Pagi itu, Lapangan Salam sudah penuh bahkan sebelum matahari naik terlalu tinggi. Meja-meja berjajar rapat, dipenuhi poster warna-warni, hasil riset anak-anak, dan suara para orang tua yang saling menyapa. Di tengah keramaian itu, seorang anak kelas 1 SD bernama Bara Biru Abinaya Putra Relipaletra datang sambil membawa wadah bronis krispi buatannya. Namun langkah Bara sempat ragu.
Alih-alih langsung menuju meja presentasi, ia memilih berjalan lewat depan perpustakaan, seakan ingin menghindari tatapan orang-orang yang sudah ramai memenuhi lapangan. Dari wajahnya terlihat jelas: suasana yang terlalu ramai membuatnya belum sepenuhnya nyaman. Tetapi pelan-pelan, keberanian itu tumbuh. Saat Mama menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan bersama melewati depan TA, Bara akhirnya melangkah masuk ke area presentasi. Keberanian kecil itu terasa penting.
Apalagi setelah Bara memberanikan diri mendatangi Asa, temannya, untuk meminta bergabung di meja yang sudah dipilih Asa lebih dulu. Setelah mendapat persetujuan, Bara mulai menata barang-barangnya dengan hati-hati: wadah bronis, poster riset, dan catatan kecil tentang rencana jualannya. Setelah semua tertata, ia memanggil Mamanya sebentar, meminta izin untuk bermain lebih dulu sebelum giliran presentasi tiba. Meski terlihat santai, sebenarnya Bara sedang menyiapkan dirinya sendiri.
Menjelang giliran presentasi, ia mulai sering mendekati mejanya. Ia tampak memperhatikan siapa saja yang datang melihat bronisnya. Sejak hari Minggu sebelumnya, Bara memang sudah berkali-kali mendengar pujian tentang bronis buatannya. Semua orang yang mencoba mengatakan rasanya enak. Ada yang bilang Bara hebat. Ada pula yang tak menyangka anak kelas 1 SD bisa membuat bronis sendiri. Pujian-pujian kecil itu rupanya menjadi bahan bakar keberaniannya pagi itu. Riset Bara terdengar sederhana: membuat bronis krispi.
Ide itu muncul dari kebiasaan kecil di rumah. Mama sering membelikan bronis krispi dari minimarket. Dari situlah Bara berpikir, kenapa tidak mencoba membuat sendiri? Mama lalu belajar resepnya, dan setelah beberapa kali mencoba, mereka mulai membuatnya bersama-sama. Namun di balik bronis tipis yang renyah itu, ternyata ada banyak proses belajar yang diam-diam sedang tumbuh.
Bara mulai belajar numerasi lewat kegiatan nyata. Ia belajar menimbang bahan dengan ukuran gram, memahami pecahan seperti seperempat dan setengah, hingga menghitung kebutuhan belanja dan rencana keuntungan jualan. Matematika yang biasanya terasa abstrak berubah menjadi sesuatu yang bisa disentuh, diaduk, dan dipanggang. Ia juga belajar tentang sebab-akibat.
Pada percobaan pertama, bronis buatannya terasa enak, tetapi tidak renyah. Setelah diamati bersama, Bara menemukan penyebabnya: adonan dioles terlalu tebal. Dari pengalaman itu ia memahami bahwa kerenyahan ternyata bergantung pada ketebalan lapisan adonan.
Kesulitan terbesar justru muncul pada proses mengoles adonan. Bara menyadari bahwa membuat bronis krispi tidak bisa dilakukan asal-asalan. Ada alat tertentu yang memang harus digunakan dengan tepat. Spatula yang terlalu lentur membuat adonan sulit rata, sementara spatula yang tepat membantu menghasilkan lapisan tipis yang renyah. Menariknya, Bara tidak menganggap percobaan pertamanya sebagai kegagalan.
Di kepalanya, proses membuat bronis krispi terbagi menjadi dua tahap. Pertama, bronis harus enak dulu. Kedua, baru harus “kres-kres” atau renyah. Jadi ketika hasil pertama belum renyah tetapi rasanya enak, Bara tetap merasa itu berhasil. Cara berpikir seperti itu terasa begitu jernih untuk anak seusianya. Ia tidak melihat belajar sebagai soal gagal atau sukses semata, melainkan sebagai proses bertahap.
Selama sesi tanya jawab, Bara tampil jauh lebih percaya diri dibanding saat pertama datang. Karena presentasi kelas 1 SD dilakukan dalam bentuk percakapan santai, Bara tidak membuka presentasi formal. Ia hanya menjawab pertanyaan dari fasilitator dan perwakilan orang tua.
“Bara bikin apa ini?” tanya fasilitator. “Bronis krispi,” jawabnya tenang. “Susah enggak bikinnya?” “Enggak,” jawab Bara cepat. “Bener? Enggak ada yang sulit?” Bara tersenyum kecil sambil menggaruk kepala, lalu nyengir. “Eh… ada. Pas ngoles, karena harus tipis.” Jawaban itu membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum.
Saat ditanya harga jual bronisnya, Bara segera menunjukkan catatan modal dan rencana jualannya sambil menjawab mantap, “Lima ratus rupiah.” Semua pertanyaan dijawab dengan percaya diri dan sesuai pengalamannya sendiri. Ada satu momen kecil yang paling menarik. Ketika poster riset selesai dicetak, Bara memperhatikannya cukup lama sebelum berkata serius, “Ini ada yang aneh. Risetku kan bronis krispi, artinya tipis-tipis sekali. Kenapa gambar di posternya bronisnya tebal?”
Komentar itu membuat semua orang tertawa kecil, tetapi sekaligus menunjukkan betapa detail Bara memahami hasil risetnya sendiri. Baginya, “krispi” bukan sekadar nama. Krispi berarti tipis, ringan, dan renyah. Hari itu bronis Bara habis terjual. Bahkan ketika stoknya sudah habis, masih banyak teman, fasilitator, dan orang tua yang datang bertanya. Setiap kali menjawab bahwa bronisnya sudah habis, wajah Bara terlihat semakin bangga. Namun dari proses jualan itu, Bara juga belajar tentang kerugian.
Ia menghitung bahwa dirinya rugi seribu rupiah karena banyak bronis bagian bawah yang pecah sehingga tidak bisa dijual. Dengan polos ia berkata kepada Mamanya, “Kalau tidak ada yang pecah-pecah pasti kita tidak rugi ya, Ma.”
Sebuah kalimat sederhana, tetapi menunjukkan bahwa Bara mulai memahami hubungan antara kualitas barang dan hasil penjualan. Selesai presentasi, dalam perjalanan pulang, Bara memeluk Mamanya sambil berkata penuh lega, “Alhamdulillah… aku sudah selesai presentasi risetku ya, Ma. Yeayyyyy…”
Sesampainya di rumah, ketika Papanya pulang kerja, Bara langsung berlari memeluknya sambil bercerita panjang tentang hasil jualannya dan hadiah yang ingin dibeli dari uang riset tersebut. Barangkali bagi orang dewasa, bronis krispi hanyalah camilan tipis yang manis dan renyah. Tetapi bagi Bara, bronis itu adalah perjalanan belajar tentang keberanian, tanggung jawab, ketelitian, matematika, sebab-akibat, hingga rasa bangga pada hasil kerja sendiri.
Dan pagi itu, di tengah keramaian Lapangan Salam, seorang anak kecil berhasil membuktikan bahwa proses belajar yang paling penting sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana: dari adonan yang terlalu tebal, spatula kecil di dapur, dan keberanian untuk menjawab pertanyaan di depan banyak orang.[]
Diolah dari notulensi Indri
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply