Blog

“Di Beranda INS Kayutanam”

Sore turun perlahan di halaman INS Kayutanam. Angin membawa bau kayu basah dari ruang pertukangan. Dari kejauhan terdengar bunyi ketukan palu, suara anak-anak bernyanyi, dan gesekan pensil di papan gambar. Tidak ada suasana sekolah yang kaku. Tempat itu lebih mirip bengkel kehidupan.

Saya duduk di bangku kayu panjang bersama Mohammad Sjafei. Ia memakai jas sederhana, peci hitam, dan tatapannya tenang tetapi tajam. “Aneh ya,” kataku sambil memandang murid-murid yang sedang bekerja membuat meja kecil, “di sekolah ini anak-anak seperti tidak sedang sekolah.”

Sjafei tersenyum tipis. “Karena sekolah terlalu lama disalahpahami,” jawabnya. “Kolonial menganggap sekolah itu pabrik pegawai. Saya tidak ingin membuat pabrik.” “Lalu sekolah itu apa?” “Ia harus menjadi tempat manusia belajar merdeka.” Aku diam.

Di depan kami seorang anak sedang mengikir kayu dengan sangat serius. Tangannya penuh serbuk. Sjafei menunjuk anak itu. “Lihat,” katanya, “di sana ada pelajaran matematika, kesabaran, tanggung jawab, keindahan, dan harga diri sekaligus.” “Tapi banyak orang bilang pendidikan harus fokus pada ilmu pengetahuan.”

“Iya,” katanya cepat, “tetapi ilmu tanpa kehidupan hanya melahirkan manusia yang pandai berbicara dan tidak mampu bekerja.” Ia mengambil ranting kecil lalu menggambar lingkaran di tanah. “Sekolah kolonial terlalu memuja kepala.” Lingkaran pertama ia beri titik. “Padahal manusia punya hati.” Ia menggambar lingkaran kedua. “Dan tangan.” Lingkaran ketiga. “Tiga-tiganya harus hidup bersama.”

Aku mengangguk pelan. “Head, Heart, Hand?” tanyaku. Sjafei tersenyum. “Kalau kepala berjalan sendiri, lahirlah kaum terpelajar yang asing terhadap rakyatnya sendiri.” Angin sore meniup daun-daun asam di halaman. Beberapa murid tampak membersihkan alat kerja tanpa diperintah.

Aku bertanya lagi, “Kenapa Tuan begitu keras menolak pendidikan hafalan?” Wajahnya berubah lebih serius. “Karena bangsa terjajah paling mudah dikuasai jika rakyatnya hanya pandai mengulang kata-kata orang lain.” “Jadi hafalan membuat orang tidak merdeka?” “Hafalan bukan masalah utama,” katanya. “Masalahnya adalah ketika sekolah membunuh keberanian berpikir.”

Ia lalu mengucapkan pelan: “Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, apa yang saya kerjakan saya tahu.” Kalimat itu menggantung di udara seperti doa. Aku memandang ruang musik di ujung halaman. Ada anak memukul biola dengan cara yang salah hingga terdengar sumbang. Teman-temannya tertawa.

“Tapi mereka tampak bebas sekali,” kataku. “Karena anak-anak bukan tentara.” “Sekolah modern sekarang justru makin seragam,” kataku. “Anak dipaksa sama: nilai sama, cara belajar sama, cita-cita sama.” Sjafei tertawa kecil. “Itu seperti meminta pohon rambutan berbuah mangga.” Aku ikut tertawa.

“Setiap anak membawa bakatnya sendiri,” lanjutnya. “Tugas pendidikan bukan menyeragamkan manusia, tetapi membantu mereka menemukan dirinya.” “Kalau begitu guru tidak boleh merasa paling tahu?” “Guru harus menjadi penolong pertumbuhan.” Suasana mulai gelap. Lampu-lampu minyak dinyalakan.

Aku bertanya pelan, “Apakah Tuan yakin pendidikan bisa membebaskan bangsa?” Sjafei menatap jauh ke arah halaman. “Penjajahan bukan hanya soal tentara,” katanya lirih. “Yang paling berbahaya adalah ketika bangsa kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.” Ia berhenti sejenak.

“Karena itu saya lebih takut kepada sekolah yang membuat anak merasa kecil dibanding penjara kolonial.” Kalimat itu menghantamku diam-diam. “Jadi kemerdekaan dimulai dari cara belajar?” “Iya.” “Bangsa yang hanya dididik menjadi bawahan akan terus mencari tuan baru meski penjajah lama sudah pergi.”

Di kejauhan terdengar suara murid menyanyikan lagu perjuangan. Aku memandang lelaki tua itu dengan kagum. “Ternyata Tuan sedang membangun republik jauh sebelum republik berdiri.” Sjafei tersenyum sangat pelan. “Tidak,” katanya. “Saya hanya berusaha menjaga agar anak-anak Indonesia tidak tumbuh menjadi manusia yang takut berpikir, takut bekerja, dan takut menjadi dirinya sendiri.”

Langit Kayutanam semakin gelap. Tetapi dari ruang-ruang kecil sekolah itu, cahaya lampu terus menyala—seperti keyakinan bahwa pendidikan seharusnya tidak mencetak manusia patuh, melainkan manusia merdeka.[]

Bottom of Form

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *