14 Hariku Belajar Di Rumah

14 hari belajar dirumah, menurutku lebih seperti 14 hari karantina di rumah. Karena aku di rumah malah menjadi lebih buruk. Kalau ini harusnya proses belajar di rumah, aku menjalaninya dengan mindset proses membunuh waktu di rumah.

#dirumahaja

Kalau aku ditanya apakah aku enjoy berada di rumah selama 14 hari? Aku lumayan bingung menjawabnya. Maybe because I’m a bit disappointed about how it turned out to be. Itu yang membuatnya 14 hari yang buruk, tapi yang membuatnya 14 hari yang baik adalah fakta bahwa aku dapat waktu alone time. Aku selalu menjalani hari demi hari selama 14 hari berpikir, “sabar, keadaan akan kembali normal sebentar lagi.” Tapi di hari keempat belas yang kudapatkan adalah WhatsApp yang menunjukan bahwa karantina diperpanjang 14 hari lagi. Sebenarnya aku sudah menduga ini, tapi aku masih menaruh harapan bahwa akan ada keajaiban yang membunuh virus ini dan keadaan akan kembali normal, tapi keajaiban tidak terjadi. Korban virus COVID-19 (Corona Virus  Desease 2019) tetap bertambah sepanjang waktu. Setiap hari angka korban COVID -19 bertambah 100-200 sampai total angka korban mencapai 1,200 pada hari aku menulis ini.

Sebenarnya aku sudah lupa kebanyakan hal yang kualami dan kulakukan pada hari pertama karantina. Mungkin karena yang kulakukan setiap hari sama saja sampai otakku membuang hal yang diulang-ulang setiap harinya. Di saat menerima kabar bahwa aku akan dikarantina selama 14 hari tepatnya pada tanggal  14 maret, aku lumayan senang. Aku bisa mendapatkan waktu freetime dan pasar Senin Legi dibatalkan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan sebuah perasaan di saat aku tidak tahu mau melakukan apa dan bosan melakukan apapun yang bisa aku lakukan. Perasaan ini dinamakan “gabut”, secara harfiah adalah sebuah singkatan dari: galau butuh teman.

Aku tidak bisa menyebut apa yang aku lakukan satu per satu dari hari pertama karantina karena otakku tidak mau mengingat. Tapi rutinitasku sama yaitu bangun, urus rumah, masak, mandi, makan, tidur, bangun, nulis, main hp, masak, mandi, kemudian tidur. Di antara kegiatan itu aku sering menyempatkan untuk membaca. Baca buku apapun asal seru. But in this quarantine, I start to develop a bad habit (maaf pakai bahasa Inggris, aku tidak tahu cara menjelaskannya dalam bahasa Indonesia). Kebiasaan buruk itu adalah tidur jam 1 malam lalu bangun jam 11 siang, sering malas-malasan, dan karena bangunku jam 11, otomatis jam makanku mundur semua, seperti sarapan jam 11, makan siang jam 3-4 dan makan malam jam 8-9. 

Karena Bindi (ibuku) meriset lumayan banyak tentang COVID-19, aku jadi tahu lumayan banyak tentang virus ini. Salah satunya, virus ini tidak dapat menular lewat udara, it can’t fly. Virus ini berbentuk dropplet (tetesan cairan). Jadi, tidak ada gunanya pakai masker kalau tidak sakit. Virus ini bisa masuk lewat mata, hidung, dan mulut. Jadi kalau mau pakai masker, sekalian aja pake kacamata renang biar lengkap. Jadi kalau kita menyentuh sesuatu yang ada virusnya seperti gagang pintu, virusnya akan menempel di tangan kita. Lalu dengan virus di tangan kita, kita kucek mata sedikitpun virusnya akan masuk ke tubuh kita. Nah, caranya mencegah itu terjadi adalah dengan mencuci tangan pakai sabun. Karena memakai hand sanitizer hanya membunuh 30% virus di tangan kita.

Tidak usah pakai masker jika sehat

Balik ke soal karantina, perasaanku sama dengan kebanyakan orang yang menjalani karantina ini, yaitu bosan. Selama karantina ini aku mendapatkan banyak artikel tentang cara meningkatkan imun tubuh, dan lain sebagainya. Tapi yang paling penting, ya mencegah virus itu masuk ke tubuh kita. Caranya seperti jaga jarak dengan orang lain, rajin cuci tangan dan yang paling penting: stay home.