Seorang anak kelas empat, Rengganis Kirana Sinta, dari Sanggar Anak Alam, memilih tema yang bagi orang dewasa terdengar ganjil: Pelajaran di Balik Memedi. Ia bertanya kepada orang tua, mendengar cerita dari desa, dan mencoba memahami mengapa dulu orang menakut-nakuti anak dengan sosok yang tak pernah benar-benar tampak itu.
Memedi. Kata yang kecil, tapi bayangannya panjang. Ia tak pernah benar-benar hadir, tapi cukup untuk membuat anak-anak pulang sebelum senja terlalu tua. Di desa-desa Jawa, malam bukan kekosongan; ia dihuni cerita. Jangkrik, angin di bambu, dan bisikan itu: jangan ke sungai, jangan rusak pohon, jangan sendirian di ladang. Jika tidak, memedi datang.
Clifford Geertz, dalam kajiannya tentang “sistem makna” orang Jawa, mencatat bahwa dunia mereka tak pernah hanya dihuni manusia. Ada roh, penunggu tempat, bayangan yang hidup dalam bahasa sehari-hari. Memedi bukan hantu semata; ia adalah bahasa. Bahasa yang dipakai orang tua untuk menjelaskan bahaya sebelum ada rambu lalu lintas, sebelum ada papan larangan. Bahasa yang menjaga anak tanpa aturan tertulis, yang membuat alam tetap dihormati.
Bronisław Malinowski menyebut mitos sebagai “charter”—pedoman hidup yang memberi arah bagi perilaku sosial. Memedi bekerja seperti itu. Ia hadir dalam variasi: memedi kebon, memedi alas, memedi banyu. Setiap tempat punya ceritanya sendiri, setiap cerita punya pesannya. Di sungai senja, arus bisa berubah tiba-tiba, lubang di dasar menipu mata; memedi banyu cukup untuk mengingatkan. Di hutan tua atau pohon beringin, “penjaga” itu memasang pagar tak terlihat agar pohon tak sembarangan ditebang.
Carl Jung berbicara tentang archetype: gambaran purba dalam alam bawah sadar kolektif. Bayangan, hutan gelap, makhluk penjaga—mereka muncul di mana-mana, sebagai simbol wilayah yang harus dihormati. Memedi barangkali lahir dari sumber yang sama: batas antara aman dan berbahaya, antara yang boleh dan yang sebaiknya tidak.
Zaman berubah. Listrik menyala, jalan diaspal, gawai menyala sampai larut. Anak-anak kini lebih takut ujian daripada pohon di ujung desa. Monster datang dari layar, bukan dari kebun belakang. Ketakutan kini global, spektakuler, jauh dari sungai gelap atau pematang sawah yang licin.
Apakah itu kemajuan? Tentu. Tapi ada sesuatu yang hilang: cara lama membaca alam melalui simbol dan imajinasi. Cerita memedi adalah teknologi sosial sederhana: ia menggabungkan imajinasi, emosi, dan pengalaman menjadi pendidikan tak tertulis. Ia mengajarkan kehati-hatian, penghormatan kepada alam, etika hidup bersama—tanpa perlu buku tebal atau ruang kelas.
Rengganis tidak menertawakan cerita itu. Ia membacanya ulang sebagai pengetahuan budaya. Dari rasa ingin tahu seorang anak, ia membawa kita ke kuburan—yang dulu latar cerita seram, kini terbuka sebagai arsip sunyi: sejarah keluarga, upacara kematian, tata kelola komunitas. Makam bukan akhir; ia adalah ingatan yang terus dirawat.
Philippe Ariès menulis bahwa cara manusia memperlakukan kematian mencerminkan cara mereka memahami kehidupan. Di batu nisan sederhana, di sesajen kecil, di doa yang dibaca keluarga, ada pandangan dunia yang tersimpan.
Memedi mungkin tak pernah ada sebagai makhluk. Tapi sebagai cerita, ia menjalankan tugas penting: menjaga anak pulang sebelum malam terlalu tua. Kini ia berubah bentuk—menjadi pertanyaan di kepala seorang anak: mengapa orang dulu percaya pada memedi?
Pertanyaan itu sederhana. Tapi di dalamnya tersembunyi sesuatu yang lebih besar: keinginan manusia untuk memahami dunia, bahkan dunia yang pernah kita takuti. Dan barangkali, seperti banyak hal dalam kebudayaan, memedi tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu seseorang datang dengan rasa ingin tahu—seperti Rengganis, yang dari kelas empat membuka pintu yang hampir terlupakan.
Saya membacanya, dan tiba-tiba malam desa terasa dekat lagi. Bukan karena takut, tapi karena ada pelajaran yang masih hidup di balik bayangan kecil itu.

pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply