras terlihat menikmati momennya. Ia tampak jauh lebih percaya diri dibanding biasanya. Sesekali senyum kecil muncul ketika teman-temannya memperhatikan dengan serius cerita tentang dawetnya.

Saat sesi tanya jawab dimulai, beberapa teman dan orang tua mengangkat tangan. Meski jawaban Ras masih singkat dan terbatas, hampir semua pertanyaan berhasil ia jawab sendiri. Keberanian itu terasa lebih penting daripada panjangnya kalimat yang diucapkan.

Dukungan lingkungan juga menjadi bagian besar dari perjalanan Ras hari itu. Sejak datang ke lokasi, banyak orang yang menyapa dan memberi semangat saat melihat poster yang dibawanya. Hal-hal kecil seperti itu ternyata mampu membuat Ras semakin yakin terhadap dirinya sendiri.

Melalui proses berjualan es dawet ini, Ras tidak hanya belajar mengenal nominal uang. Ia juga belajar menghadapi banyak orang, berbicara di depan umum, serta berinteraksi dalam proses jual beli. Semua pengalaman itu menjadi langkah kecil yang berarti bagi perkembangan dirinya.

Di akhir kegiatan, orang tua Ras menyampaikan rasa syukur mereka. Mereka melihat perkembangan Ras di kelas 4 sebagai sesuatu yang luar biasa. Dukungan fasilitator dan lingkungan belajar yang hangat membuat Ras menunjukkan perubahan yang cukup signifikan dibanding sebelumnya.

Hari itu, segelas es dawet bukan hanya tentang rasa manis dan segar. Di tangan Ras, es dawet berubah menjadi jalan kecil menuju keberanian, kepercayaan diri, dan proses belajar yang tumbuh perlahan namun nyata.[]

Diolah dari notulensi Indri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *