Pagi itu, Senin 18 Mei 2026, Ruang Bagong mendadak terasa lebih sempit dari biasanya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.30 WIB, namun riuh rendah suara orang tua, teman-teman, dan para fasilitator sudah memenuhi sudut-sudut ruangan. Di salah satu sudut, seorang anak laki-laki kelas 2 SD tampak berjalan mondar-mandir. Ahdanizar Titimangsa—atau yang akrab dipanggil Ahdan—sedang bertarung dengan rasa gugupnya sendiri. Namun, begitu namanya dipanggil untuk maju ke depan, sebuah senyuman langsung terkembang di wajahnya. Ia melangkah, mencoba menenangkan diri demi mempertanggungjawabkan sebuah riset sederhana namun mendalam yang telah ia tekuni sepanjang Semester 2 ini: Membuat Kentang Tumbuk.
“Selamat pagi teman-teman, sudah siap mendengar presentasiku?” sapa Ahdan interaktif, membuka ruang dengar. “Siaaaap!” sambut audiens serempak. Gemuruh jawaban itu seolah menjadi bahan bakar baru bagi Ahdan. Rasa gugupnya luruh, berganti menjadi sebuah keberanian dan rasa percaya diri yang tenang.
Didampingi Mbak Yaya sebagai fasilitator, Ahdan mulai memaparkan salindia Canva miliknya. Ia menjelaskan alur risetnya secara runtut dan detail. Keberhasilan Ahdan menguasai materi risetnya terlihat jelas saat ia menyadari ada hal yang terlewat pada catatannya. “Oh ini ternyata ada yang kurang, mericanya lupa belum ditulis, hehe…” celetuknya jujur, diiringi tawa kecil yang mencairkan suasana.
Ahdan bercerita dengan sangat lancar pada bagian persiapan awal—mulai dari memilih bahan, mengupas, memotong, mencuci, hingga merebus kentang. Namun, ia juga tak ragu mengakui bagian yang paling membuatnya bimbang: mencincang bawang putih dan daging ayam. Ada trauma kecil di sana; jarinya pernah terkena pisau saat praktik. Alih-alih nekat atau justru menyerah, Ahdan memilih jalur bijak dengan meminta bantuan ibunya untuk bagian yang berbahaya itu.
Riset ini bermula dari lidah dan selera. Ahdan sangat menyenangi hidangan kentang tumbuk (mashed potato) di restoran Holycow, tempat pertama kali ia mencicipi menu tersebut. Keinginan sederhana agar bisa menyantap makanan favoritnya kapan saja tanpa harus pergi ke restoran memicu lahirnya riset ini. Apalagi, bahan-bahannya ternyata mirip dengan bahan riset perkedel milik Mas Aslam, kakaknya.
Target dua kali praktik berhasil ia penuhi. Namun, esensi riset ini nyatanya jauh melampaui sekadar urusan dapur. Melalui pembuatan kentang tumbuk, Ahdan belajar banyak hal baru. Ia belajar bagaimana berbelanja dan memilih bahan sendiri. Ia juga belajar mengasah indera perasanya untuk menilai rasa, aroma, dan tekstur masakan. Hebatnya lagi, proses ini melatih kesabaran Ahdan secara luar biasa. Mengupas 1 kilogram kentang menggunakan peeler (alat pengupas) bukanlah perkara mudah bagi anak seusianya, terlebih Ahdan belum pernah menggunakannya sama sekali sebelum riset ini.
Meski sempat terluka oleh pisau di praktik pertama, Ahdan menolak menyerah dan tetap melanjutkan praktik kedua. Kegigihan itu berbuah manis. “Perasaanku senang, karena berhasil membuat kentang tumbuk sendiri,” ungkap Ahdan penuh kebanggaan.
Saat sesi presentasi dibuka untuk tanya jawab, suasana interaktif semakin terasa. Dukungan dari teman-teman yang menyimak dengan tekun bertransformasi menjadi rentetan pertanyaan menarik.
Bu Ninik membuka pertanyaan mengenai bagian tersulit dalam riset, yang langsung dijawab Ahdan dengan jujur: mencincang daging dan bawang. Ketika Bu Ninik mengejarnya dengan pertanyaan tentang bagaimana cara memilih kentang yang bagus, Ahdan sempat tertegun. “Belum tahu,” jawabnya jujur di awal karena ragu dan sempat lupa dengan nasihat ibunya. Namun, sambil mengingat-ingat kembali, ia kemudian menambahkan, “Oiya, kata Ibu pilih kentang yang tidak bolong dan permukaannya halus.”
Pertanyaan menggelitik juga datang dari Pak Adrian yang penasaran dengan modal belanja Ahdan karena rasa kentang tumbuk yang disajikan memang sangat enak. Dengan polos dan percaya diri, Ahdan menyahut, “Habis banyak, tapi aku ngga menghitung!” Riuh tawa kembali mewarnai ruangan. Sementara saat ditanya mengenai hasil praktik mana yang paling ia sukai, Ahdan mantap memilih hasil praktik kedua karena rasa ayamnya jauh lebih terasa.
Di balik sepiring kentang tumbuk yang lezat, ada transformasi karakter yang sedang tumbuh dalam diri Ahdan. Riset ini mengajarinya menentukan pilihan dan memegang tanggung jawab. Proses belajar tidaklah instan; ia harus dikerjakan bertahap dan dipersiapkan dengan matang, bukan sesuatu yang mendadak jadi dalam sekejap mata. Ahdan yang biasanya mudah bosan dan menyerah, hari itu membuktikan bahwa ia bisa sabar dan tekun. Ia juga belajar tentang arti kejujuran—berani mengakui apa yang belum diketahui di hadapan publik, serta tampil interaktif tanpa terus-menerus terpaku pada layar laptop.
Keberhasilan presentasi ini tentu tidak berdiri sendiri. Ada ekosistem yang mendukungnya. Teman-teman yang suportif, fasilitator yang memberi ruang bagi Ahdan untuk menjadi dirinya sendiri, serta peran besar orang tua yang memberikan motivasi, afirmasi, hingga membantu menyiapkan sampel makanan untuk diicip-icip oleh para audiens.
Sebagai notulis sekaligus ibu, ada sebuah refleksi mendalam yang tertinggal pascapresentasi. Di awal semester, Ahdan memang sempat mengalami kebingungan selama dua semester berturut-turut untuk menentukan ide riset. Ide kentang tumbuk ini pun sebenarnya datang dari sang Ibu, yang membuat Ahdan kurang antusias di awal proses. Ahdan sebenarnya sangat suka berjualan, namun kali ini ia rela menurunkan egonya karena tahu membuat kentang tumbuk untuk dijual secara massal akan sangat rumit.
Sebagai orang tua, Ibu Anne mencatat sebuah janji kecil untuk masa depan Ahdan: untuk lebih banyak mengobrol, mengurai keinginan, menggali potensi, dan memberikan ruang yang lebih luas bagi Ahdan dalam menentukan pilihannya sendiri secara mandiri.
Presentasi hari itu ditutup dengan rasa kenyang di perut audiens dan rasa bangga yang membuncah di hati. Ahdan bukan sekadar berhasil membuat kentang tumbuk, ia telah berhasil menumbuhkan kepercayaan dirinya sendiri.
Dari Notulensi Ibu Anne
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply