karya anak salam

Ayam Geprek, Donat Pecah, dan Langkah-Langkah Kecil Keberanian

Pagi itu, Jumat, 15 Mei 2026, ruang Petruk Bawah sudah mulai ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan. Kursi-kursi plastik perlahan terisi. Di sudut ruangan, karya-karya Banyu dan Mahdan ikut dipajang, memberi suasana seperti pasar kecil penuh cerita. Hari itu cuti bersama, sehingga banyak wajah baru terlihat hadir. Ada Pak Aput dan Bu Endah, orang tua Lekha, juga beberapa orang tua lain yang biasanya tak sempat datang. Jumlah penonton sekitar dua puluhan orang, cukup banyak untuk sebuah presentasi sederhana tentang memasak dan berjualan.

Di tengah keramaian itu, Ayya sudah datang lebih awal. Ia tampak siap. Sesekali ia memeriksa poster dan perlengkapan presentasi. Sebaliknya, Detra baru datang sekitar pukul 9 lewat sedikit bersama Bundanya. Wajahnya terlihat tegang. Ia beberapa kali menarik napas panjang sambil memandang sekitar, seolah keramaian pagi itu terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Presentasi dibuka oleh Bu Dewi. Dengan lembut ia meminta Ayya dan Detra memperkenalkan diri sekaligus menceritakan proses belajar mereka selama satu semester terakhir. Ayya langsung berbicara dengan mantap. Ia bercerita bagaimana semester ini mereka banyak bereksperimen dengan berbagai masakan. Namun ketika giliran berpindah kepada Detra, suasana mendadak melambat. Anak itu diam. Matanya bergerak ke atas, seperti sedang memancing ingatan yang tercecer di langit-langit ruangan.

Andre kemudian membantu dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. “Masakan apa saja yang sudah dibuat semester ini?” Ajaibnya, Detra langsung bisa menjawab. Satu demi satu menu keluar dengan lancar dari mulutnya. Ayam geprek, donat mocaf, bakso, sambal. Semua disebut seperti daftar yang sebenarnya sangat akrab di kepalanya.

Ketika Andre bertanya siapa saja yang menemani proses memasaknya di SALAM, Detra mulai menyebut nama-nama dengan serius: Ayya, Bu Dewi, Shila, Andre, Neneknya. Penonton mulai menahan senyum karena satu nama belum juga disebut: Bundanya sendiri, yang justru paling sering mendampinginya membuat ayam geprek. Saat akhirnya nama “Bunda” keluar paling akhir, ruangan pecah oleh tawa kecil yang hangat. Detra ikut tersenyum malu.

Di sepanjang presentasi, terlihat jelas bagaimana Ayya berkali-kali membantu Detra saat ia kebingungan mencari kata. Ayya seperti menjadi juru cerita bagi pengalaman mereka berdua. Memang hampir seluruh proses semester ini mereka jalani bersama: memasak, membuat sambal, membuat poster, promosi, hingga berjualan.

Riset mereka sebenarnya adalah kelanjutan dari semester sebelumnya. Jika dulu mereka menjual camilan, kali ini mereka mencoba menjual ayam geprek. Ide itu datang dari Detra sendiri. Bundanya membantu menyiapkan bahan dan mendampingi proses memasak di kelas. Ayya membantu membuat sambal dan desain poster. Mereka juga belajar menjalankan sistem pre-order agar makanan tidak tersisa. Menurut Ayya, itu sebabnya dagangan mereka selalu habis.

Keistimewaan ayam geprek mereka terletak pada penggunaan tepung mocaf, tepung singkong fermentasi yang dianggap lebih sehat dibanding tepung terigu. Ayya menjelaskan hal itu dengan bangga, seperti seorang calon koki yang mulai menemukan keyakinan pada dunia yang dicintainya.

Di tengah perjalanan, harga ayam geprek sempat berubah. Dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per porsi. Kenaikan kecil itu ternyata lahir dari diskusi sederhana antara Detra dan Bundanya tentang modal dan keuntungan. Bagi orang dewasa mungkin terdengar biasa, tetapi bagi mereka, itu adalah pelajaran pertama tentang keberanian menentukan nilai dari hasil kerja sendiri.

Ada satu momen yang paling diingat fasilitator: hari ketika Detra harus memasak ayam geprek tanpa ditemani Bundanya. Hari itu seperti ujian kecil. Biasanya Detra selalu bertanya atau menunggu arahan. Namun kali itu ia diminta memimpin sendiri seluruh proses memasak, mengingat langkah demi langkah, dari menyiapkan bahan hingga menguleg sambal. Prosesnya memang lama. Ayya bahkan mengaku sempat kesal karena Detra berkali-kali mengatakan tidak bisa.

“Tapi ternyata bisa,” kata Ayya sambil tertawa kecil. Dan memang benar. Hari itu Detra akhirnya menguleg sambal sendiri—sesuatu yang sebelumnya selalu ia hindari karena merasa tidak mampu.

Dari situlah semua orang melihat bahwa keberanian kadang tidak datang dalam bentuk besar dan heroik. Kadang ia muncul sebagai tangan kecil yang gemetar saat memegang ulekan, lalu tetap mencoba meski mulut terus berkata takut.

Selain ayam geprek, mereka juga bereksperimen membuat donat dari tepung mocaf bersama Shila, teman kelas satu SMA. Eksperimen itu gagal total. Donat yang dihasilkan pecah-pecah dan sulit menyatu. Ayya menceritakan kegagalan itu dengan ekspresi penuh emosi, bahkan sedikit marah ketika mengingat bentuk donat mereka yang hancur.

“Mungkin harus ditambah kentang,” katanya serius, seperti peneliti muda yang belum selesai dengan eksperimennya. Kegagalan lain justru melahirkan ide baru. Setelah Detra melakukan survei di kawasan Sumur Miring ISI dan melihat terlalu banyak penjual ayam geprek, mereka mulai berpikir mencari produk lain. Maka lahirlah percobaan membuat bakso. Mereka belajar bahwa berjualan bukan hanya soal memasak, tetapi juga membaca keadaan sekitar.

Di balik seluruh proses itu, perlahan-lahan Ayya menemukan sesuatu dalam dirinya sendiri. Memasak bukan lagi sekadar kegiatan sekolah atau hobi sesaat. Ia mulai melihatnya sebagai masa depan. Dengan mantap ia bercerita tentang rencananya masuk jurusan Teknik Boga di UNY. Bahkan ia sudah menyiapkan rencana cadangan: melanjutkan belajar kuliner di akademi JICA.

Sementara itu, Detra masih ingin berjualan makanan, walaupun diam-diam ia juga mengaku lebih menikmati memelihara burung—riset lamanya di kelas satu SMA. Bundanya kemudian menambahkan bahwa sebenarnya Detra sudah banyak melangkah lebih jauh daripada yang terlihat. Ia sudah mendaftarkan ayam gepreknya ke ShopeeFood dan mulai memelihara lele. Bahkan di rumah, tanpa disuruh, ia pernah mengolah sendiri sisa ayam dagangan dan membuat sambalnya sendiri.

Masalah terbesar Detra, menurut Bundanya, adalah “lupa”. Ia sering lupa bahwa dirinya sebenarnya mampu. Andre kemudian menambahkan bahwa mungkin Detra lupa justru ketika sedang gugup. Saat sendirian, tanpa tekanan banyak orang, ia bisa melakukan banyak hal dengan baik.

Koh Davin mencoba bertanya langsung kepada Detra: “Memang benar kamu gugup kalau di keramaian? Perasaanmu sekarang bagaimana?” Detra terdiam lama. Ia kembali menatap ke atas, mencari jawaban di tempat yang hanya ia sendiri tahu. Namun kali ini jawaban itu tak berhasil ditemukan.

Bu Dewi kemudian berkata pelan bahwa mungkin Detra lebih nyaman berbicara lewat pesan WhatsApp. Banyak pertanyaan dan pendapat kritis justru sering ia kirimkan lewat chat. Semua orang tertawa kecil. Tidak ada yang memaksa. Dan mungkin di situlah letak keindahan pagi itu.

Tidak semua anak harus segera pandai berbicara di depan umum. Tidak semua keberanian tumbuh dengan suara keras. Ada keberanian yang tumbuh perlahan, hampir tak terlihat—seperti Detra yang akhirnya mau menguleg sambal sendiri, atau diam-diam memasak ayam di rumah tanpa diminta siapa pun.

Sementara itu, Ayya terlihat semakin teguh berdiri di jalannya sendiri. Dari seorang anak yang dulu hanya sibuk dengan kegemaran budaya Korea, kini ia mulai percaya bahwa tangannya memang berbakat mengolah makanan. Bahwa siomay, sambal, dan ayam geprek buatannya layak dipercaya orang lain.

Pagi itu di Petruk Bawah, tidak ada tepuk tangan besar atau pidato menggelegar. Yang ada hanyalah dua anak muda dengan langkah kecilnya masing-masing: satu belajar percaya pada kemampuannya, satu lagi belajar percaya pada suaranya sendiri. Dan kadang-kadang, proses belajar  memang tumbuh dari hal-hal sesederhana.

Diolah dari Notulensi Andre

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *