karya anak salam

Kota Kecil yang Tumbuh Bersama Kenangan

Menjelang siang di ruang Sukrosono, suasana mulai berubah. Setelah dua presentasi sebelumnya selesai, ruangan yang tadinya agak lengang perlahan dipenuhi suara langkah kaki, sapaan singkat, dan kursi yang digeser. Teman-teman kelas 12 mulai berdatangan. Beberapa alumni ikut hadir. Mantan fasilitator yang pernah mendampingi mereka setahun lalu juga tampak duduk di antara para penonton. Ada rasa seperti pulang ke sebuah pertemuan lama.

Di tengah suasana itu, Mikhael Wisia Shena Adiwijaya maju ke depan dengan tenang. Tidak tergesa-gesa, tidak terlihat gugup. Ia duduk di kursi seperti presentator sebelumnya, membuka laptop, lalu mulai bercerita tentang satu kota yang baginya bukan sekadar titik di peta: Salatiga.

Slide pertama menampilkan infografis tentang Salatiga sebagai kota toleran, disusul peta dan beberapa foto sudut kota. Namun sejak awal terasa bahwa yang sedang dipresentasikan Mikhael bukan hanya kumpulan data. Ia sedang berbicara tentang ruang hidup yang tumbuh bersamanya sejak kecil.

Tema itu muncul bersamaan dengan tugas UPK yang sedang ia kerjakan. Ketika didorong untuk mengambil sesuatu yang dekat dengan kesehariannya, Mikhael memilih kota yang selalu ia bolak-balik: Salatiga dan Yogyakarta. Kota tempat keluarganya berada, tempat Eyangnya tinggal, tempat ia pulang untuk berlibur, sekaligus tempat yang sebentar lagi mungkin harus ia tinggalkan lebih lama jika diterima kuliah di Universitas Pelita Harapan. Karena itulah, riset ini terasa personal.

Mikhael menjelaskan bahwa ia mencari berbagai data melalui internet, lalu mencocokkannya dengan pengalaman dan ingatannya sendiri. Ia terlihat menguasai seluruh isi presentasi, tetapi wajahnya paling hidup ketika memasuki bagian sejarah.

Ia memulai dari penemuan prasasti pada abad ke-8 yang menjadi salah satu penanda awal keberadaan Salatiga. Dari sana, ia melompat ke masa ketika kota itu berkembang menjadi kotamadya dan dihuni banyak orang Belanda. Ia juga menceritakan asal-usul nama “Salatiga” yang, menurut salah satu versi cerita rakyat, berasal dari kisah tentang tiga kesalahan istri seorang pejabat.

Cara Mikhael menyampaikan sejarah terasa ringan, seperti sedang mengobrol. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia tidak membuat sejarah terdengar jauh. Ia juga bercerita tentang tahun 1950, ketika kota itu dibumihanguskan oleh pejuang Indonesia untuk mengusir Belanda. Setelah masa itu berlalu, Eyang Mikhael ikut terlibat dalam pembangunan kota sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah. Sejarah kota, rupanya, tidak sepenuhnya berdiri di luar keluarga mereka sendiri.

Kini Salatiga dikenal sebagai kota pensiunan dengan udara sejuk yang sering dibandingkan dengan Swiss. Namun bagi Mikhael, kota itu sedang berubah cepat. Ia melihat perubahan itu membawa dua wajah sekaligus.

Kampus-kampus yang berkembang membuat kafe menjamur di banyak sudut kota. Fenomena itu, menurutnya, mirip dengan yang terjadi di Jogja bagian utara. Kehadiran pabrik juga meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak orang mendapatkan peluang usaha baru. Hal-hal sederhana yang dulu sulit kini menjadi mudah. Mikhael mengingat masa kecil ketika mencari jajanan harus menempuh jarak cukup jauh, sementara sekarang hampir semuanya tersedia dekat rumah.

Tetapi perkembangan juga membawa konsekuensi lain. Kemacetan mulai terasa. Polusi meningkat. Harga fasilitas umum menjadi lebih mahal. Ia memberi contoh ongkos angkot yang dulu hanya dua ribu rupiah. Perubahan itu tidak sepenuhnya bisa ia nilai baik atau buruk. Ada keuntungan yang nyata, tetapi juga kehilangan yang perlahan terasa. Salah satu momen yang paling mengundang tawa muncul ketika Mikhael menyebut simbol kemajuan kota Salatiga. “Starbucks,” katanya. Kafe itu belum ada ketika ia kecil dulu.

Ruangan langsung riuh. Bu Dewi tertawa dan menimpali bahwa ia merasakan hal serupa dengan kota masa kecilnya di Bondowoso. Bedanya, kata Bu Dewi, simbol kemajuan di sana bukan Starbucks, melainkan Tomoro Coffee. Percakapan singkat itu membuat suasana menjadi cair. Kota-kota kecil rupanya punya cara sendiri untuk mengukur perubahan zaman.

Mikhael juga sempat mengajak audiens bermain tebak-tebakan tentang tokoh pahlawan asal Salatiga. Ia memberi petunjuk: nama tokohnya pasti dilewati jika naik bus menuju Prambanan. Setelah beberapa detik berpikir, Bu Dewi berhasil menjawab: Adisoetjipto.

Dalam sesi tanya jawab, pembicaraan bergerak lebih jauh dari sekadar nostalgia kota. Ayah Mikhael menyinggung soal dampak pembangunan terhadap distribusi air dan sumber daya yang belum merata. Ia melihat masih banyak isu sosial yang bisa digali dari Salatiga. Meski demikian, ia mengaku puas dengan cara Mikhael membawakan ceritanya.

Bu Dewi lalu bertanya tentang nama-nama tempat unik seperti Kopeng dan tanaman lokal yang dijual di pasar sayur Salatiga. Mikhael menjelaskan bahwa Kopeng sebenarnya masuk wilayah Semarang, bukan Salatiga. Dari situ ia menunjukkan betapa kecilnya kota Salatiga dan menjelaskan batas-batas wilayahnya. Ketika ditanya soal produk pertanian khas, Mikhael mengaku kesulitan menemukannya karena banyak lahan pertanian kini berubah menjadi perumahan.

Pertanyaan terakhir datang dari Lekha. Ia bercerita bahwa tamu-tamu cooking class keluarganya dari Belanda sering mengaku memiliki kakek-nenek yang berasal dari Salatiga. Apakah masih ada kawasan bekas permukiman Belanda di sana?

Mikhael menjawab bahwa kawasan itu memang ada, tetapi jumlah orang Belanda yang tinggal di sana sekarang sudah jauh berkurang. Jika masih ada warga asing, kebanyakan tinggal di sekitar sekolah internasional. Ia lalu menunjukkan area tersebut di peta.

Sepanjang presentasi, ruangan menyimak dengan tenang. Tidak banyak yang memotong. Tidak banyak suara gaduh. Orang-orang seperti sedang ikut berjalan bersama Mikhael menyusuri kota yang ia kenal sejak kecil.

Di akhir proses ini, yang terlihat bukan hanya presentasi tentang sebuah kota, melainkan perjalanan seorang anak muda memahami tempat asalnya sendiri.

Semester ini sebenarnya tidak mudah bagi Mikhael. Rencana awal risetnya berubah jauh karena berbagai kesulitan. Di saat bersamaan, ia juga dibayangi kecemasan tentang penerimaan universitas dan tanggung jawab pelayanan di gereja. Namun perlahan ia tetap menyusun semuanya: mencari data, membaca sejarah, menghubungkan ingatan pribadi dengan perubahan sosial kota. Banyak kerja keras itu mungkin tidak tampak langsung di layar presentasi.

Tetapi justru di situlah arti penting presentasi ini. Salatiga akhirnya bukan hanya menjadi objek riset bagi Mikhael, melainkan cara untuk memahami rumah, perubahan, dan kemungkinan perpisahan yang sebentar lagi harus ia hadapi.[]

Diolah dari notulensi, ditulis Andre

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *