Pasar Senin Legi

“Loh, kok jualanmu ditutupi begitu, kenapa?”, tanya seorang fasilitator kepada anak SALAM yang hari itu berjualan asesoris dari tali di acara Pasar Senin Legi.

Teman kecil itu cuma menunduk dan menggeleng, sambil memegangi kotak jualannya.

“Kalau ditutupi begitu, nanti temanmu nggak bisa lihat jualanmu loh”

Foto: Clarissa Amadhea.

Anak SALAM itu masih saja menunduk dan memegang erat kotak jualannya yang sudah tertutup, sambil dengan pelan berujar, “Aku boleh menyerah enggak?”

“Loh, kenapa kok mau menyerah?”

Lagi-lagi dia masih menunduk dan nampaknya sulit menjawab pertanyaan kakak fasilitator. Beberapa saat keduanya terdiam dan akhirnya kakak fasilitator membuka kembali percakapan,

“Emmmm, apa kamu pingin keliling-keliling melihat dagangan teman-temanmu dan mencicipi jualan mereka?”

Meski tampaknya ragu, tetapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

“Oooo gitu, ya nggak papa kalau kamu pingin keliling-keliling dulu, aku mau kok bantuin jaga jualanmu selama kamu keliling. Gimana?”

Dia mengangguk, tatapannya kini tak lagi menunduk.

“Kalau kamu setuju, kasih tau aku dulu harga-harganya, biar aku enggak salah jual ya.”

Dia mengangguk, kemudian menyebutkan harga barang-barang  dagangan yang dititipkannya ke kakak fasilitator. Setelahnya dia berjalan berkeliling mengunjungi stand teman-temannya. Ketika dirasanya cukup, dia kembali ke stand jualannya dan kagetlah dia ketika sampai di depan meja jualannya dia mendapati barang dagangannya sedang dikerubungi teman-temannya yang berebut membeli. Meski jualannya tak sampai habis, tapi termasuk laris.

“Wah, kok jualanku laku?”, tanyanya setengah tak percaya.

Kakak fasilitator menatapnya dengan tersenyum sambil berkata, “Iya lo, ternyata jualanmu disukai teman-temanmu, banyak yang beli. Coba kalau tadi kamu jadi memilih menyerah, kira-kira bagaimana?”

“He he… hemmmm, nggak bakal laku…”, jawabnya.

“La iya betul itu….”

Teman kecil itu tersenyum dan berkata, “Kalau gitu aku mau nerusin jualan….”

Foto: Clarissa Amadhea.

Itulah sepenggal dinamika dari puluhan bahkan ratusan dinamika yang terjadi di sekolah yang selenggarakan tigapuluh lima hari sekali. Pasar Senin Legi adalah pasar yang digelar setiap hari Senin Legi di mana dalam perhitungan kalender Jawa jatuhnya setiap 35 hari sekali. Aktivitas ini serupa dengan aktivitas pasaran – sebuah dolanan tradisional di daerah Jawa yang populer di kalangan anak-anak sebelum era millenium – di mana anak-anak menirukan aktivitas orang dewasa ketika melakukan kegiatan jual beli di pasar. Ada pembeli, ada penjual, ada dagangan, dan juga ada uang (biasanya menggunakan uang-uangan).

Begitupun dengan Pasar Senin Legi di SALAM. Di dalamnya semua anak, fasilitator, bahkan orangtua akan terlibat dalam dolanan pasaran yang aktivitas utamanya adalah proses jual-beli dengan mata uang dari Bank SALAM. Di sini meskipun uangnya memakai uang-uangan, tetapi barang yang dijual adalah barang sungguhan, biasanya berupa makanan, minuman, gambar, mainan, atau kerajinan tangan yang dibuat oleh anak bersama dengan orangtuanya. Dalam aktivitas pasaran ini banyak peran yang disediakan layaknya sebuah pasar sungguhan, seperti pembeli, penjual, petugas bank SALAM, petugas keamanan pasar, hingga petugas kebersihan pasar.  Setiap anak, fasilitator, atau orangtua yang ingin menjadi penjual terlebih dulu harus mendaftar, dan setelahnya mereka akan mendapat meja dan kursi sebagai lapak tempat mereka memajang dagangan. Yang ingin menjadi pembeli, sebelum melakukan transaksi terlebih dahulu harus mengantri di Bank untuk mengambil uang SALAM. Sementara petugas kebersihan dan keamanan bertanggungjawab atas kebersihan dan keamanan selama kegiatan pasaran berlangsung dan bertugas menarik iuran wajib dari para penjual.

Berarti hanya dolanan? Ya, awalnya memang terlihatnya (hanya) sebuah dolanan. Namun, setelah mencermati secara mendalam dan terlibat langsung dalam aktivitas Pasar Senin Legi, saya tak lagi memandangnya demikian, karena di dalamnya teramat kaya akan dinamika yang bisa dimaknai sebagai proses belajar. Dari mulai proses persiapan saja misalnya, menentukan akan berperan sebagai apa adalah sebuah proses belajar. Belajar mengambil keputusan, dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Misalnya, kalau aku memilih jadi pembeli, apakah uangku di tabungan masih cukup? Jika uang sudah menipis atau bahkan sudah habis, apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan uang? Mungkin aku harus bekerja, sebagai petugas bank, petugas keamanan, atau kebersihan. Atau mungkin aku harus menjadi penjual, menjajakan dagangan. Tapi itu artinya aku harus memikirkan barang jualan apa yang sesuai dengan tema (seperti misalnya tema Pasar Senin Legi kemarin adalah : Pala Kesimpar dan Pala Kependhem), yang tidak melanggar kesepakatan (makanan dan minuman sehat), yang kira-kira laku di pasar nanti, dan aku harus bisa menyiapkannya sendiri (tentu saja boleh didampingi orangtua). Pengambilan keputusan untuk mengambil peran ini tentu saja tidak hanya melulu berkaitan dengan pertimbangan karena uang, ada berbagai hal lain yang juga mempengaruhi. Salah satu temuan unik kami adalah ketika sekelompok anak memilih untuk menjadi petugas keamanan dengan alasan agar bisa “mengatur dengan legal” kakak kelasnya yang selama ini terlihat superior. Ini sudah jauh dari sekedar kebutuhan akan uang, tetapi bagaimana peran ini dapat mewadahi  kebutuhannya berekspresi dalam aspek sosial dan emosi. Karena sesungguhnya keterampilan sosial emosi tak bisa dipelajari hanya dengan belajar teori, perlu bertemu dengan peristiwa nyata, konflik salah satunya.

Foto: Clarissa Amadhea.

Proses belajar selanjutnya terjadi saat hari-H, ketika semuanya menjalankan perannya. Petugas Bank yang belajar cekatan tetapi teliti dan hati-hati karena ada banyak orang yang dilayani. Petugas keamanan yang belajar bertanggungjawab menjaga keamanan dan ketertiban selama acara pasaran, dengan percaya diri menjalankan tugasnya meskipun harus mengatur kakak kelas atau orang dewasa. Petugas kebersihan yang harus memastikan bahwa semua yang beraktivitas di pasar memenuhi kesepakatan untuk menjaga lingkungan, berani menegur dan memberi konsekuensi jika ada yang melanggar sembari berkeliling dari lapak satu ke lapak lainnya untuk menagih uang kebersihan. Penjual yang berusaha menawarkan dagangannya agar laku, cekatan melayani pembeli, cermat berhitung untuk menentukan jumlah yang harus dibayar pembeli atau kembalian yang harus diberikan, keputusan apa yang harus diambil ketika dagangannya belum juga laku, dan sebagainya. Pembelipun punya banyak kesempatan belajar ketika menentukan berapa uang yang dia ambil, berapa banyak yang akan dibelanjakan, memilih mana yang akan dibelanjakan dengan uang yang ada (tentu tidak semua bukan?), mencoba menawar harga tanpa memaksa untuk dagangan yang ingin dibelinya, memilih menikmati sendiri atau berbagi barang yang sudah dibeli bersama kawannya sampai dengan menghabiskan atau menyisakan uang yang sudah diambil dari bank.

Contoh nyata dari dinamika dalam kegiatan ini sudah saya tuliskan pada paragraf pembuka, di mana ada anak yang hari itu berperan sebagai penjual awalnya memilih menyerah karena mendapati dagangannya tidak laku. Akan tetapi dengan dukungan fasilitator akhirnya anak tersebut mendapati bahwa sesungguhnya dagangannya bisa juga laku, dan hal ini menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk melanjutkan permainan sampai akhir. Cerita lain adalah ketika ada anak yang berperan sebagai penjual dan hari itu dagangannya laris manis. Sementara dagangan teman di sebelahnya sama sekali belum laku. Melihat hal tersebut dia berinisiatif memberikan beberapa uang kepada temannya itu, “Nih buat kamu, biar bisa jajan, jualanmu kan belum ada yang laku”. Atau inisiatif anak lain untuk membantu kawannya itu, “Aku bantu jualin ya, tapi nanti aku digaji..”. Hahahahaha jiwa marketingnya kuat sekali ya! Kisah lainnya misalnya tentang petugas (bisa petugas bank, keamanan, atau kebersihan) yang kemudian di tengah proses terlihat malas-malasan melakukan tugasnya dengan alasan capeklah, panaslah, yang ditagih nggak ada, susah nagihnya, dan sebagainya.

Foto: Clarissa Amadhea.

Ya, ternyata apa yang muncul di Pasar Senin Legi merupakan protret kehidupan sesungguhnya, yang biasa terjadi dalam “pasar yang sesungguhnya”. Melalui aktivitas ini semuanya belajar dengan alami dan natural, ketika semua dinikmati dan dimaknai. Tanpa harus dirancang, diberi garis, atau batasan. Semua hal bisa menjadi sarana belajar, tanpa merasa dipaksa dan yang terpenting adalah : BAHAGIA!