karya anak salam

Tiga Akuarium di Halaman SALAM

Pagi itu, 11 Mei 2026, halaman Sanggar Anak Alam sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Kursi-kursi kecil ditata rapi di bawah cahaya pagi yang hangat. Meja presentasi berjajar di halaman sekolah, sementara para fasilitator dan panitia dari OAS sibuk mempersiapkan Gelar Karya Kelas 1 semester dua. Anak-anak datang dengan wajah berbinar, membawa hasil riset mereka masing-masing—ada yang membawa poster, tanaman, mainan rakitan, dan pagi itu, Renato Arra Cakrawala datang membawa sesuatu yang membuat banyak orang langsung menoleh: tiga akuarium berisi ikan predator.

Arra sudah duduk di dekat mejanya bahkan sebelum acara benar-benar dimulai. Tubuh kecilnya tampak sibuk memastikan semuanya siap. Ia mengatur posisi akuarium, mengecek ikan-ikannya, lalu merapikan stiker bergambar ikan predator hasil gambarnya sendiri untuk dibagikan kepada teman-teman dan pengunjung. Ada rasa tidak sabar yang sulit disembunyikan dari wajahnya. Hari itu ia ingin memperlihatkan dunia kecil yang selama beberapa bulan terakhir memenuhi rumah dan pikirannya.

Judul risetnya terdengar gagah untuk ukuran anak kelas satu SD: Memelihara Ikan Predator. Ia memperkenalkan ikan-ikan kesayangannya satu per satu: ikan Toman, RTC, dan Channa Maru. Sebenarnya ada lebih banyak jenis ikan yang ia pelihara selama proses riset—Channa Asia dan Palmas atau Naga—tetapi hari itu hanya tiga ikan yang dibawanya ke sekolah.

Ketika moderator, Pak Bomo, dan MC, Bu Umi, mulai membuka sesi presentasi, Arra langsung duduk tegak di kursinya. Sesekali ia melirik ikan-ikannya seperti memastikan mereka juga siap tampil. “Arra paling suka ikan yang mana?” tanya Bu Umi. “Yang Toman,” jawabnya cepat. “Kenapa suka?” “Karena ikannya ganas.”

Jawaban itu langsung mengundang tawa kecil para pengunjung. Tetapi dari cara Arra menjawab, terlihat bahwa ia memang benar-benar menyukai dunia ikan predator. Ketertarikannya bermula dari video-video Youtube yang sering ia tonton. Dari layar kecil itu, rasa penasaran tumbuh menjadi riset sungguhan. Bersama bapaknya, Arra mulai membeli ikan, mencari pakan, memilih akuarium, sampai membeli vitamin untuk menjaga kesehatan ikan-ikannya.

Di balik kesannya yang sederhana, riset itu ternyata mengajarkan banyak hal pada Arra. Ia belajar mengukur panjang tubuh ikan menggunakan centimeter. Ia belajar membandingkan ukuran akuarium, mencatat tanggal pemberian makan, mengenali habitat asli ikan, hingga memahami bahwa setiap ikan predator memiliki cara makan yang berbeda.

Yang menarik, pengetahuan itu tidak terdengar seperti hafalan. Ketika ditanya kapan ikan dibeli, berapa harga awalnya, atau dari mana asal habitatnya, Arra menjawab dengan percaya diri seolah sedang bercerita tentang teman-temannya sendiri.

Namun, seperti anak-anak lain seusianya, fokus Arra kadang mudah teralihkan. Saat ada teman yang bermain di dekat halaman, matanya beberapa kali ikut melirik. Ada momen ketika ia masih harus diingatkan untuk kembali mendengarkan pertanyaan pengunjung. Tetapi justru di situlah sisi manusiawinya terlihat—bahwa proses belajar seorang anak memang berjalan bersamaan dengan dunia bermainnya.

Salah satu momen paling menarik terjadi ketika Pak Bomo bertanya, “Kalau ikannya dilepas di sungai, berbahaya tidak?” Arra menjawab tanpa ragu, “Bahaya, karena akan mengganggu ekosistem sungai.”

Jawaban itu membuat beberapa orang dewasa saling menoleh. Di usia yang masih sangat kecil, Arra mulai memahami bahwa memelihara makhluk hidup bukan sekadar soal hobi, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap lingkungan.

Pertanyaan lain datang bertubi-tubi. “Ikannya makan apa?” “Makan ikan kecil hidup, cacing, magot, udang.” “Pernah lupa kasih makan?” “Kalau Arra tidur di rumah uti, nanti bapak yang kasih makan cacing.”

Lalu seorang pengunjung bertanya sambil bercanda, “Ikannya bisa digoreng nggak?” Arra menjawab santai, “Bisa, tapi kalau suka.” Tawa kembali pecah di halaman SALAM pagi itu. Ada pula pertanyaan tentang salah satu ikan yang harganya mencapai seratus lima puluh ribu rupiah. “Ini uang siapa untuk beli?” tanya Pak Bomo. “Bapak… hahaha,” jawab Arra sambil tertawa lebar.

Di balik suasana yang cair dan penuh tawa itu, sebenarnya ada perjalanan emosional yang tidak ringan bagi seorang anak kecil. Selama proses riset, empat ikan peliharaannya mati—termasuk ikan toman favoritnya, channa maru, dan naga. Arra merasa sedih setiap kali kehilangan ikan yang sudah dirawatnya. Dari situlah ia mulai belajar bahwa memelihara makhluk hidup bukan hanya tentang rasa senang saat membeli atau memberi makan, tetapi juga tentang menghadapi kehilangan.

Orang tua Arra tampak mengambil peran penting dalam perjalanan belajar ini. Mereka membantu menyediakan akuarium, membeli pakan, mendampingi proses perawatan, bahkan membantu membawa perlengkapan ke lokasi Gelar Karya. Namun pendampingan itu juga membutuhkan kesabaran, terutama ketika mengajak Arra konsisten menulis jurnal harian, mencatat pemberian makan, atau membersihkan akuarium yang mulai berlumut.

Di akhir presentasi, suasana halaman sekolah terasa hangat. Kakak-kakak SMP yang datang ikut bertanya, teman-teman kecil berkumpul melihat ikan, dan Arra tetap menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan jujur sesuai pengalamannya sendiri.

Pagi itu, di bawah langit cerah halaman SALAM, tiga akuarium kecil ternyata bukan hanya tentang ikan predator. Di dalamnya ada rasa penasaran seorang anak, dukungan keluarga, kegagalan kecil, kehilangan, ketekunan, dan proses belajar yang tumbuh perlahan—seperti ikan-ikan yang dipelihara Arra dari kecil di rumahnya sendiri.

Diolah dari notulensi Reni

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *