karya anak salam

Aroma Manis : Kisah Pancake dan Keberanian Kira

Rabu pagi, 20 Mei 2026, jarum jam menunjukkan pukul 09.15 WIB. Ruang Togog Bilung yang biasanya tenang mendadak riuh oleh suara langkah kaki dan obrolan khas anak-anak. Hari itu, jadwal presentasi riset semester dua sedikit molor lima belas menit demi menunggu seluruh pasukan kelas 2 SD SALAM berkumpul lengkap. Dua MC cilik, Agatha dan Sasi, dengan lincah membuka acara, memecah ketegangan yang sempat menggantung di udara.

Begitu nama Mireya Anna Sahasrakirana dipanggil, sebuah koor penyemangat langsung bergemuruh dari sudut-sudut ruangan. “Kira! Kira! Kiraaa!” seru teman-temannya lantang. Suntikan semangat itu bekerja magis. Kira melangkah ke depan dengan gestur yang sangat rileks, diiringi senyuman yang merekah lebar di wajahnya. Ada pemandangan yang berbeda sekaligus membanggakan semester ini: Kira berdiri sendiri di depan kelas, tanpa genggaman tangan Mama atau Papa yang biasa mendampinginya di kelas 1 dulu. Sebuah lompatan besar bagi rasa percaya dirinya.

Sambil memeluk sebuah buku yang menjadi media presentasinya, Kira menyapa audiensnya dengan renyah, “Selamat pagi teman-temaaan. Aku mau mempresentasikan risetku yang berjudul Membuat Pancake.”

Dengan langkah yang mantap, Kira membuka bukunya lembar demi lembar. Ia menjelaskan satu per satu alat dan bahan yang dibutuhkan. Riset ini bukan sekadar teori bagi Kira; ia telah mempraktikkan pembuatan pancake ini sebanyak tujuh kali di rumah. Sambil sesekali melirik catatannya—karena ingatan anak seusianya masih butuh panduan garis besar—Kira menceritakan bagaimana resep dan hasil dari praktik pertama hingga ketiga.

Mata Kira berbinar paling terang saat ia sampai pada cerita praktik keempat. Ini adalah bagian yang paling ia kuasai: teknik memisahkan kuning dan putih telur. Dengan nada antusias dan kalimat yang mengalir lebih lancar, ia memamerkan keberhasilannya membuat pancake yang benar-benar mengembang besar. Cerita pun berlanjut ke praktik kelima, keenam, hingga ketujuh tanpa kendala berarti.

Aktivitas presentasi itu ditutup dengan kejutan manis. Kira mengeluarkan tiga wadah berisi tepung misterius: terigu, tapioka, dan tepung beras. “Coba tebak, ini tepung yang mana?” tantang Kira dalam games sederhana yang ia rancang sendiri.

Ruangan langsung heboh. Teman-temannya berebut maju ke depan, menepuk-nepuk jemari mereka yang terkena bubuk putih, menebak dengan ragu, sementara Kira menyaksikannya dengan tawa riang.

Di balik presentasi yang meriah itu, ada proses panjang yang penuh tumpahan tepung, adonan gagal, dan diskusi hangat di meja dapur. Motivasi awal Kira sederhana saja: ia sangat suka makan pancake dan ingin membantu Mamanya membuat kue. Namun, prosesnya ternyata menuntut kemandirian yang tinggi. Dari menyiapkan alat hingga eksekusi resep, Kira melakukannya sendiri, sementara Mama bertindak sebagai pemandu di sampingnya.

Perjalanan riset ini adalah sebuah grafik naik turun:

  • Praktik Pertama: Gagal total. Pancake-nya keras dan tidak enak. Alih-alih menangis atau merajuk, Kira justru penasaran dan langsung mencari resep lain untuk dicoba berikutnya.
  • Praktik Kedua & Ketiga: Semangatnya terbayar. Hasil kue sudah jauh lebih enak dan bisa dinikmati bersama.
  • Praktik Keempat (Eksperimen Putih Telur): Berawal dari tantangan Mama untuk membuat pancake yang super mengembang, Kira belajar memecahkan telur sendiri. Awalnya ia ragu menyendok kuning telur dengan jarinya karena takut pecah. Setelah ditenangkan Mama bahwa telur yang pecah bisa dialihkan menjadi telur dadar, Kira memberanikan diri. Sempat gagal sekali, ia mencoba lagi dan berhasil hingga bersorak kegirangan. Proses melelahkan mengocok putih telur dengan mixer hingga kaku seperti “paruh burung” sempat membuatnya mengeluh capek, namun semua terbayar saat ia berhasil membuktikan adonannya tidak tumpah saat wadahnya dibalik.

Namun, tidak semua eksperimen berjalan mulus. Kira pernah mendapati pancake-nya gosong karena ia tinggal bermain saat adonan sedang dimasak di atas teflon. Dari sana ia belajar sains dapur yang sederhana: adonan di teflon yang tipis jauh lebih cepat matang dan rawan gosong dibanding teflon yang tebal.

Petualangan paling menantang terjadi pada praktik keenam dan ketujuh. Berawal dari diskusi bersama Mama tentang gandum yang harus diimpor dari luar negeri karena sulit tumbuh di Indonesia, Kira tertantang memanfaatkan tepung lokal yang ada di rumah.

Ketika mencoba tepung tapioka pada praktik keenam, hasilnya di luar dugaan. Adonan menjadi sangat encer dan tepungnya mengendap di dasar wadah. Meski sudah ditambah lima sendok makan tepung lagi atas saran Mama, adonannya tetap cair dan melebar tak beraturan saat dituang ke teflon. “Rasanya eneg dan teksturnya kenyal seperti mochi,” kenang Kira, meski ia justru mengingat proses gagal yang aneh ini sebagai pengalaman yang paling menyenangkan.

Baru pada praktik ketujuh, menggunakan tepung beras dengan teknik telur dipisah, Kira menemukan formula suksesnya. Pancake-nya empuk, mengembang, tidak bikin eneg, dan yang paling penting: Kira sangat suka rasanya.

Sesi tanya jawab menjadi momen yang paling menghibur sekaligus reflektif bagi semua orang dewasa yang hadir di ruang Togog Bilung. Saat Nana, salah satu temannya, bertanya tentang hal apa yang paling tidak disukai selama riset, Kira menjawab tanpa sensor dengan kepolosan khas anak-anak.

“Ada. Mamah marah-marah,” jawab Kira lantang. Ruangan seketika riuh oleh tawa dan kasak-kusuk. Bu Wiwin, sang fasilitator, ikut memancing penasaran, “Marah-marahnya gimana?” “Marahnya tu pas aku ga bener ngerjain riset,” lanjut Kira. Mendengar itu, beberapa teman sekelasnya langsung menyahut, mengaku mengalami nasib yang sama di rumah dengan orang tua masing-masing. Seolah menjadi juru bicara bagi anak-anak sebayanya, Kira menoleh ke arah deretan orang tua dan berkata dengan nada menasihati, “Makanya, Mamah-Mamah semua tu harus sabaaaarrrrr.”

Di luar momen jenaka itu, Kira menunjukkan kedewasaan berpikir. Ia bisa menjelaskan fungsi jeruk nipis untuk melembutkan pancake setelah mendapat pancingan pertanyaan dari Bu Wiwin. Dan ketika Bu Wiwin bertanya mengapa pancake dengan putih telur dikocok terpisah bisa lebih mengembang dan apa beda ilmiahnya dengan yang tidak dipisah, Kira dengan jujur menjawab, “Belum tahu.” “Walau belum tahu, bisa dicari tahu ya nanti di rumah, karena belajar tidak berhenti di riset saja,” respons Bu Wiwin lembut, yang disambut anggukan setuju oleh Kira.

Teori dan praktik di dapur rumah akhirnya dibawa Kira ke tingkat yang lebih menantang: berjualan dengan metode live cooking saat pasar Gelar Karya di sekolah. Sehari sebelum acara, dengan penuh antusias Kira menyiapkan papan informasi harga, alat-alat, dan bahan-bahannya. Kali ini, ia mempekerjakan Mamanya sendiri sebagai “asisten”.

Kira mendapatkan lapak di ruang Limbuk Cangik. Lokasinya agak jauh dari lapangan utama yang menjadi pusat keramaian, sehingga suasananya cenderung sepi. Namun, bagi anak kelas 2 SD yang sedang belajar, sepinya pembeli justru menjadi berkah tersembunyi. Kira tidak merasa kemrungsung (terburu-buru atau panik). Ia bisa menakar adonan dan membalik pancake di atas teflon dengan perlahan dan tenang saat pembeli datang satu per satu. Ia bahkan dengan lancar menjawab pertanyaan konsumen yang penasaran tentang perbedaan pancake tepung terigu dan tepung beras.

Ujian mental baru benar-benar tiba saat adonan pertama dan kedua habis, sementara antrean pesanan masih mengular. Dalam kondisi tergesa-gesa, Kira melakukan kesalahan tak sengaja: ia langsung mengocok putih telur di wadah dan menggunakan mixer yang masih kotor terkena sisa adonan kuning telur.

Akibatnya bisa ditebak secara sains. Mixer sudah dinyalakan dengan kecepatan penuh dalam waktu yang lama, namun putih telur itu tetap cair dan menolak untuk mengembang menjadi busa. Karena dikejar waktu, Kira dan Mama akhirnya pasrah dan langsung memasukkan tepung beras ke dalam adonan yang gagal mengembang tersebut.

Meski adonan terakhirnya tidak sesempurna biasanya, dari sana Kira mendapatkan ruang belajar yang paling berharga. Ia membuktikan sendiri kebenaran teori yang pernah diucapkan Mamanya: bahwa musuh utama putih telur yang hendak dikocok adalah kontaminasi air, minyak, atau kuning telur.

Sang Ibu: Belajar Menahan Diri

Bagi Florencia Margaretha, sang ibu dalam mendampingi Kira adalah sebuah perjalanan spiritual untuk menjinakkan ego sendiri. Di atas kertas, tantangan terbesar Kira sebenarnya hanyalah soal konsistensi menuliskan jurnal. Selepas lelah memasak, Kira selalu menuntut haknya untuk beristirahat dan menikmati pancake buatannya, sementara Mamanya mendesak agar hasil riset langsung ditulis saat itu juga agar detailnya tidak menguap.

Namun, refleksi terdalam justru lahir dari sudut pandang seorang ibu. Sang ibu menyadari bahwa ketika anak mengambil topik riset yang tidak ia kuasai, ia bisa menjadi mentor yang sabar karena sama-masing berada dalam posisi belajar. Namun, keadaan berubah 180 derajat saat anak memilih topik yang sangat dikuasai oleh orang tuanya, seperti dunia memasak ini.

Melihat ritme Kira yang lambat dalam memecahkan telur, menakar tepung, dan menyiapkan alat, sang ibu kerap merasa tidak sabar. Ada standar orang dewasa yang menuntut gerakan yang serba cepat dan taktis (sat-set). Saking tidak sabarnya melihat ritme anak yang merayap, kata-kata bernada tinggi terkadang lolos begitu saja dari mulutnya.

Komplain jujur dari Kira di tengah proses riset akhirnya menjadi tamparan lembut sekaligus rem yang efektif bagi sang ibu: “Yang sabar to, jgn marah-marah. Kalau adek salah ya kasih tahu aja salahnya di mana. Ga usah ngomong hal yang ga perlu.”

Melalui riset “Membuat Pancake” ini, yang mekar di ruang Togog Bilung bukan hanya adonan tepung beras dan terigu milik Kira. Di sana, tumbuh pula rasa percaya diri seorang anak perempuan yang kini berani berdiri tegak memimpin jalannya sendiri, berani mengajukan diri menjadi MC, dan dengan lapang dada menerima kesalahan sebagai bagian dari cara manusia belajar. Dan di saat yang sama, di sudut dapur yang harum itu, seorang ibu juga sedang belajar satu ilmu yang jauh lebih rumit daripada resep kue mana pun di dunia: ilmu menahan diri dan menyelaraskan langkah dengan ritme tumbuh kembang anaknya.

Dari Notulensi: Florencia Margaretha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *