Demokrasi sebagai luapan aspirasi, alih-alih sebagai luapan emosi

Pemilih dan yang dipilih pada hakekatnya berelasi bukan hanya sebagai barang atau perkara atau organisasi abstrak, tetapi selaku subyek manusiawi; bukan obyek proyek. – Romo Mangunwijaya

Kamis (6/2/20) Warga belajar Salam tengah menggelar hajat memilih ketua baru untuk Organisasi Anak Salam (OAS) periode 2020-2021. Bagi warga Belajar SALAM, memilih pemimpin baru OAS bukan sekedar melanjutkan tradisi, tetapi menjadi media mereka mengenal proses suksesi pergantian-pemilihan pemimpin.

Diantara sekian banyak cara memilih pemimpin, kami memilih untuk melakukan voting. Mengapa voting? Karena negara kita menggunakannya. Bukankah ini mengajari anak untuk menjadi terpecah-belah seperti halnya praktik pemilu kita? Justru sebaliknya, kami sedang berusaha mengenalkan pada anak, bahwa dalam sistem pemilihan apapun, yang paling penting adalah mental pemilihnya.

Semuanya dimulai dengan dibentuknya kepanitiaan kecil yang terdiri dari beberapa fasilitator yang berembuk tentang bagaimana proses pergantian pemimpin. Langkah pertama yang dilakukan oleh tim kecil ini adalah mencari kandidat ketua OAS.

Tim kerja memulai kerjanya dengan membuat pengumuman, barangsiapa yang berminat untuk untuk menjadi ketua OAS, dipersilahkan untuk mendaftar. Pengumuman ini ditujukan pada anak-anak yang duduk di kelas 8 hingga 11. Hingga hari berganti, tidak ada satupun anak yang mendaftarkan dirinya. Tidak adanya anak yang mendaftar ini bisa jadi mengindikasikan dua hal, pertama, tidak adanya ambisi untuk berkuasa, kedua, minimnya kepercayaan diri dalam memimpin. Karena ini adalah anak-anak, bisa jadi adalah keduanya.

Dengan kenyataan seperti itu, maka pada hari kedua, diadakanlah survey kepada seluruh warga SALAM dari jenjang SD hingga SMA. Masing-masing anak di tiap kelas diberi satu kertas kosong, yang kemudian diisi dengan nama teman yang mereka anggap cocok untuk menjadi kandidat ketua OAS.

Aku perhatikan, anak-anak ini gembira sekali. Mereka merasa dirinya penting dan berpengaruh. Tak jarang, ada beberapa anak yang mengajak teman-temannya yang lain untuk memilih satu kakak kelasnya untuk menjadi satu kandidat. Proses pengaruh-mempengaruhi ini menjadi dinamika tersendiri yang menarik dalam proses pembelajaran di SALAM. Anak-anak memperoleh kesadaran, bahwa mereka merasa bisa menitipkan keinginan-ekspektasinya pada orang tertentu. Ada proses pewakilan disana. Untuk itu, tak bisa sembarangan memilih wakil. Wakil harus dipilih berdasarkan kapasitasnya melayani warga, alih-alih karena iming-iming harta.

Dari proses survey, muncul banyak sekali nama. Belasan nama ini, kemudian dipilih enam besar untuk kemudian diwawancarai oleh Tim Kerja yang terdiri dari fasilitator. Satu persatu mereka diwawancarai, ditanya tetang kesiapan, rencana program dan juga bayangan masa depan. Dengan begitu, dia yang popular juga harus mengimbangi diri dengan kapasitas yang mumpuni. Mereka yang sudah dipilih oleh warga belajar sebagai kandidat, kemudian juga harus membuktikan dirinya didepan anggota tim kerja bahwa mereka siap untuk memimpin. Dari proses seleksi kuantitas dan kualitas ini, muncullah 4 anak yang siap untuk ‘bertarung’ di pemilu OAS. Mereka Adalah Sena (SMP), Nayla (SMP), Imung (SMA) dan Foni (SMA). Mereka berempat juga dibekali materi dari bagaimana menyusun struktur organisasi, membuat tim sukses, hingga berkampanye.

Para kandidat diberi waktu dua hari untuk berkampanye, satu hari berkampanye dengan gaya bebas, satu hari berkampanye di atas ‘mimbar bebas’. Dalam kampanye ‘mimbar bebas’, anak-anak dari SD sampai SMA tumpah ruah di halaman untuk menyaksikan kandidat yang lolos seleksi untuk menyampaikan program yang ditawarkan. Berbeda dengan para DPR kita, anak-anak ini tidak berkampanye tentang janji-janji politik, tapi tawaran program yang rasional dan sesuai kebutuhan warga belajar.

Anak-anak yang menjadi pemilih banyak yang sudah memiliki calonnya sendiri, sehingga, sebenarnya mereka saling tahu perbedaan pilihan diantara mereka. Meski begitu, perbedaan ini tak menjadi pisau pemisah pertemanan antar mereka. Selama di SALAM, mereka sudah terbiasa dibesarkan oleh perbedaan. Perbedaan ini bukan menjadi acuan mereka untuk bersaing, tapi untuk berkolaborasi.

Hari pemilihan

Jamak kita jumpai -jika ini anda adalah warga jogja- pertikaian, bentrokan yang terjadi pada musim kampanye antar pengikut partai. Mereka berkampanye di jalan. Menunjukkan rasa bangga. Masing-masing menunjukkan bahwa mereka merasa berkuasa. Saling unjuk rasa ini seringkali disertai dengan bentrok antar jiwa. Di jogja, kelompok merah dan hijau saling bergantian tumbang dan menumbangkan. Nggak usah dekat-dekat. Dulu, karena politik perbedaan ini, PKI dan Masyumi bisa saling potong urat nadi. Masa kampanye bisa menjadi jembatan bagi, dalam bahasa Romo Mangun, Eruption of Anger. Padahal, bangsa Indonesia ini, boleh dikatakan sebagai bangsa yang paling murah senyum sedunia. Begitu kira-kira yang sering dituliskan Bule di situs pariwisata.

Romo Mangun, dalam tulisannya berjudul Ledakan Frustasi Demokrasi, menyebut gejala tadi sebagai ledakan demokrasi. Ia menulis “Kami mendapat kesan, mereka sedang meledak mengeluarkan segala unek-unek dan frustasi mereka yang terkekang selama lima tahun. Sehingga kesempatan berkampanye, entah untuk partai atau golongan mana, mereka pakai sebagai katub pengeluaran segala lampiasan batin yang sudah lama terpendam. Rupa-rupanya bagi banyak di antara mereka peristiwa ini bukan pesta demokrasi namanya tetapi “ledakan demokrasi” atau “ledakan frustasi demokrasi”. Pemilu, pada akhirnya, menjadi akumulasi dari kemarahan mereka bertahun-tahun dalam dendam. Tak seperti negara, praktek berdemokrasi di SALAM dimaknai sebagaimana semestinya, dimana demokrasi menjadi wadah untuk mengakomodir aspirasi, alih-alih luapan emosi.

Pagi hari pada hari H pemilihan, anak-anak tampak tak sabar untuk menggunakan hak suaranya. Dengan tertib mereka berbaris untuk mencoblos. Anak-anak yang lebih besar, bergantian menjadi petugas ketertiban, pendata suara hingga pengawal pemilihan. Jenjang paling antusias tentu anak-anak kelas 1 SD, sebab ini adalah kali pertamanya anak-anak itu menggunakan hak pilihnya. Tahun lalu, mereka masih di jenjang Taman Anak. Anak-anak berbaris, mengisi daftar hadir, mengambil surat suara dan kemudian pergi ke bilik suara untuk mencoblos. Bersamaan dengan memasukkan surat suara ke kotak, anak-anak tampak tak sabar untuk mencelupkan jaringnya ke dalam tinta; bukti sudah mencoblos.

Usai semua anak mencoblos, kotak suara dibuka. Anak-anak berkerumun. Mengelilingi temannya yang bertugas menjadi panitia pemilu. Dengan sabar, satu persatu suara dihitung. Dengan mengantongi 87 suara dari total 165 suara, Sena akhirnya keluar sebagai kandidat yang terpilih sebagai ketua OAS. Sisanya terbagi hampir merata kepada tiga calon lainnya. Foni mendapat 29 suara, Imung 29 suara, dan Nayla 20 suara.

Para pendukung tetaplah bergembira, wajah sedih hanya tampak sesekali, tak seberapa lama kemudian juga bergembira lagi. Semua larut dalam kebahagian bahwa mereka kini punya pemimpin baru. Dan mereka yang kalah pun, legowo dan mengucapkan selamat pada ketua terpilih. Dan sesuai kesepakatan di awal, mereka yang kalah juga akan tetap membantu kinerja ketua terpilih satu periode ke depan. Kebahagian-pelajaran terbesar anak-anak barangkali bukan pada calon mereka yang kalah atau menang. Namun, yang lebih membuat mereka berdebar adalah bahwa  hak mereka sebagai manusia dianggap setara dengan orang dewasa

Ketika pemilu usai, maka kompetisi pun usai. Tak ada dendam atau sinisme kelompok yang dibawa hingga pertemanan keseharian. Lalu, Kemana perginya rasa permusuhan yang jamak terjadi dalam kompetisi itu? Tak lain dan tak bukan, barangkali karena tabiat awal warga salam bukanlah tipe yang saling berkhianat atau bermusuhan, hingga rasa permusuhan bisa menunggu di luar pagar. Warga SALAM dibentuk oleh kultur yang sportif; berterima kasih ketika menerima bantuan, mau meminta tolong ketika tidak mampu dan meminta maaf ketika melakukan salah. Padahal, anak-anak saling terbuka siapa mendukung siapa, hampir tidak ada rahasia-rahasiaan.  Toh, semua damai-damai saja. Akhirnya, bebas dan rahasia bukan faktor utama untuk menciptakan kondisi damai. Berbeda dengan negara kita yang meskipun sudah bebas dan rahasia, toh masih bertengkar juga. Pada akhirnya, damai tidaknya proses transisi kepemimpinan Itu adalah masalah kuktur yang terbangun di masayarakat. Kultur ini dibangun oleh Ekosistem yang dirancang untuk menghormati sikap pilihan yang berbeda. Sikap itu hanya bisa lahir di lingkungan yang menghormati perbedaan, bukan menyamakan apalagi menyeragamkan.