Selasa, 12 Mei 2026, ruang Limbuk Cangik dipenuhi suasana yang berbeda. Teman-teman kelas 4 hadir lengkap untuk menyaksikan presentasi riset Abraham Arya Pratama, atau yang akrab dipanggil Abe. Bahkan beberapa siswa dari Sekolah Akar Rumput ikut datang, bersama sejumlah orang tua yang duduk memperhatikan dengan antusias. Di tengah keramaian itu, Abe tampak bersemangat, meskipun ada sedikit ketegangan yang ia sembunyikan.
Malam sebelumnya, Abe berlatih membaca presentasi PowerPoint yang telah disusunnya. Ia sadar bahwa selama ini ia sering berbicara terlalu cepat ketika menjelaskan sesuatu. Karena itu, ia mencoba melatih tempo bicaranya agar lebih tenang dan mudah dipahami. Ia juga menyiapkan catatan kecil berisi kemungkinan pertanyaan yang mungkin muncul dari audiens. Persiapannya memang tidak terlalu rumit, tetapi dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Ketika presentasi dimulai, Abe berdiri di depan layar dengan suara yang terdengar lebih pelan dibanding biasanya. Ia membaca slide demi slide sambil berusaha menjaga ritme bicaranya. Sesekali, ketika merasa kembali terlalu cepat, Abe berhenti sejenak lalu mengulang penjelasan sebelumnya. Ia tampak benar-benar berusaha agar semua orang bisa mengikuti ceritanya.
Riset yang dipilih Abe berawal dari hal yang sangat sederhana: telur goreng keju. Ia bercerita bahwa dirinya sering membuat telur goreng keju di rumah, hingga suatu hari stok telur habis. Dari situ muncul keinginan sederhana namun serius: bagaimana jika ia memelihara ayam yang bisa menghasilkan telur setiap hari?
Ketertarikan itu semakin kuat karena tantenya bekerja di peternakan ayam petelur. Abe merasa memiliki tempat untuk bertanya dan belajar. Sebelum memulai riset, ia mengira telur yang biasa dimakan berasal dari ayam jawa yang sering berkeliaran di sekitar rumah. Namun setelah mulai mempelajari dunia peternakan, ia menyadari bahwa ayam petelur memiliki jenis dan perawatan yang berbeda.
Begitu Abe memutuskan tema risetnya, ayahnya segera membantu menyiapkan kandang. Beberapa hari kemudian, mereka membeli ayam petelur berusia sepuluh minggu sesuai saran narasumber. Namun pengalaman pertama memelihara ayam ternyata tidak berjalan mulus.
Saat ayam baru tiba di rumah, hewan-hewan itu mengalami stres. Mereka tidak mau makan dan tidak mau minum. Abe mulai khawatir. Malam itu juga ia berkonsultasi dengan narasumber untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan. Keesokan paginya, keadaan belum berubah. Ayah Abe kemudian memindahkan ayam ke kandang bekas burung yang lebih luas dan diletakkan di halaman berumput. Perlahan-lahan ayam mulai mau makan dan minum. Dari pengalaman itu, Abe belajar bahwa makhluk hidup juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Selama proses riset berlangsung, Abe mulai mengenal rutinitas yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Ia belajar memperhatikan jenis pakan, memantau berat badan ayam, mengingat jadwal vaksin dan vitamin, hingga membersihkan kandang. Beberapa kali ia membersihkan kandang sendiri, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai bau kotoran ayam. Dengan menahan napas, ia tetap melakukannya. Bantuan baru diminta ketika harus memindahkan ayam yang cukup sulit dipegang sendirian. Perjalanan itu membuat Abe perlahan memahami bahwa memelihara ayam bukan hanya soal mendapatkan telur, tetapi tentang merawat kehidupan setiap hari.
Saat sesi tanya jawab dimulai, Abe terlihat santai dan cukup percaya diri. Beberapa pertanyaan dari orang tua membutuhkan jawaban panjang, tetapi ia tetap berusaha menjelaskan sesuai pemahamannya. Teman-temannya pun tampak antusias mendengarkan cerita tentang ayam petelur, terutama pengalaman-pengalaman kecil yang terjadi selama riset berlangsung.
Selama menjalankan penelitian ini, Abe juga terbiasa mencatat berbagai informasi penting di buku risetnya. Bahkan sejak awal, ia sudah menuliskan hal-hal yang menurutnya mungkin akan ditanyakan saat presentasi nanti. Kebiasaan sederhana itu membuatnya lebih siap ketika berdiri di depan banyak orang.
Bagi orang tuanya, riset ini bukan hanya tentang ayam petelur atau telur yang dihasilkan setiap hari. Mereka melihat bagaimana Abe mulai belajar bertanggung jawab, menjaga konsistensi, serta berani menyampaikan pengalaman dan pengetahuannya di depan umum. Ada perubahan kecil tetapi nyata dalam cara Abe menjalani proses belajar.
Dari kandang ayam sederhana di rumah, Abe ternyata sedang memelihara sesuatu yang lebih besar daripada sekadar ayam petelur: ia sedang menumbuhkan rasa tanggung jawab, ketekunan, dan keberanian di dalam dirinya sendiri.
Diolah dari notulensi: Tandang dan Maya
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply