karya anak salam

Merintis Ulang dari Galon-Galon yang Kosong

Pagi itu, Senin, 11 Mei 2026, halaman depan ruang Sukrosono masih terasa lengang ketika Ahmad Junaid Kelas 3 SMA Sanggar Anak Alam sudah datang lebih awal. Jam belum menunjukkan pukul sembilan, tetapi ia telah duduk santai di lapangan, bercengkrama dengan teman-teman panitia Bulan Presentasi. Ada ketenangan yang tampak biasa pada dirinya, seolah hari itu bukan hari yang menegangkan. Padahal, beberapa menit lagi ia akan berdiri sebagai presenter pertama, membagikan perjalanan risetnya tentang sebuah usaha keluarga yang pernah hidup, lalu nyaris berhenti oleh pandemi. Judul risetnya sederhana: Merintis Kembali Bisnis Air Isi Ulang.

Bersama fasilitatornya, Junaid masuk ke ruang Sukrosono untuk menyiapkan tempat presentasi. Semua alat sudah tersedia. Laptop dan slide presentasi telah siap. Namun kursi-kursi audiens masih banyak yang kosong. Hingga pukul 09.00, hanya ada beberapa orang di ruangan: Cahya, Bu Dewi, dan dua anak dari divisi perlengkapan. Mereka sepakat menunggu beberapa menit lagi agar suasana lebih ramai. Sedikit demi sedikit, teman-teman Junaid mulai berdatangan. Ayya hadir, lalu Gabriel dan Mikhael bersama orang tua mereka. Pukul 09.15, presentasi akhirnya dimulai.

Junaid membuka presentasinya dengan santai. Ia tidak berdiri di depan layar seperti kebanyakan orang. Ia memilih duduk di kursi kecil sambil bercerita. Slide demi slide berganti perlahan, dibantu fasilitator yang menjadi operator presentasi. Namun di balik ketenangan itu, tampak ada kegugupan yang disembunyikan. Ceritanya lebih pendek dari biasanya. Penjelasannya ringkas, hampir terlalu ringkas. Gabriel bahkan sempat menyela dengan spontan. “Ceritanya ditambah lagi, dong,” katanya, meminta Junaid menjelaskan lebih banyak tentang proses risetnya. Junaid hanya tersenyum kecil.

Tentang pelajaran yang ia dapatkan, ia menyebut dua kata penting: ketelitian dan kesabaran. Tetapi dua kata itu belum benar-benar dibuka maknanya. Seolah pengalaman yang dialaminya masih tersimpan di dalam kepala, belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi cerita.

Karena itulah fasilitator belum langsung membuka sesi tanya jawab untuk audiens. Ada banyak bagian yang terasa belum keluar. Pertanyaan demi pertanyaan kemudian diarahkan kepada Junaid agar ia perlahan membuka proses yang sesungguhnya.

Dan benar saja, ketika ditanya, Junaid justru lebih lancar berbicara. Ia mengaku memang lebih nyaman ditanya daripada menjelaskan sendiri. Dari situlah kisah tentang usaha air isi ulang itu mulai mengalir.

Usaha tersebut sebenarnya bukan usaha baru. Belasan tahun lalu, usaha itu dirintis oleh simbahnya. Namun pandemi COVID-19 membuat usaha itu berhenti berjalan. Tahun 2025, keluarga mereka mencoba memulainya kembali. Dalam proses itulah Junaid ikut terlibat, bukan sekadar membantu, melainkan benar-benar menjalankan sebagian pekerjaan penting.

Ia belajar mempromosikan usaha, melayani pelanggan, mengantar galon, hingga mencatat penjualan harian. Pekerjaan-pekerjaan yang tampak sederhana itu perlahan mengubah cara pandangnya tentang belajar.

Ia mencoba memahami bagaimana promosi bekerja. Brosur disebarkan. Promo gratis ongkos kirim diberikan. Setiap pembeli dicatat: siapa pelanggan baru, siapa pelanggan lama, siapa yang kembali membeli setelah promo dihentikan.

Dari sana ia mulai percaya diri. Ternyata ada pelanggan yang tetap membeli meskipun gratis ongkir sudah tidak ada lagi. “Itu berarti promosinya berhasil,” kira-kira begitu kesimpulan yang ia tangkap dari pengalamannya sendiri. Namun riset Junaid tidak berhenti pada soal jualan.

Ia juga mencoba memahami kualitas air yang mereka jual. Ia membandingkan air biasa, air RO, dan air hujan yang dielektrolisis di SALAM. Belum ada uji laboratorium, tetapi ia mencoba memakai pengamatan sederhana: rasa, bau, dan warna.

Menurutnya, air RO dan air hujan yang dielektrolisis terasa “lebih segar” ketika baru diminum. Meski rasa segar itu perlahan hilang setelah dua minggu, air-air tersebut masih tetap layak konsumsi berbulan-bulan kemudian.

Ada rasa ingin tahu yang tumbuh dari pengamatan sehari-hari. Bukan dari teori di buku. Bukan dari hafalan. Melainkan dari pengalaman langsung menyentuh pekerjaan. Di tengah proses itu, Junaid juga belajar bahwa pelanggan tidak selalu sama. Ada pelanggan yang baik hati dan berinisiatif membantu meringankan pekerjaannya. Tetapi ada pula pelanggan yang bersikap tidak sopan, bahkan berasal dari sebuah institusi sosial. Dari situ ia belajar tentang kesabaran.

Bukan kesabaran yang diajarkan lewat nasihat panjang, melainkan kesabaran yang muncul karena harus tetap mengantar galon dan tetap bersikap sopan meskipun diperlakukan kurang baik. Pelajaran tentang ketelitian datang dengan cara yang lebih keras.

Suatu hari, catatan keuangannya mengalami selisih. Ada angka yang tidak cocok. Akibatnya, gajinya dipotong untuk menutup kekurangan tersebut. Ia mengingat peristiwa itu dengan jelas. Kesalahan kecil ternyata punya konsekuensi nyata. Dan sejak itu, mencatat bukan lagi pekerjaan sepele.

Di tengah presentasi, ibunya akhirnya datang. Kondisinya memang sedang kurang fit, tetapi ia tetap menyempatkan hadir untuk melihat sebagian proses presentasi anaknya. Ketika diminta memberi penilaian tentang Junaid, Bu Laily tersenyum.

Menurutnya, Junaid mulai belajar mengatur waktu dan uang. Untuk soal kedisiplinan, ia memberi nilai delapan dari sepuluh. Ruangan langsung dipenuhi tawa dan tepuk tangan kecil. Bu Laily juga mengungkapkan sesuatu yang membuat audiens ikut tersenyum memahami.

Keseriusan Junaid, katanya, muncul karena ada kepastian tentang upah yang diterima. Dan memang begitulah dunia kerja bekerja: tanggung jawab sering kali tumbuh bersamaan dengan kesadaran bahwa setiap pekerjaan memiliki konsekuensi nyata.

Dalam sesi tanya jawab, Pak Andono — ayah dari Mikhael dan Gabriel — mengajukan pertanyaan cukup teknis. Ia bertanya tentang air RO yang tidak mengandung mineral, tentang alat-alat yang perlu dirawat terus-menerus, dan tentang kualitas air yang dijual.

Junaid menjawab dengan jujur. Ia mengaku masih banyak yang belum ia pahami. Sejak kecil ia terbiasa minum air RO sehingga tidak punya pembanding rasa. Ia juga belum memiliki dana darurat untuk memperbaiki alat jika sewaktu-waktu rusak. Bahkan, ia belum pernah melakukan pengecekan laboratorium terhadap kualitas airnya karena belum memiliki alat yang memadai.

Jawaban-jawaban itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru di sanalah letak pentingnya proses belajar: keberanian untuk mengakui apa yang belum diketahui. Di akhir sesi, fasilitator bertanya apakah Junaid yakin ingin melanjutkan usaha ini. Jawabannya mantap.

Setidaknya untuk satu tahun ke depan, ia ingin fokus merintis kembali usaha keluarga tersebut. Ia memahami bahwa membangkitkan usaha yang pernah berhenti membutuhkan waktu dan kesabaran. Dan, di titik itulah proses riset ini menjadi lebih besar daripada sekadar tugas presentasi sekolah. Ia mulai menemukan jalan hidup yang terasa dekat dengan dirinya sendiri.

Junaid bahkan mengatakan bahwa belajar tidak harus selalu dilakukan di bangku kuliah. Menurutnya, ia tetap bisa belajar dari buku, pengalaman, dan berbagai konten yang ia tonton. Sementara itu, ia merasa dirinya memang lebih cocok berbisnis, terutama bersama keluarga.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di usia muda, keyakinan semacam itu tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari galon-galon yang diantar sendiri. Dari catatan penjualan yang sempat salah hitung. Dari pelanggan yang ramah maupun kasar. Dari rasa segar air yang perlahan menghilang setelah dua minggu. Dan dari sebuah usaha kecil keluarga yang mencoba hidup kembali setelah pernah lama sunyi.[]

Diolah dari notulensi yang ditulis Anfre

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *