Blog

Di Antara Silabus dan Zaman

Di sebuah ruang kelas yang cat temboknya mengelupas, seorang guru menulis “kompetensi” di papan tulis. Kata itu berdiri seperti patung perunggu: kukuh, tapi dingin. Murid-murid menyalinnya ke buku, seperti para juru tulis di abad pertengahan yang menyalin kitab suci tanpa selalu paham isinya. Di luar, zaman bergerak—lebih cepat dari derit kapur di papan—dan pasar kerja berubah seperti cuaca tropis: mendadak, lembap, dan sering tak bisa ditebak.

Herbert Spencer, pada abad ke-19, pernah membayangkan pendidikan sebagai peta “mayor area of human living”: wilayah-wilayah besar tempat manusia hidup dan bekerja. Franklin Bobbitt, setengah abad kemudian, menyusunnya lebih rinci menjadi “centres of human activities”—seakan masyarakat adalah pabrik raksasa dengan pos-pos kerja yang bisa dihitung dan ditiru. Mereka berdua seperti kartografer yang percaya bahwa jika peta cukup detail, kita tak akan tersesat.

Tapi sejarah, seperti sungai, selalu menemukan tikungannya sendiri. Peta yang dibuat kemarin sering tak lagi cocok dengan delta hari ini. Di sinilah pendidikan kerap tergoda menjadi biro penyalur tenaga kerja: mencetak manusia sesuai lowongan, bukan sesuai kemungkinan. Kita melahirkan “tukang cari kerja” yang cekatan, tetapi sering gagap ketika pekerjaan itu sendiri menguap.

Maka lahirlah jargon competency-based education—sebuah ikhtiar agar sekolah tak sekadar menghafal, melainkan membekali. Kompetensi dijadikan “faktor penyesuai”, semacam engsel antara kurikulum dan masyarakat. Tapi engsel pun bisa berkarat jika pintu yang dihubungkannya mengarah ke masa lalu.

Para sosiolog khawatir: bukankah terlalu muluk berharap sekolah mengarahkan masyarakat? Namun sejarah tak pernah ditulis oleh kepasrahan. Pendidikan memang tak merobohkan kota lalu membangunnya dari nol, tetapi ia selalu menyelipkan norma baru ke dalam bangunan lama—seperti akar yang pelan-pelan menggeser batu.

Kritik terhadap Spencer dan Bobbitt—seperti yang di jaman lalu sering didiskusikan di IKIP—justru menyentuh jantung masalah: mereka membaca masyarakat hari ini untuk merancang manusia hari ini. Akibatnya, ketika dunia bergeser, lulusan pun terjebak dalam ironi seperti apoteker Jerman Barat yang terdidik untuk apotek yang tak lagi dibutuhkan. Kita melatih pelaut untuk laut yang sudah surut.

Maka pemikiran mutakhir berbisik lain: biarlah masyarakat menentukan keterampilan yang langsung berguna sekarang, tetapi biarlah pendidikan menentukan kemampuan umum untuk menghadapi perubahan—bahkan menciptakannya. Sekolah bukan hanya bengkel, melainkan juga laboratorium masa depan. Ia tak cuma mengajarkan cara memegang palu, tetapi juga bagaimana merancang rumah yang belum pernah ada.

Di titik inilah kurikulum menjadi semacam kompas. Ia tak menjanjikan tujuan pasti, tapi memberi arah ketika kabut turun. Jika tidak, kita akan terus berdebat tentang skala prioritas—sebuah self-pride yang menyamar sebagai kebijaksanaan—sementara dunia di luar bergerak tanpa menunggu.

Barangkali tugas pendidikan bukan menjawab pertanyaan yang diajukan pasar hari ini, melainkan menyiapkan manusia untuk mengajukan pertanyaan yang lebih berani besok. Sebab sejarah selalu berpihak pada mereka yang tak hanya mencari lowongan, tapi berani menciptakan ruang kerja baru—di tanah yang belum diberi nama.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *