Catatan, Setelah Mempelajari Soal Ujian

Pada semester dua, kelas 3 SMP SALAM meriset soal-soal, riset soal ini bertujuan untuk mempersiapkan ikut ujian. Banyak yang kami lakukan saat riset soal ini. Berikut beberapa tahap yang harus dilakukan.

Foto Anang Istiawan

Kami awali dengan mencari soal terlebih dahulu. Kami mendapat beberapa soal dari beberapa buku dan website. Soal-soal yang dikumpulkan adalah soal pada tahun-tahun yang berbeda. Ini bertujuan untuk mencari tahu perbedaan soal pada tahun sekian dengan soal di tahun yang lain. Saat mengumpulkan soal ini, kami juga sekaligus dilatih untuk bisa mandiri dalam mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti soal-soal yang didapatkan sebagian besar hasil dari pencarian kami, juga saat memperbanyak atau mencetak soal-soal tersebut kami berusaha untuk melakukannya sendiri, meskipun tetap saja kami membutuhkan banyak bantuan dari fasilitator atau sesama teman yang lain.

Setelah mencari dan mendapat soal, kami mulai mengerjakannya. Namun cara mengerjakannnya sedikit berbeda yaitu dengan mengamati danmenilai soal itu apakah kami memahaminya atau tidak, bukan dengan menjawab pertanyaan dari soal-soal tersebut. Pada tahap ini kami cukupmembutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya. Kami yang tidak atau belum bisa mengatur waktu menjadi salah satu faktor penghambatnya. Faktor penghambat lainnya juga adalah suasana yang kurang baik,  bisa disebabkan suasana hati yang kurang bagus, keadaan perut yang lapar, atau pula teman yang usil sehingga membuat kami menjadi tidak fokus.

Mata Pelajaran yang kami dalami ada enam—matematika, bahasa Indonesia, IPA, bahasa Inggris, dan PKN. Setiap mata pelajaran ada 3 soal yang kami cermati. Itu artinya total dari semua soal yang kami cermati berjumlah 18 buah. Di proses mencermati dan menilai paham atau tidaknya ini kami belum diperbolehkan membuka buku, internet, atau media lain untuk mencari tahu materinya. Cara mencermatinya adalah dengan menggunakan tabel kami menuliskan apa materinya, paham atau tidak dengan jawabannya, dan jelas atau tidak dengan kalimat pertanyaan soalnya. Mengerjakan/mencermatinya tidak dilakukan secara bersama-sama, melainkan dilakukan oleh masing-masing anak.

Setelah mencermati soal, kami mulai mendiskusikannya. Data dari masing-masing anak dijadikan satu dan menghasilkan kesimpulan. Isi dari kesimpulan itu berbentuk prosentase. Pada tahap ini kami tidak menemukan kendala.

Selanjutnya kami pun mulai mengerjakan soal-soal. Kali ini kami mengerjakannnya dengan cara seperti biasanya, yaitu menjawab pertanyaan tersebut dengan memilih a, b, c, atau d. Pada tahap ini kami sudah diperbolehkan untuk membuka buku atau internet agar mengetahui materinya. Kami menemukan kendala pada mata pelajaran matematika, pada pelajaran ini kami semua cukup lemah, maka dari itu kami membutuhkan banyak bimbingan dari fasilitator. Sama halnya pada mata pelajaran matematika, pada pelajaran IPA pun kami juga butuh didampingi—karena kedua mata pelajaran tersebut banyak menggunakan rumus-rumus, kami butuh didampingan belajar karena jika hanya membaca materi saja kami tidak akan paham. Namun sayangnya pada mata pelajaran IPA fasilitator kami kurang menguasai pelajaran tersebut. Maka dari itu kami harus mencari teman/fasilitator yang bisa membantu kami dalam proses mempelajari.

Tidak sekadar mengerjakan, namun setelahnya kami juga mencermati soal tersebut. Hasil dari pencermatan dari kami seperti kecenderungan materi yang sama dan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang ambigu atau tidak jelas. Tidak hanya pertanyaannya saja yang tidak jelas, bahkan 4 jawaban dari satu soal yang sama memiliki jawaban yang benar semua, menurutku pribadi dalam hasil pengamatan soal pada matapelajaran PKN kemarin.

Hingga akhirnya kami selesai try out. Soal yang telah kami riset/cermati beberapa ada yang  muncul di dalam soal try out itu. Kami sempat membahas soal try out, beberapa diantaranya matematika, IPS, bahasa Indonesia, dan PKN. Untuk selainnya (bahasa Inggris dan IPA) kami belum sempat membahasnya.

Dari hasil mengamati soal try out ini pula kami menyimpulkan lagi bahwa soal-soal ujian itu banyak yang tidak bermutu dan tidak jelas. Bagiku sendiri, aku pun menyimpulkan bahwa UN (Ujian Nasional) tidak sepenting itu, disamping soal-soal/pertanyaan dan jawaban yang tidak bermutu juga karena aku merasa belum membutuhkan ilmu-ilmu yang ada di dalam materi UN tersebut. Berhubung ingatanku pun tidak begitu baik untuk menyimpan informasi dalam jangka panjang, untuk apa aku memaksakan diri mempelajari sesuatu yang belum aku butuhkan dan belum tentu aku gunakan? Juga tentang nilai aku tidak menganggap hal itu penting , karena masa depanku tidak bergantung padanya. []