karya anak salam

Shalom, Lip Balm yang Mengajarkan Kepercayaan

Di ruang Bagong pagi itu belum sepenuhnya ramai. Kursi-kursi masih banyak yang kosong ketika Faustina Gifty Shalom Prakestari—yang akrab dipanggil Shalom—bersiap untuk mempresentasikan risetnya. Di depan ruangan, Bu Woro tampak sibuk mengutak-atik laptop yang mendadak error. Beberapa kali dicoba, layar tetap tidak bersahabat. Suasana sempat sedikit tegang, sampai akhirnya Bu Woro turun ke perpustakaan untuk melapor kepada panitia. Tak lama kemudian, Jalu, kakak SMP, datang membawa laptop pengganti yang bisa digunakan. Ruangan perlahan kembali tenang.

Hari itu, Rabu, 13 Mei 2026, presentasi dibuka oleh Matthew dan Logan dari kelas 5. Dengan doa sederhana dan ucapan terima kasih kepada para hadirin, acara dimulai. Shalom menjadi presenter pertama pagi itu. Sedikit demi sedikit, ruang Bagong mulai dipenuhi peserta. Anak-anak dari Sekar, kakak-kakak SMP, adik-adik SD, para fasilitator, dan orang tua berdatangan. Ketika dihitung sekilas, jumlah audiens mencapai lebih dari empat puluh orang. Sebagian besar ternyata datang bukan hanya untuk mendengar presentasi, tetapi juga ingin mengikuti workshop membuat lip balm bersama Shalom setelah sesi selesai.

Di depan layar presentasi, Shalom tampak lebih percaya diri dibanding sebelumnya. Ia menggunakan media powerpoint untuk menjelaskan hasil risetnya tentang “Lip Balm Variasi”. Sesekali matanya masih terpaku pada layar, membaca tulisan yang sudah disiapkan, tetapi suaranya terdengar lebih mantap. Riset ini bukan sesuatu yang benar-benar baru baginya. Tema tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian semester sebelumnya, sehingga proses pengerjaannya terasa lebih akrab dan mengalir.

Shalom ingin mengembangkan kemampuannya membuat lip balm berbahan alami. Kali ini ia mencoba membuat variasi warna menggunakan bahan pewarna yang aman atau food grade. Dari percobaan-percobaan yang dilakukannya, ia menemukan bahwa tingkat ketajaman warna sangat dipengaruhi oleh persentase mica powder yang dicampurkan ke dalam bahan. Semakin banyak mica powder yang digunakan, semakin pekat pula warna lip balm yang dihasilkan.

Temuan sederhana itu menjadi penting karena lahir dari pengalaman mencoba secara langsung. Shalom tidak hanya mengikuti resep, tetapi mulai memahami hubungan antara komposisi bahan dan hasil akhir produk. Ia belajar bahwa membuat produk alami bukan sekadar mencampur bahan, melainkan juga tentang ketelitian menghitung ukuran dan memahami karakter setiap material.

Dalam sesi tanya jawab, Bu Woro bertanya mengenai perbedaan riset semester sebelumnya dengan riset kali ini. Shalom menjelaskan bahwa perbedaannya terletak pada penggunaan pewarna dan pilihan wadah produk. Ia juga menceritakan kesulitan yang dialaminya selama proses pembuatan, terutama saat menuang bahan agar ukurannya tepat. Kadang komposisinya tidak pas. Namun, meski ada tantangan, Shalom mengaku menikmati seluruh proses pembuatannya.

Ketika ada peserta yang bertanya mengapa produk lip balm tidak boleh terkena air, Shalom menjawab dengan cukup jelas. Menurutnya, air dapat menjadi tempat tumbuhnya bakteri sehingga produk mudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Jawaban itu menunjukkan bahwa ia mulai memahami bukan hanya cara membuat produk, tetapi juga alasan ilmiah di balik proses pembuatannya.

Salah satu momen yang paling berkesan pagi itu terjadi ketika Shalom menyampaikan rencana masa depannya. Setelah sebelumnya pernah membuat lilin, sabun mandi, dan lip balm berbahan alami, ia ingin mengembangkan semuanya menjadi produk yang memiliki merek sendiri. Keinginan itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan keberanian seorang anak untuk mulai membayangkan identitas karyanya sendiri.

Keberanian itu pula yang tampak ketika Shalom memutuskan mengadakan workshop setelah presentasi. Awalnya, orang tuanya hanya mengusulkan demonstrasi sederhana. Namun Shalom bersikeras ingin benar-benar mengajak peserta membuat lip balm bersama. Ia yakin bisa melakukannya. Ternyata keyakinannya tidak salah.

Workshop tersebut mendapat sambutan luar biasa. Kuota peserta cepat penuh. Ada dua puluh lima orang mengikuti workshop secara langsung, sementara dua orang lainnya membeli produknya karena tidak kebagian tempat. Anak-anak, orang tua, fasilitator, hingga kenalan keluarga tampak antusias mengikuti setiap langkah yang dipandu Shalom.

Dari riset ini, Shalom tidak hanya belajar membuat lip balm. Ia belajar menghitung penggunaan bahan, memahami persentase komposisi, hingga mengonversi ukuran ke satuan berat. Namun lebih dari itu, proses ini juga menjadi perjalanan belajar mengambil keputusan.

Awalnya Shalom sempat ingin meneliti tentang branding produk, tetapi ia belum menemukan ide dan teman belajar yang tepat. Akhirnya ia memilih mengembangkan riset sebelumnya dengan membuat variasi lip balm. Keputusan itu dipilihnya sendiri setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

Bagi orang tuanya, pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang memberi kepercayaan kepada anak. Kadang orang dewasa merasa lebih tahu apa yang aman dan realistis. Namun pagi itu, di ruang Bagong yang penuh sesak oleh peserta workshop, Shalom menunjukkan bahwa anak-anak sering kali mampu mengukur kemampuan dirinya sendiri. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk dipercaya.

Dari sebuah lip balm kecil berwarna-warni itu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih besar: rasa percaya diri, keberanian mengambil keputusan, dan keyakinan bahwa karya sederhana pun bisa menjadi awal dari mimpi yang lebih panjang.[]

Diolah dari notulensi Puput

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *