karya anak salam

Menjaga Api “Pakpung” Tetap Menyala

Di penghujung rangkaian presentasi hari itu, setelah suasana emosional dari presentasi sebelumnya perlahan mereda, Citralekha Laksmi Purohita melangkah maju untuk menyampaikan perjalanan risetnya. Ruang Petruk Bawah masih dipenuhi jumlah audiens yang hampir sama. Ayah dan ibunya tetap duduk setia menemani, menyaksikan presentasi terakhir Lekha di SALAM—sebuah penanda bahwa satu fase penting dalam hidupnya segera berakhir.

Kali ini, Lekha ditemani Koh Davin sebagai moderator. Meski baru menjadi fasilitator di SALAM, Koh Davin sudah lama mengenal Lekha dan keluarganya. Dengan santai ia membuka sesi sambil mempromosikan merek “Pakpung”, usaha produk natural yang telah dibangun Lekha sejak beberapa semester lalu. Nama itu bukan lagi sekadar proyek sekolah; ia telah tumbuh menjadi ruang belajar, tempat jatuh bangun, sekaligus mimpi tentang hidup mandiri.

Namun ada sesuatu yang berbeda dari presentasi-presentasi Lekha sebelumnya. Jika dulu ia datang membawa berbagai produk hasil racikannya, kali ini ia hadir dengan tangan kosong. Tidak ada botol kecil minyak rambut, tidak ada balm, tidak ada aroma essential oil yang biasa menguar dari meja presentasinya. Barangkali karena gugup, Lekha justru tampak ragu ketika diminta menceritakan kembali perjalanan yang ia alami sepanjang semester ini. Ia lebih banyak berbicara tentang pengalaman lama dan rencana masa depan. Tetapi perlahan, melalui pertanyaan-pertanyaan kecil yang diajukan Koh Davin, ingatan dan cerita itu mulai mengalir kembali.

Semester ini, Lekha sedang mencoba mengembangkan bisnisnya agar lebih mapan menopang kebutuhan hidupnya sendiri. Ia mulai memikirkan usaha itu bukan hanya sebagai karya kreatif, melainkan sebagai sesuatu yang benar-benar bisa menghidupi. Karena itu, ia mencoba banyak langkah baru: mencari tempat konsinyasi, menciptakan produk baru, hingga merancang lokakarya atau workshop.

Dari proses itu lahirlah beberapa produk baru seperti hair oil dan repair balm. Tetapi di tengah perjalanan, Lekha justru menemukan bahwa energi terbesarnya tidak lagi berada pada produksi massal. Ia mulai lebih tertarik mengelola workshop. Baginya, lokakarya terasa lebih hidup dan kolaboratif. Ia tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.

Keputusan itu juga didukung oleh lingkungan di sekitarnya. Kelas memasak ibunya yang cukup sering menerima tamu dari mancanegara membuka peluang baru. Lekha belajar memanfaatkan platform wisata untuk menawarkan workshop natural product miliknya. Ia bahkan pernah menerima tamu dari Prancis. Dari situ ia belajar bahwa dunia digital dapat mempertemukan orang-orang dari tempat yang jauh dengan gagasan kecil yang ia bangun dari rumah.

Meski demikian, pengalaman menerima tamu asing secara mendadak juga memberinya pelajaran penting. Persiapan yang terlalu terburu-buru membuatnya kelelahan. Ia mulai memahami bahwa membangun usaha bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga soal ritme kerja dan kemampuan menjaga diri sendiri.

Kegagalan lain datang ketika ia mencoba membuat lotion. Berkali-kali ia melakukan trial and error, mengeluarkan cukup banyak biaya, namun hasilnya belum sesuai harapan. Produk itu akhirnya ia hentikan sementara. Tidak semua eksperimen berhasil, dan Lekha tampaknya mulai berdamai dengan kenyataan itu.

Ia juga mulai merasa lelah mengikuti pasar-pasar artisan yang berpindah-pindah lokasi. Dua hari berjualan di satu tempat, lalu berpindah lagi ke tempat lain, ternyata menguras tenaga. Dari sana ia belajar bahwa bertahan dalam dunia usaha bukan hanya soal semangat, tetapi juga soal memilih strategi yang memungkinkan seseorang tetap hidup dengan waras.

Karena itu, langkah konsinyasi dan workshop menjadi cara baru untuk menjaga agar merek “Pakpung” tidak “mati konyol”, seperti istilah yang ia gunakan sendiri. Ia sadar bahwa memilih tempat konsinyasi tidak bisa sembarangan. Relasi kerja sama harus dibangun dengan hati-hati. Tempat penitipan produk pun perlu mengenal siapa dirinya, bagaimana produknya dibuat, dan nilai apa yang dibawa oleh merek tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, tampak jelas bagaimana Lekha mulai memiliki cara berpikir seorang periset sekaligus pelaku usaha. Ketika ditanya tentang proses pengembangan produk baru, ia menjelaskan bahwa dirinya membuat daftar khasiat dari berbagai bahan yang dimiliki. Dari situ ia mulai meracik formula sesuai tujuan produk yang diinginkan. Setelahnya, sampel diberikan kepada teman atau saudara untuk mendapatkan umpan balik. Proses sederhana itu memperlihatkan bagaimana riset hadir dalam keseharian Lekha—tidak selalu dalam bentuk laporan ilmiah, tetapi melalui pengamatan, percobaan, dan evaluasi terus-menerus.

Ketika Bu Dewi bertanya apakah ia tidak takut peserta workshop akan menjadi kompetitor, Lekha menjawab dengan penuh keyakinan. Resep yang ia bagikan tidak sepenuhnya sama dengan produk yang ia jual sendiri. Lagi pula, sebagian besar peserta datang dari luar kota atau luar negeri. Tetapi jawaban paling menarik justru muncul ketika ia mengatakan bahwa tangan yang berbeda akan menghasilkan produk yang berbeda, meski bahan yang digunakan sama. Ia memberi contoh sederhana: nasi goreng buatan ayah dan ibunya selalu memiliki rasa berbeda walaupun memakai bahan yang sama.

Jawaban itu memperlihatkan bahwa Lekha percaya pada nilai personal dalam setiap karya. Bahwa produk bukan sekadar formula, tetapi juga pengalaman, sentuhan, dan karakter pembuatnya.

Di sisi lain, Lekha juga mulai memahami rumitnya relasi manusia dalam dunia usaha. Ia bercerita tentang pengalaman menghadapi partner kerja, pelanggan, hingga teman yang menipunya di kota lain. Pengalaman-pengalaman itu membuatnya semakin berani memperjuangkan haknya ketika merasa diperlakukan tidak adil.

Salah satu momen paling menarik justru terjadi ketika sesi tanya jawab dibuka untuk orang tua. Dengan tegas namun santai, Lekha menolak komentar dari ayah dan ibunya saat itu juga. Ia mengatakan bahwa komentar mereka lebih baik dibicarakan nanti di rumah saja. Orang tuanya pun menghormati keputusan itu dan tetap menyimak dengan tenang hingga akhir sesi.

Di balik keberanian berbicara dan ketegasan sikapnya, tampak seorang anak muda yang sedang belajar membangun dirinya sendiri. Lekha mungkin merasa bahwa risetnya kini tidak lagi seperti proyek-proyek ilmiah di masa SMP atau awal SMA. Namun sebenarnya, prinsip-prinsip riset telah hidup di setiap keputusan yang ia ambil: mencoba, gagal, mengevaluasi, lalu mencoba lagi.

Presentasi itu bukan sekadar cerita tentang bisnis produk natural. Ia adalah kisah tentang seorang anak muda yang sedang belajar menjaga api kecil miliknya agar tetap menyala—di tengah kelelahan, kegagalan, persaingan, dan hubungan manusia yang sering kali rumit.

Dari Notulensi Andre

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *