Menjelang tengah hari di ruang Sukrosono Sanggar Anak Alam, suasana presentasi riset belum juga surut. Senin, 11 Mei 2026 itu sebenarnya sudah memasuki sesi terakhir. Namun alih-alih sepi dan lelah, ruangan justru terasa semakin penuh. Anak-anak kelas 12 yang sebelumnya hilir mudik kini hampir semuanya sudah berkumpul. Orang tua masih bertahan di kursi-kursi belakang, setia mengikuti satu demi satu cerita perjalanan belajar anak-anak mereka. Beberapa mantan fasilitator datang diam-diam, ikut duduk menyimak. Bahkan ada orang tua dari kelas SD yang tertarik bergabung, seolah penasaran dengan kisah apa lagi yang akan lahir dari ruang kecil bernama Sukrosono itu.
Di depan ruangan, Gabriel Wisia Shena Adiwiyata memulai presentasinya dengan cara yang sederhana. Seperti saudara kembarnya, ia memilih duduk santai di kursi, bukan berdiri kaku di depan layar. Tidak ada gestur gugup. Tidak ada suara bergetar. Hanya seorang remaja yang tampak sudah akrab dengan apa yang sedang ia ceritakan. Slide presentasinya pun sederhana—hanya poin-poin penting tanpa gambar-gambar dekoratif. Tetapi justru dari kesederhanaan itu, cerita Gabriel terasa semakin dekat dan nyata.
Ia mulai bercerita tentang awal mula ketertarikannya pada kopi sejak semester pertama kelas 11. Bukan sekadar kopi sebagai minuman, melainkan dunia di belakangnya: proses roasting, ritme kerja, pelanggan, hingga hubungan antarmanusia di dalam sebuah usaha kecil. Semester ini, fokus risetnya mengerucut pada satu hal yang menurutnya paling sulit—mengelola tim pekerja.
Gabriel melakukan pengamatan langsung di tempat ia magang, PT Premium Beans Indonesia, sebuah usaha roastery rumahan di dekat rumahnya di Prambanan. Ia sudah berada di sana sejak tahun lalu. Kini, tanpa ia sadari, posisinya berubah. Ia bukan lagi anak baru. Di tempat itu, justru ia menjadi pekerja paling senior. Dua rekan kerjanya adalah anak-anak SMK yang baru masuk tahun ini. Dari situ, pengalaman belajar Gabriel menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar belajar menyangrai kopi.
Ia mulai memperhatikan bagaimana pemilik usaha berbicara kepada pekerja, bagaimana pelanggan dilayani, bagaimana konflik kecil diselesaikan, hingga bagaimana pemasukan, pengeluaran, dan inventaris dicatat dengan rapi. Dari pengamatan sehari-hari itu, Gabriel menemukan bahwa menjadi pengelola usaha ternyata bukan hanya soal kemampuan teknis, melainkan juga soal karakter. “Harus tegel, tapi juga humoris,” kira-kira begitu kesimpulan yang terus muncul dalam cerita Gabriel.
Namun kalimat itu tidak lahir begitu saja. Di baliknya ada rasa lelah, jengkel, bahkan marah yang nyata. Awalnya Gabriel menyampaikan semuanya dengan runtut, tetapi beberapa bagian terasa masih tertahan. Fasilitator kemudian membantu memancing cerita dengan meminta Gabriel menceritakan kejadian-kejadian spesifik yang membuatnya sampai memiliki pemikiran seperti itu.
Dan di situlah suasana presentasi mulai berubah menjadi lebih hidup. Gabriel mulai bercerita tentang rekan kerjanya yang tidur dan bermain ponsel ketika pekerjaan masih menumpuk. Untuk pertama kalinya di presentasi itu, emosinya benar-benar muncul ke permukaan. Dengan nada yang setengah kesal setengah tidak percaya, ia mendemonstrasikan bagaimana rasa marahnya saat melihat situasi itu. Audiens yang mengenal Gabriel sebagai sosok tenang tampak sedikit terkejut, lalu tertawa kecil melihat caranya menirukan kejadian tersebut.
Ia mengaku pernah kebablasan saat memarahi rekan kerjanya. Tetapi setelahnya, justru muncul rasa tidak nyaman dalam dirinya sendiri. Ia sadar bahwa kemarahan saja tidak menyelesaikan persoalan. Dari situ ia mulai berpikir tentang bagaimana menjadi sosok yang tetap tegas tanpa kehilangan kemampuan mengayomi.
Cerita lain muncul tentang pelanggan-pelanggan dengan permintaan aneh. Salah satunya membuat seluruh ruangan pecah dalam tawa. Gabriel menceritakan seorang pelanggan yang meminta biji kopi dark roast tetap terlihat kering dan tidak berminyak agar “lebih cantik untuk display”. Dengan ekspresi frustrasi bercampur geli, Gabriel menjelaskan bahwa secara alami dark roast memang akan mengeluarkan minyak di permukaan biji kopi. “Ya nggak mungkin,” katanya sambil tertawa miris.
Audiens langsung menyambut dengan berbagai guyonan absurd tentang cara “mengelap” kopi atau “menyemprot” biji kopi agar tidak berminyak. Tawa memenuhi ruangan. Namun di balik humor itu, tampak jelas bahwa Gabriel sedang belajar menghadapi dunia nyata: dunia di mana pelanggan tidak selalu masuk akal, dan pekerja tidak selalu bekerja sesuai harapan.
Di tengah cerita-cerita itu, muncul satu sosok yang berkali-kali disebut Gabriel dengan nada hormat: Pak Muqson, pemilik usaha tempat ia magang. Gabriel tampak kesulitan mendeskripsikan sosok tersebut dengan kata-kata yang tepat. Ia hanya berkali-kali mengatakan bahwa Pak Muqson adalah orang yang humoris, tetapi juga tegel. Sosok yang bisa bercanda, namun tetap membuat orang bekerja dengan serius. Dan perlahan audiens memahami bahwa gambaran tentang Pak Muqson itulah yang sedang diam-diam ingin dipelajari Gabriel untuk dirinya sendiri.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Bu Syera, salah satu orang tua dari kelas SD, bertanya tentang gaji yang diterima Gabriel selama bekerja. Dengan tenang dan percaya diri, Gabriel menjawab bahwa sekitar lima ratus ribu rupiah menurutnya masih masuk akal untuk jam kerja, jenis pekerjaan, dan kondisi bahwa para pekerja muda itu masih ditanggung keluarga masing-masing. Jawaban itu memancing refleksi lebih jauh. Bu Syera berharap ketika nanti Gabriel benar-benar memiliki usaha sendiri, kesejahteraan pekerja tetap menjadi sesuatu yang ia pikirkan dengan serius.
Sepanjang presentasi, orang tua tampak beberapa kali saling bertukar pandang dengan fasilitator—kadang karena cerita Gabriel terasa lucu, kadang karena terlalu serius untuk ukuran anak seusianya. Teman-temannya menyimak dengan tenang. Tidak banyak suara gaduh. Ada perasaan bahwa mereka sedang melihat seorang teman yang perlahan mulai masuk ke dunia orang dewasa.
Di penghujung presentasi, yang paling terasa bukan hanya kemampuan Gabriel memahami dunia roastery kopi, melainkan kesungguhannya memikul tanggung jawab. Ia tampak lelah, tetapi tidak lari dari pekerjaannya. Ia tetap membuat laporan, tetap menyiapkan presentasi, tetap datang dan menyelesaikan semuanya tanpa alasan.
Fasilitator yang mendampinginya mengaku sempat khawatir Gabriel akan terlalu larut dalam rutinitas kerja hingga tidak sempat memproses apa yang ia alami. Namun kekhawatiran itu perlahan hilang ketika melihat catatan-catatan Gabriel, laporan yang ia tulis, serta cara ia merefleksikan pengalaman kerjanya sendiri. Di balik kesibukan dan emosinya, Gabriel ternyata masih menyediakan ruang untuk berpikir dan belajar dari dirinya sendiri.
Dan mungkin justru di situlah inti proses belajarnya: bukan hanya belajar mengelola kopi, tetapi belajar mengelola manusia, emosi, dan tanggung jawab—sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar menentukan tingkat roasting biji kopi. []
Diolah dari notulensi Andre
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply