Di sebuah peta dunia, ada garis sempit yang sering luput dari perhatian. Laut yang tidak luas, bahkan tampak kecil bila dibandingkan dengan samudra yang mengitarinya. Tapi di sana, di antara pesisir Iran dan Oman, sejarah ekonomi dunia berdenyut setiap hari. Namanya Selat Hormuz.
Garis itu seperti urat halus di tubuh globalisasi. Hampir seperlima minyak dunia melintas di sana—diam-diam, terus-menerus, seperti detak jantung yang jarang kita dengar sampai suatu hari ia berhenti. Dan ketika dunia mulai menoleh kembali ke selat itu, biasanya ada sesuatu yang sedang retak.
Perang bukan hanya soal bom dan tank. Ia juga tentang jalur-jalur yang tiba-tiba menjadi rapuh. Konflik antara Iran, Israel, dan bayangan kekuatan besar seperti Amerika Serikat membuat selat itu kembali disebut dalam laporan-laporan berita dan rapat-rapat ekonomi. Ancaman sederhana muncul: bagaimana jika jalur itu ditutup?
Pertanyaan itu terasa teknis, tapi sebenarnya ia sangat manusiawi. Sebab peradaban modern berjalan di atas energi—dan energi berjalan di atas jalur-jalur yang rapuh. Kita sering lupa: dunia ini tidak hanya diikat oleh ideologi atau diplomasi. Ia diikat oleh kapal tanker.
Sejak lama para sejarawan energi telah mengingatkan bahwa geopolitik modern sering lahir dari minyak. Daniel Yergin, dalam bukunya The Prize, menulis bahwa sejarah abad ke-20 dapat dibaca sebagai kisah perebutan energi. Negara-negara tidak hanya berperang untuk wilayah, tetapi untuk jalur pasokan.
Dan jalur itu sering kali sempit. Selat Hormuz hanyalah salah satu dari “chokepoint” dunia—titik sempit tempat ekonomi global bisa tersendat. Dalam sejarah, kita pernah melihat bagaimana sebuah jalur air kecil dapat mengguncang dunia: ketika Krisis Terusan Suez 1956 pecah, misalnya, atau ketika tanker-tanker diserang dalam Perang Tanker di Teluk Persia 1980-an.
Sejarah selalu mengingatkan: globalisasi tampak luas, tetapi bergantung pada beberapa simpul kecil. Ironisnya, simpul-simpul itu sering jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Orang di kota-kota seperti Jakarta atau Yogyakarta mungkin tidak pernah memikirkan selat itu. Namun setiap kendaraan yang bergerak, setiap lampu yang menyala, diam-diam terhubung dengan jalur laut yang ribuan kilometer jauhnya.
Peradaban modern adalah jaringan ketergantungan yang tak kasatmata. Itulah sebabnya sebuah ancaman di sebuah selat bisa menjalar menjadi kekhawatiran global: harga energi naik, logistik tersendat, dan negara-negara yang jauh dari medan perang tiba-tiba ikut merasakan getarnya. Seperti tubuh manusia yang sehat sampai satu pembuluh kecil tersumbat.
Mungkin di situlah ironi zaman kita. Kita membangun teknologi yang luar biasa, satelit yang mengitari bumi, kecerdasan buatan yang meniru pikiran manusia. Tapi kehidupan modern masih bergantung pada jalur-jalur kuno: laut, selat, dan kapal.
Sejarah, rupanya, tidak pernah benar-benar bergerak jauh dari geografi. Dan di peta dunia itu, garis tipis bernama Selat Hormuz tetap ada—sunyi, sempit, tapi menentukan. Kadang kita lupa melihatnya. Sampai dunia tiba-tiba kembali menoleh ke sana.
Di peta dunia ada garis sempit yang tampak sepele. Ia bukan benua, bukan samudra, hanya celah air di antara dua daratan. Tapi dari sana, sejarah energi modern lewat setiap hari. Namanya Selat Hormuz.
Selat itu seperti katup kecil dalam tubuh ekonomi dunia. Kapal-kapal tanker melintas dari teluk menuju samudra, membawa minyak yang menggerakkan mobil, pesawat, pabrik, bahkan ritme kota-kota yang jauh dari sana.
Lalu tiba-tiba kita ingat: katup itu bisa ditutup. Perang antara Iran dan Israel—dengan bayang-bayang keterlibatan Amerika Serikat—membuat jalur sempit itu kembali dibicarakan. Seperti pintu yang sewaktu-waktu dapat digeser rapat. Dan ketika pintu itu tertutup, yang terganggu bukan hanya kapal tanker. Yang terganggu adalah ritme kehidupan modern.
Peradaban kita bergerak cepat karena minyak. Jalan raya terbentang, mobil melaju, pesawat terbang melintasi benua. Kota-kota tumbuh seperti organisme yang tak pernah tidur. Waktu diperas menjadi lebih singkat. Tapi setiap peradaban yang berlari selalu memiliki titik rapuh.
Di Indonesia kerentanan itu kadang terdengar seperti bisikan yang mengkhawatirkan: cadangan bahan bakar nasional, konon, hanya cukup sekitar dua puluh hari jika pasokan global terganggu. Dua puluh hari—angka yang terasa pendek bagi negeri kepulauan yang jaraknya ribuan kilometer dari ujung ke ujung.
Krisis energi tiba-tiba terasa dekat. Ia bukan lagi sekadar berita dari Timur Tengah. Ia bisa menyentuh sesuatu yang sederhana: cara kita berangkat kerja, mengantar anak ke sekolah, atau menyeberangi kota yang semakin padat.
Di tengah kecemasan global itu, muncul sebuah pertanyaan kecil. Pertanyaan yang tampaknya sederhana, bahkan nyaris sepele: Mengapa bus Trans Jogja tidak selalu penuh? Pertanyaan itu tidak datang dari seorang ekonom transportasi, bukan pula dari pejabat kota. Ia datang dari seorang siswa SMP bernama Langit, dari komunitas belajar Sanggar Anak Alam.
Langit tidak memulai dari teori. Ia memulai dari jalan. Ia berdiri di halte, mengamati orang-orang yang lewat, berbicara dengan penumpang, mencatat ritme kota yang tampaknya selalu terburu-buru. Ia seperti flâneur kecil di kota pendidikan bernama Yogyakarta—mengamati hal-hal yang sering luput dari perhatian kita.
Dari langkah-langkah kecil itu lahir sebuah buku: Melambat di Kota yang Berlari: Riset Jalanan Seorang Siswa SMP Sanggar Anak Alam. Judulnya terasa seperti ironi.
Kota modern selalu ingin lebih cepat. Jalan dilebarkan. Kendaraan ditambah. Waktu tempuh dipersingkat. Tetapi justru di tengah percepatan itu, kita mungkin kehilangan sesuatu: kemampuan untuk berhenti dan bertanya.
Mengapa kita begitu bergantung pada kendaraan pribadi?
Mengapa transportasi publik sering kosong?
Mengapa kota dibangun seolah-olah energi tak akan pernah habis?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan langsung mengubah kebijakan energi global. Ia tidak akan menghentikan perang di Timur Tengah, atau menurunkan harga minyak dunia.
Namun ia membuka sesuatu yang lebih penting: kesadaran. Bahwa masa depan kota bukan hanya soal teknologi atau infrastruktur. Ia juga soal kebiasaan manusia—cara kita memilih bergerak, cara kita memahami ruang. Barangkali, seperti yang diam-diam diisyaratkan oleh riset kecil Langit, solusi besar sering dimulai dari langkah yang justru lebih pelan.
Melambat. Melihat kota dengan lebih sabar. Mendengar kembali ritme kehidupan yang selama ini tertutup oleh suara mesin. Dan mungkin di sanalah kita menemukan pertanyaan yang paling mendasar: apakah kota dibangun untuk manusia—atau manusia yang dipaksa mengikuti kecepatan kota?
Seperti sering terasa dalam dunia modern kadang bergerak terlalu cepat untuk sempat berpikir.Maka barangkali yang kita butuhkan hari ini bukan hanya energi baru. Melainkan juga keberanian untuk berhenti sejenak—dan membaca sebuah buku kecil dari riset jalanan seorang anak. Sebab kadang masa depan kota tidak dimulai dari ruang rapat atau konferensi energi. Ia dimulai dari pertanyaan yang sederhana.
Mari membaca. Mari berdiskusi. Dan mungkin—perlahan—membayangkan kota yang tidak selalu harus berlari.[]
Seorang otodidak, masa muda dihabiskan menjadi Fasilitator Pendidikan Popular di Jawa Tengah, DIY, NTT dan Papua. Pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST. Pendiri Akademi Kebudayaan Yogya (AKY). Pengarah INVOLPMENT. Pendiri KiaiKanjeng dan Pengarah Sekolah Alternatif SALAM Yogyakarta.
Leave a Reply