Masa libur lebaran telah usai. Kepusingan akan ujian UPK Paket C juga sudah dituntaskan. Diskusi rutin, atau “mentoring” yang saya lakukan dengan teman-teman kelas 12 mengenai risetnya masing-masing akhirnya dapat segera dimulai kembali. Setelah kabut-kabut tersebut hilang, ternyata waktu presentasi sudah di depan mata. Waktu persiapan yang kami punya mungkin hanya berkisar antara 2-3 minggu.
Berdasarkan jadwal yang saya dan Banyu sepakati, waktu ini sudah saatnya digunakan untuk mulai melukis. Topik riset yang ia pilih adalah tentang kehidupannya selama 12 tahun di SALAM yang akan direpresentasikan melalui lukisan. Mustahil untuk menggambarkan secara utuh dan mungkin membosankan untuk membuat narasi kronologis yang kaku. Untuk itu, Banyu berusaha mencari dan melukiskan ‘suasana’ yang esensial mengenai pengalamannya hidup di komunitas belajar SALAM. Selama kurang lebih 3-4 bulan dari awal semester, Banyu sudah menggali masa lalunya dan mencatat pengalaman yang berkesan. Saya membuat janji bertemu dengan Banyu untuk mendengar jawaban tentang apa yang akhirnya akan ia buat.
Ia menyampaikan niatnya untuk menampilkan 3 karya. 1 tentang SD, 1 tentang SMP, dan 1 tentang SMA. Sejujurnya, saya kaget. Bisa dibilang, ada sedikit rasa kekecewaan. Keputusan ini seakan bahwa kita kembali ke kotak pertama di ular tangga. Diskusi kita selama ini berusaha untuk melebarkan perspektif Banyu untuk tidak hanya terkotak pada 3 ruang waktu tersebut. Kita sempat membahas tentang prinsip SALAM, ‘Jaga diri, teman, dan lingkungan’. Tentang perubahan secara fisik area dan bangunan SALAM. Bahkan juga mengingat kegiatan homevisit yang mungkin hanya diberlakukan oleh SALAM. Kepanitiaan serta event yang tentu penuh dengan dinamika. Kalau akhirnya kembali kesana, apa maknanya dari proses yang kita jalani selama ini?
Namun pikiran tersebut tidak saya ungkapkan menjadi kata-kata. Ada sedikit rasa pasrah, namun juga ada rasa percaya. Oke nyu, surprise me. Proses yang Banyu jalani, kerajinan untuk mencatat dengan sangat banyak, kemauan untuk berpikir dan inisiatif Banyu untuk mengajak diskusi, membuat saya berpikir bahwa Banyu seserius itu menjalankan proses riset ini. Langkah demi langkah yang ia lakukan bukan hanya sekedar formalitas yang diwajibkan untuk dijalani. Ia menunjukkan antusiasme saat kita berputar mengelilingi SALAM untuk membandingkan dulu dan sekarang dan juga ketika mengobrol dengan Bu Wiwin, fasilitatornya saat SD dulu. Pikiran Banyu memang sulit untuk ditebak dan diterjemahkan oleh saya. Oleh karena itu, kali ini saya memilih untuk bersabar.
Beberapa waktu kemudian, notifikasi WhatsApp saya berbunyi. Banyu ternyata sudah selesai menyelesaikan satu karya dan menunjukkannya kepada saya.

Menurut saya, ini karya yang sangat keren. Bagi mereka yang sempat ‘tinggal’ atau ‘main’ di SALAM, seharusnya pernah merasakan dan menikmati sunset dari bagian Barat Perpustakaan. Banyu menceritakan bahwa ia memang berniat membuat satu lukisan tentang pertemuan dan perpisahan. Saya tau bahwa spot tersebut cukup bermakna untuk anak-anak angkatan tersebut. Saya sering melihat beberapa dari mereka mengunggah foto mereka bersama saat kelas 10 di spot tersebut. Dinding itu dicoret-coret dan digambari oleh mereka (sudah mendapat izin lho ya). Disapu dengan warna yang, untuk saya, memberi kesan nostalgia. Banyu mengkonfirmasi bahwa memang itu pemandangan belakang perpus ketika menjawab pertanyaan Bu Endah, Ibu dari Lekha teman sekelasnya.

Namun, otak skeptis saya yang menyebalkan berbunyi. Pertemuan dan perpisahan adalah tema yang universal, siapapun dimanapun tentu bisa meromantisir momen tersebut. Meskipun begitu, saya yakin, anak-anak yang sering nongkrong di SALAM pasti akan merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat lukisan ini. Tapi ini awal yang baik. Saya menunggu kejutan berikutnya.
Tidak perlu menunggu lama, saya dikirim pesan berisi gambar oleh Banyu sehari setelahnya. Begini gambarnya:

Syok. Kagum. Sedih. Terharu. Luar biasa, nyu.
Dua meja biru itu bisa dibilang sebagai insider knowledge warga SALAM. Untuk yang sering ke area Selatan SALAM, siapa yang tidak pernah melihat dua meja tersebut? Meja yang pernah dipakai sebagai tempat menata barang di Pasar Senin Legi. Meja yang mungkin pernah menjadi tatakan untuk speaker besar di acara Pasar Ekspresi. Meja yang pernah ada di ruang Gareng, di atas perpus. Meja yang pernah saya colong untuk laptopan secara lesehan di depan perpus di hari Minggu. Meja yang sekarang ada di ruang Raya Bawah (saya cek segera setelah Banyu selesai presentasi). Meja yang cat-nya sudah terkelupas dan banyak bagian yang tercuil. Meja yang banyak dicoret-coret oleh anak-anak. Meja yang sering diinjak dan dinaik anak SD kecil. Meja yang bisa menjadi dinding untuk markas rahasia yang dibuat oleh kelas 2 tahun 2023-24, serta menjadi bus untuk kelas 4. Meja yang meski sudah terlihat loyo dan kuno, tapi tetap ada. Meja yang tidak dibuang. Untuk saya pribadi, meja yang selalu ada di 3 tahun saya ‘mencuri ilmu’ di SALAM.
Apakah saya lebay? Untungnya, ada yang menemani kelebayan saya. Ketika Bu Wahya datang di presentasi Banyu dan melihat lukisan meja itu, beliau juga tidak dapat menahan rasa emosionalnya. Jika meja tersebut sudah bisa begitu berartinya buat saya selama 3 tahun ini, meja tersebut sudah begitu berarti untuk Bu Wahya selama belasan, atau puluhan tahun lamanya. Beliau bercerita bahwa meja tersebut memang sudah ada sejak dulu dan merupakan bentuk bantuan dari tempat lain. Masa dimana SALAM mungkin belum disanjung oleh media maupun influencer. Ketika belum banyak bangunan yang berdiri dan jumlah orangnya belum sebanyak ini. Sebelum ada orang-orang yang punya rezeki lebih yang mungkin percaya kepada SALAM. Bu Wahya mengatakan, bahwa meja itu seperti simbol yang mengingatkannya pada suatu masa yang berarti baginya.
Di acara presentasi, saya bertanya kepada Banyu, “Apa yang menurutmu jangan sampai hilang dari SALAM?” Jawaban Banyu lagi-lagi diluar dugaan. Ia menjawab, “Menurutku ‘kesederhanaan’-nya.” Mendengar itu, saya tidak bisa fokus dan mengingat kalimat lanjutan dari Banyu. Pikiran saya langsung terbang mengaitkan ‘kesederhanaan’ dengan lukisan meja biru tersebut. Mungkin ini ya, esensi dari pendidikan yang berusaha dihidupkan di ekosistem SALAM. Pendidikan itu bukan ditandai dari gedung yang mewah, fasilitas yang lengkap, atau buku yang berwarna-warni. Pendidikan itu bisa saja sesederhana dua meja biru yang menemani perjalanan Bu Wahya, keluarga, dan anak-anak di SALAM. Ternyata… sesederhana itu. Luar biasa bahwa Banyu dapat mencampurkan bahan-bahan peristiwa yang ada dan mengeluarkan intisari tersebut.
SALAM adalah komunitas belajar, bukan tempat uji-menguji. Saya hanyalah fasilitator, namun juga pelajar. Di momen Banyu membagikan ‘pengetahuan’ yang ia proses dan temukan selama 12 tahun berada di SALAM, siapa saya jika saya hendak menguji atau membantai temuan belajar dari warga belajar yang lain? Justru di ruang tersebut, saya belajar tentang esensi ‘pendidikan’. Bukan soal ‘apa’ yang perlu dipelajari, bukan soal ‘siapa’ yang perlu dididik. Namun, lingkungan, ekosistem, atau ruang seperti apa yang ingin kita buat? Atas dasar nilai apa ruang tersebut ingin dibangun? Saya rasa momen tersebut menjadi bukti dari hipotesis Pak Toto bahwa metodologi SALAM dapat diserap oleh anak-anak.
Saya belajar banyak, namun juga masih punya banyak pertanyaan. Seperti apa alur berpikir Banyu yang akhirnya dapat memproses peristiwa menjadi seperti itu? Siapa saja yang terlibat? Momen-momen seperti apa yang penting? Seperti apa fasilitas yang seharusnya ditawarkan oleh fasilitator? Proses pendidikan memang paradoksikal. Sesederhana itu, namun juga serumit itu. Banyak hal yang tidak kasat mata. Banyak hal yang tidak jelas pengaruhnya. Namun momen ini memberikan harapan. Meski belum sempurna, ada sesuatu yang berharga dan indah dari apa yang berusaha dibangun atas nilai-nilai ini.
Relawan SALAM
Leave a Reply