‘Dara Jelita’ Keluar kandang

Dara Jelita adalah kelompok tari yang beranggotakan ibu-ibu yang anak-anaknya bersekolah di Sanggar Anak Alam (SALAM). Kelompok ini bermula dari kelas menari dengan asuhan ibu Bekti Budi Hastuti, dosen tari ISI Yogyakarta yang kebetulan cucunya bersekolah di SALAM. Kelas menari yang memuncak dengan pentas perdana ‘sampur kuning’ itu lantas memunculkan ‘residu’ berupa sekelompok ibu-ibu yang ingin menggarap koreografi yang lebih rancak. Dari 26 penari ‘sampur kuning’, lahirlah 10 penari yang sepakat untuk menggarap tari angguk untuk dipentaskan di hari yang sama, pada pasar Ekspresi SALAM kesepuluh, 8 April 2017 silam.

“DARA JELITA” Performance Pembukaan Pasar Kangen TBY. Foto by. Roslinda Noor

Nama ‘Dara Jelita’ tercetus pada pentas angguk yang ketiga, yaitu pada pembukaan pameran senirupa CARAKA, 2 Mei 2018 lalu. Tentu saja nama itu tercetus begitu saja tanpa ada pembangunan filosofi dibelakangnya. Seluruh anggota langsung mengamini nama itu sekonyong-konyong karena keseluruhannya adalah antitesis bahwa ‘kami bukan lagi dara dan tidak terlalu jelita’. Dengan formasi yang tambal sulam, kelompok ini kemudian bersepakat untuk menggarap genre tari apapun selama sang koreografer, Yulie Dilan, tidak menciptakan gerakan yang sulit diikuti dan diingat.

Persyaratan ini patut dimaklumi, mengingat 90% anggotanya tidak ada yang memiliki latar belakang pendidikan tari. Modal mereka mungkin saja hanya sedikit bakat dan waktu luang, dimana bagi ibu-ibu ini maka waktu luang itu harus dikelola diantara agenda-agenda lain semacam: mengantar anak sekolah, bekerja, memasak, membereskan cucian,  latihan koor, rewang dan lain-lain. Dara Jelita mungkin satu-satunya kelompok tari yang meyakini bahwa untuk menari hanya dibutuhkan 5% bakat, 10% kerja keras dan 85% kegembiraan.

Dara Jelita Performance. Foto by. Roslinda Noor

Keluar Kandang

Karena dipersatukan oleh halaman sekolah SALAM, maka ajang pentas mereka tak pernah jauh-jauh dari hajatan yang digelar SALAM sebagai sekolah komunitas. Kesempatan untuk tampil di luar komunitas SALAM muncul dari seorang kawan, Mas Ale, yang menjadi panitia Pasar kangen 11. Dara Jelita diundang untuk bergabung dalam pembukaan Pasar Kangen 11 pada 7 Juli 2018. Sejak tawaran diterima, Dara Jelita memiliki waktu kurang lebih dua minggu efektif untuk berlatih. Latihan berjalan lancar dan penuh sukacita. Hingga H-3 pementasan.

Rupanya manajer beserta kesepuluh anggota kurang jeli ketika membaca prasyarat tampil, dimana salah satu poinnya adalah tentang durasi pementasan. WA grup yang berisikan penari, manajer, fotografer dan penata musik mendadak ribut ketika Mimi, yang mendapuk dirinya sendiri menjadi manajer, mengumumkan bahwa durasi pentas adalah minimal 45 menit. Sore itu rapat dadakan dihelat untuk mencari alternatif agar durasi pentas yang hanya dipersiapkan untuk 5 menit 30 detik bisa memanjang 9 kali lipat. Kemungkinan terbaik adalah melibatkan anak-anak SALAM untuk naik panggung bersama, dengan plot yang masuk akal. Namun yang menjadi kendala, saat ini adalah liburan. Berkoordinasi untuk memastikan anak-anak bisa berlatih dan tampil saja sudah cukup memusingkan, apalagi harus mempersiapkan plot hanya dalam waktu 2 hari.

Saya, yang bergabung dengan para jelita ini sejak pembukaan pameran CARAKA, ikut panik. Namun rupanya Tuhan sayang dengan ibu-ibu bahagia ini. Malam itu, seorang kawan mengajak Mas Dobleh, pegiat teater yang kerap berperan sebagai Mbok Brewok, untuk ngopi di warung depan rumah. Cerita panjang pun saya dongengkan pada Mas Dobleh, mulai tentang durasi pentas hingga tentang betapa kami hanyalah ibu-ibu nekat yang gemar menari sekaligus tidak berbakat. Malam itu juga, Mas Dobleh menyatakan sanggup membantu dan menyampaikan ide plot yang bisa memperpanjang durasi hingga sekitar 20 menit. Saya masih tidak percaya dengan kesanggupannya. Ketika saya tanya sekali lagi, “Bener mas, mau bantu?” Jawabnya, “Kalau isinya orang koplak-koplak gini saya mau, mbak.” Sungguh melegakan. Namun masih ada sisa 25 menit durasi yang membebani tidur saya malam itu.

Keesokan paginya, Mimi mendapat pemberitahuan dari panitia bahwa durasi pentas kami dipotong dari 45 menit menjadi 20 menit terkait seremonial pembukaan yang menjadi bagian utama acara. Maka pagi itu, kami lega luar biasa. Betapa doa ibu ternyata manjur untuk diri mereka sendiri. Tinggal berkonsentrasi penuh dengan dua hari yang tersisa untuk berlatih kolaborasi. Dalam kolaborasi yang kami latih, muncul ide untuk melibatkan tim jimbe putra SALAM, yang setiap hari juga berkumpul di Joglo Elang tempat kami berlatih. Mereka adalah Flo, Elang dan Sena. Pada prakteknya lebih mudah membuat anak-anak ini paham, dari pada membuat kami, ibu-ibunya, mengerti. Alhasil latihan kolaborasi berjalan baik dan lancar.

DARA JELITA, Foto By Roslinda Noor

Saat hari H, semua berjalan baik. Dara Jelita berhasil berkolaborasi dengan Mbok Brewok dengan iringan jimbe anak-anak SALAM. Dalam hati setiap penari, kami sudah menari segemulai Bu Yuli. Entah dalam penangkapan visual penonton. Semoga penonton tidak menangkap isyarat bahwa hanya satu orang diantara kami yang benar-benar bisa menari. Mungkin mereka sedikit kecewa tentang pemilihan nama. Namun apalah arti sebuah nama, apalagi jika terkandung majas di dalamnya.

Dara Jelita & mbok Brewok. Foto by. Roslinda Noor

Bagi kami, yang tersisa seusai pentas adalah rasa lapar luar biasa. Rupanya para penari yang setiap berlatih lekat dengan piring, hari itu lupa untuk makan siang karena grogi. Alhasil upah nasi box yang kami terima seusai menari, lekas tandas dalam beberapa menit. Acara keluar kandang ini mengajarkan saya banyak hal. Terutama bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. []