Pendidikan, kata orang, harus relevan. Kata itu terdengar tegas, seperti palu sidang. Tapi begitu kita mendekat, ia mencair—seperti jamu yang diklaim ces pleng, diminum pagi hari, sembuhnya entah kapan. Kita pun mengangguk, sebab iklan selalu meyakinkan, meski tubuh tak selalu patuh. Sejak lama kita ingin pendidikan bertaut rapi dengan kebutuhan masyarakat. Tapi masyarakat yang mana? Yang hidup di kampung hari ini, atau yang dibayangkan para perencana di ruang berpendingin udara untuk sepuluh tahun mendatang? Pendidikan sering lahir sebagai anak zaman, tetapi dibesarkan oleh orang tua yang takut pada masa depan.
Relevansi, bila sungguh-sungguh hendak dimaknai, bukanlah etalase lowongan kerja. Ia lebih menyerupai kompas: menunjuk arah, bukan tujuan yang pasti. Ia terikat ruang dan waktu—dua hal yang kerap diabaikan oleh kurikulum yang merasa dirinya abadi. Yang relevan hari ini bisa jadi mubazir esok pagi, seperti payung di musim kemarau yang panjang. Sejarah memberi contoh tanpa perlu berkhotbah. Tahun 1950–1960-an, Jerman Barat kekurangan apoteker. Negara itu membutuhkannya seperti roti di pagi hari. Sekarang, negeri yang sama—dengan satuan elit GSG-9 yang terkenal disiplin—justru mengekspor apotekernya ke Afrika dan Asia. Relevansi telah berpindah alamat, tanpa pamit. Yang dulu mendesak, kini berlebih. Yang dulu mulia, kini menunggu nasib di bandara.
Kita sering lupa bahwa relevansi bukan satu ukuran, melainkan tiga lapis waktu yang saling bersitegang: yang mendasar, yang penting, dan yang mendesak. Pendidikan kerap tergoda pada yang mendesak—angka pengangguran, tuntutan industri, grafik ekonomi—lalu melupakan yang mendasar: manusia seperti apa yang hendak kita rawat. Padahal yang mendesak sering berisik, sementara yang mendasar berbicara pelan.
Di sini kita membutuhkan tenaga teknik menengah; di India, teknik tinggi mulai dicari-cari. Dua negara, dua kebutuhan, dua jam sejarah yang berdetak dengan kecepatan berbeda. Tetapi kebijakan pendidikan kita sering ingin menyeragamkan detak itu, seolah semua jam dunia harus mengikuti satu waktu pusat. Mungkin problem kita bukan semata ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, melainkan kegemaran kita mencari kepastian di masa depan yang cair. Pendidikan akhirnya menjadi pabrik ramalan—mencetak apa yang kita kira akan dibutuhkan—dan sering salah alamat. Seperti jamu cap Jago, ia diminum dengan keyakinan, tapi khasiatnya baru terasa jika tubuh dan zaman sedang berkenan.
Relevansi, barangkali, bukan soal ces pleng. Ia adalah proses bertanya tanpa henti: untuk siapa, di mana, dan kapan. Pendidikan yang relevan bukan yang cepat menyesuaikan diri, melainkan yang sadar bahwa waktu selalu lebih cerdik daripada rencana. Akar soal itu, bila ditarik lebih dalam, bukan semata pada pendidikan, juga bukan sepenuhnya pada kebutuhan masyarakat. Ia ada di relasi keduanya—relasi yang rapuh, penuh salah paham, dan sering merasa paling tahu. Kita baru bisa menyebut “sesuai” atau “tidak” setelah berani memeriksa dua-duanya, seperti menakar denyut nadi dan napas sekaligus. Tanpa itu, pendidikan hanya akan menjadi diagnosis sepihak.
Upaya mendekatkan keduanya kerap dimulai dari hal yang sederhana: mengamati apa yang sungguh hidup di masyarakat. Karya, kebiasaan, cara orang bertahan, cara mereka mencipta makna. Di sana ada pengetahuan yang tak tertulis di silabus, tapi bekerja setiap hari. Pendidikan sering datang sebagai tamu yang merasa lebih pintar, padahal ia seharusnya belajar duduk dan mendengar terlebih dulu.
Masalahnya, kurikulum selalu berlari di lintasan yang paradoxal. Masyarakat berubah dengan kecepatan angin, sementara institusi pendidikan berjalan seperti kapal besar—penuh pertimbangan, sarat prosedur. Di satu sisi, sekolah dan kampus diminta menyesuaikan diri; di sisi lain, ia dibebani peran agung sebagai agent of change and innovation. Ia harus mengikuti zaman, sekaligus memimpinnya. Dua tugas yang saling tarik-menarik, seperti kaki yang ingin melangkah ke depan, sementara tubuh masih menoleh ke belakang.
Pertanyaan klasik pun muncul, dengan nada yang seolah menuntut pilihan tegas: mana yang harus didahulukan? Pendidikan yang langsung bisa dipakai di masyarakat, atau kemampuan umum untuk menghadapi dunia yang berubah cepat? Seakan-akan keduanya musuh bebuyutan yang harus dipisahkan di meja ujian.
Jawabannya justru membingungkan mereka yang gemar kepastian: keduanya. Pendidikan yang hanya praktis akan cepat usang, seperti alat yang rusak oleh zamannya sendiri. Pendidikan yang hanya abstrak akan melayang, indah, tapi sulit menapak tanah. Yang satu memberi kaki, yang lain memberi mata. Tanpa kaki kita tak bergerak; tanpa mata kita tak tahu ke mana.
Di titik itulah pendidikan seharusnya berdiri—di antara yang segera dan yang jangka panjang. Ia bukan sekadar pabrik tenaga kerja, juga bukan menara gading yang sibuk mengagumi bayangannya sendiri. Ia adalah ruang tawar-menawar terus-menerus antara hari ini dan esok, antara kebutuhan yang berteriak dan kemungkinan yang masih berbisik. Mungkin pendidikan memang ditakdirkan selalu terasa terlambat. Tapi justru dari keterlambatan itulah ia belajar rendah hati: bahwa perubahan bukan sesuatu yang bisa dikejar dengan kurikulum saja, melainkan dengan kesediaan untuk terus mengoreksi diri—bersama masyarakat yang tak pernah berhenti bergerak.[]

pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply