Makanan Sampah

Hampir mayoritas anak-anak di Indonesia saat ini boleh dipastikan bersentuhan dengan junk food yang lebih tepat disebut makanan sampah—umumnya mereka sangat menyukai. Sebagian orang dewasa sesungguhnya tahu bahwa junk food adalah makanan tidak sehat yang seharusnya menjadi perhatian orang dewasa agar makan junk food tidak menjadi kebiasaan anak mengkonsumsi hingga dewasa.

Jangan tergiur

Orang dewasa sangat berperan untuk menghindari kebiasaan anak mengonsumsi junk food. Salah satu caranya, dengan memperkenalkan makanan sehat pada anak sedini mungkin jika ingin buah hati tumbuh sehat.

Membatasi konsumsi junk food tentu bukan tanpa alasan. Seperti halnya pada orang dewasa, junk food juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan anak.

Makanan sampah atau biasa disebut  junk food adalah makanan yang sangat mudah ditemukan—tersebar di mana-mana, bahkan sampai di ujung kampung di Papua sana.

Tahukah apa dibalik makanan super lezat namun nyaris tanpa gizi dan nutrisi—bahkan  terkandung bahan tambahan yang dapat mengganggu kesehatan anda? ini dia contohnya:

Kadar Gula dan Garam yang tinggi
Untuk mencapai rasa lezat, biasanya masakan sampah akan menambah porsi garam dan atau gula pada makanan yang disajikan. Selain itu, penyedap rasa MSG juga diberikan dalam takaran tinggi plus diberi tambahan zat pewarna dan pengawet untuk memperbaik tampilan makanan-makanan tersebut. Tanpa kita sadari, mengkonsumsi makanan dan zat-zat yang terkandung didalamnya secara teratur akan mempercepat tumpukan kolesterol yang tinggi. Penyakit yang umum disebabkan kolesterol tinggi adalah darah tinggi, Kegemukan, kadar gula darah naik, serta Jantung.

Kalori diatas rata-rata
Nilai asupan kalori Pria dewasa sekitar 1900 Kal dalam satu kali santapan. Makanan sampah secara mengejutkan menyajikan 2000 Kal per santapan. Dan keblingernya, Kalori tinggi justru jadi barometer makanan bergizi. Namun tahukah rekans, penumpukan kalori yang berlebihan akan mengganggu metabolisme tubuh anda. Apalagi makanan sampah dikonsumsi oleh anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Menyebabkan Adiksi dan Depresi
Menurut Dr.Paul Kenny, seorang ahli saraf dari Florida’s Scripps Research Institute, menyatakan bahwa kalori berlebih dapat memicu respon adiktif di Otak. Sifat adiktif makanan sampah itu seperti narkoba – memberi efek fly, tenang, nyaman. Selain itu, kadar lemak yang dikandung makanan sampah dapat membuat konsumen lepas kendali, salah satu ciri adiksi.

Penyebab obesitas dan berbagai penyakit
Akibat sifat adiktif makanan sampah, konsumen akan mengalami dorongan untuk mengkonsumsi makanan tersebut dalam jumlah yang terus bertambah. Cirinya adalah obesitas. Selain itu, kandungan zat yang ada didalam makanan sampah dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, diabetes dan jantung.

Penyebab penyakit Kanker (Kantong Kering)
Selain penyakit diatas, makanan sampah juga menyebabkan kantong kering. Harga makanan sampah termahal dikelasnya. Namun herannya, makanan cepat saji yang juga cepat membawa penyakit disuka banyak orang. Namun kamu pikirkanlah membeli makanan sampah sama dengan membeli penyakit. Oooi, alangkah malangnya. Kita ditipu mentah-mentah, beli penyakit dengan harga mahal.
Obesitas
Junk food umumnya adalah makanan yang tinggi lemak. Sejumlah studi terbaru mengungkapkan, salah satu penyebab anak menjadi obesitas atau kelebihan berat badan adalah kebiasaan makan junk food. Obesitas sejak kecil bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga diabetes saat anak dewasa.

Kurang makanan bergizi
Akibat kebiasaan makan junk food, tak ada lagi ruang untuk lebih banyak makan bergizi karena anak sudah merasa kenyang. Kurangnya makanan bergizi bisa membuat tumbuh kembang anak tidak optimal, termasuk perkembangan otaknya. Ini menjadi salah satu alasan penting untuk tidak membiarkan anak terlalu banyak makan junk food.

Kecanduan
Pernah mengalami anak tak mau makan selain junk food? Mungkin anak Anda sudah mengalami kecanduan dengan junk food. Jika hal ini terjadi, tentunya akan sulit meminta anak untuk konsumsi makanan bergizi. Untuk itu, cegah konsumsi junk food secara berlebihan sejak dini agar tidak menjadi kebiasaan.

Melemahkan sistem kekebalan tubuh
Banyak mengonsumsi junk food artinya anak Anda kekurangan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh anak pun menjadi menurun. Anak akan lebih mudah sakit.

Padahal yang diharapkan dari mengkonsumsi makanan adalah tercukupinya nutrisi dan gizi seimbang dalam tubuh demi terjaganya kesehatan. Ada karbohidrat untuk menjaga dan meningkatkan energi. Protein untuk membantu pembentukan jaringan tubuh. Ada vitamin dan mineral untuk pembentukan tulang dan gigi. Serta kandungan gizi yang lain. Namun, tidak semua makanan yang ada adalah baik buat Anda. Kadang kala justru memiliki akibat buruk dikarenakan kandungan gizi yang tidak seimbang. Salah satu jenis makanan yang tidak baik untuk dikonsumsi setiap hari karena memang tidak baik untuk kesehatan adalah fast food atau makanan cepat saji. Di beberapa negara makanan ini sangat dihindari bahkan oleh para ahli gizi dikategorikan sebagai junk food atau makanan sampah.

Kebanyakan makanan ini adalah hasil olahan dengan cara digoreng, mengandung gula tinggi serta kadar garam berlebihan. Sebagai contoh dalam setia satu buah burger mengandung sekitar 1.200 kalori. Ini tentu sangat tinggi jika dibandingkan dengan kebutuhan kalori tubuh manusia.

Seperti dikutip dari herbalife.co.id bahwa kebutuhan kalori harian untuk pria dengan berat badan 200 pon atau 90.7 kg adalah 2.800 kalori. Kalau hanya satu burger saja sudah menghasilkan 1.200 kalori, Anda bisa membayangkan berapa kalori yang akan masuk dalam tubuh jika dalam seharian Anda makan bermacam-macam makanan dari pagi siang hingga malam.

Jika kalori ini bisa dipergunakan dengan baik, maka akan tersimpan dalam tubuh berupa lemak. Namun lemak berlebih juga berdampak buruk yaitu terjadinya obesitas atau kegemukan.

Kalau kalori tinggi ini tidak dipergunakan dengan baik oleh tubuh, akan rentan sekali terhadap berbagai macam penyakit seperti penyakit jatung, diabetes, osteoporosis, stroke, alzheimer dan lain-lain.

Itulah alasan mengapa makanan cepat saji tidak baik untuk kesehatan. Keputusan bijak ada di tangan Anda. Jika Anda lebih mengutamakan kesehatan Anda, sebaiknya Anda mulai mengurangi porsi konsumsi makanan cepat saji ini dan beralih ke makanan sehat yang lebih alami dan rendah kalori seperti buah-buahan dan makanan olahan sendiri.

Tentu saja kita bisa bertanya; Berapa Rupiah Anggaran Rumah Tangga Kita digerogoti Makanan Sampah? Siapa yang paling diuntungkan?, Siapa yang paling dirugikan? Kepada siapa kita bersandar? Apakah Pemerintah bisa melindungi kita dan anak-anak kita? Upaya-upaya apa yang sudah dan akan kita lakukan?