karya anak salam

Gelora dan Ikan Cupang: Belajar Bertanggung Jawab, Mencari Solusi, dan Berani Berkarya

Pagi itu, suasana Pelataran Lapangan Sanggar Anak Alam Yogyakarta terasa meriah. Anak-anak kelas 1 bersama orang tua dan fasilitator berkumpul untuk mengikuti Gelar Karya, sebuah momen istimewa yang menandai perjalanan riset mereka selama satu semester. Acara dibuka dengan penuh semangat melalui penampilan Pak Bima, Dabnono, dan teman-teman kelas 1 yang menyanyikan lagu Laskar Pelangi serta lagu Belajar Sama-Sama.

Setelah beberapa teman tampil, tibalah giliran Ivo Gelora Jantan Astagina, atau yang akrab dipanggil Gelora. Dengan penuh semangat, Gelora maju untuk menceritakan pengalaman risetnya tentang memelihara ikan cupang.

Riset ini berawal dari keinginan Gelora untuk belajar memahami proses memelihara hewan, melatih tanggung jawab, mencari solusi ketika menghadapi masalah, serta belajar disiplin dalam menjalankan rutinitas perawatan. Namun perjalanan tersebut ternyata tidak selalu berjalan mulus.

Di awal proses, Gelora memelihara dua ekor ikan cupang di dalam wadah soliter. Sayangnya, salah satu ikan tersebut mati. Ikan yang satunya lagi kemudian mengalami sakit. Meskipun menghadapi berbagai kendala, Gelora tidak menyerah. Ia justru semakin ingin memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara merawat ikan dengan lebih baik.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ikan cupangnya mengalami penyakit yang dikenal sebagai “sisik nanas”. Gelora melihat sisik ikan terbuka dan tubuhnya membengkak. Kondisi itu membuatnya sedih sekaligus penasaran. Ia kemudian mencari informasi dari berbagai sumber, mulai dari video YouTube hingga bertanya kepada penjual ikan di sekitar rumah. Dari proses tersebut, Gelora belajar bahwa ketika ikan sakit, tinggi air dalam wadah tidak boleh terlalu banyak. Air yang terlalu tinggi membuat ikan kesulitan mencapai permukaan untuk mengambil oksigen dan dapat menguras energinya.

Gelora juga mengalami kejadian tak terduga ketika salah satu ikan cupangnya melompat keluar dari wadah. Setelah mengamati penyebabnya, ia menyadari bahwa air di dalam wadah diisi terlalu penuh sehingga ikan lebih mudah melompat keluar. Pengalaman ini mengajarkannya pentingnya memperhatikan detail kecil yang ternyata sangat berpengaruh terhadap keselamatan ikan.

Dalam proses perawatan, Gelora menggunakan berbagai alat dan media pendukung, seperti wadah soliter, daun ketapang, ember untuk membudidayakan jentik nyamuk, tabel catatan pemberian makan, serta dokumentasi foto dan video. Ia juga memanfaatkan berbagai referensi dari YouTube untuk mempelajari jenis-jenis ikan cupang, cara merawatnya, makanan yang sesuai, hingga cara mengobati ikan yang sakit.

Salah satu bagian menarik dari riset Gelora adalah percobaannya membuat pakan hidup. Ia mengisi ember dengan air dan meletakkannya di luar rumah untuk menarik nyamuk bertelur. Setelah beberapa waktu, muncullah jentik-jentik nyamuk yang kemudian digunakan sebagai makanan ikan cupang. Melalui percobaan sederhana ini, Gelora belajar melakukan observasi sekaligus memahami hubungan antara lingkungan dan kebutuhan hewan peliharaannya.

Selain belajar merawat ikan, Gelora juga belajar mencatat kegiatan sehari-hari. Bersama Mbak Audrey, ia membuat tabel sederhana untuk mencatat jadwal pemberian makan pada pagi dan sore hari. Kegiatan ini membantu Gelora belajar menulis, membuat catatan, dan membangun kebiasaan disiplin.

Ketika sesi tanya jawab berlangsung, Gelora mampu menjawab berbagai pertanyaan dengan baik. Ia menjelaskan bahwa awalnya memelihara dua ekor ikan cupang, mengenalkan berbagai jenis ikan cupang yang telah dipelajarinya, serta menceritakan kesulitannya menjaga kebersihan air saat ikan sedang sakit. Bahkan ketika ditanya apakah ia tertarik mengembangbiakkan ikan cupang, Gelora menjawab bahwa untuk saat ini ia masih ingin fokus belajar merawat ikan dengan baik terlebih dahulu.

Menariknya, proses belajar Gelora tidak berhenti pada kegiatan memelihara ikan saja. Menjelang presentasi, ia mendapatkan ide untuk menggambar ikan cupang. Gambar tersebut kemudian dibuat menjadi stiker dengan bantuan ayahnya. Tak disangka, stiker hasil karyanya menarik perhatian banyak orang saat Gelar Karya dan berhasil terjual cukup banyak. Dengan penuh semangat, Gelora menghitung hasil penjualannya yang mencapai enam puluh ribu rupiah.

Pengalaman ini memberikan pelajaran baru bahwa hasil belajar dapat dikembangkan menjadi karya kreatif yang bernilai. Keberhasilan menjual stiker membuat Gelora semakin percaya diri terhadap kemampuan menggambarnya dan memahami proses sederhana dalam membuat sebuah produk.

Melalui riset memelihara ikan cupang, Gelora memperoleh banyak pembelajaran berharga. Ia belajar bertanggung jawab terhadap makhluk hidup, menjaga kebersihan lingkungan, disiplin menjalankan rutinitas, melakukan pengamatan, mencari informasi dari berbagai sumber, serta berani mencoba memecahkan masalah yang ditemuinya. Selain itu, kesempatan mempresentasikan hasil riset di depan teman-teman dan orang tua juga membantu meningkatkan rasa percaya dirinya dalam berbicara di depan umum.

Meski sempat merasa sedih ketika ikan kesayangannya sakit dan belum menemukan cara yang tepat untuk menyembuhkannya, Gelora tidak berhenti belajar. Justru dari berbagai tantangan itulah ia menemukan banyak pengetahuan baru, pengalaman berharga, dan bahkan ide kreatif yang berkembang menjadi karya stiker ikan cupang yang membanggakannya.

Perjalanan Gelora menunjukkan bahwa belajar tidak hanya tentang keberhasilan, tetapi juga tentang keberanian menghadapi kesulitan, kemauan mencari solusi, dan semangat untuk terus mencoba. Dari seekor ikan cupang, Gelora menemukan pelajaran tentang tanggung jawab, ketekunan, kreativitas, dan kepercayaan diri yang akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan belajarnya di masa depan.

Dari Notulensi: Pak Agung

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *