Pagi itu, 11 Mei 2026, Lapangan Salam tampak jauh lebih hidup dari biasanya. Separuh lapangan dipenuhi meja dan kursi yang tertata rapi untuk gelar karya siswa kelas 1 SD. Suara anak-anak bercampur dengan obrolan para orang tua dan fasilitator menciptakan suasana ramai yang hangat. Banyak orang dari kelas lain ikut datang, penasaran ingin melihat hasil riset kecil anak-anak yang dipamerkan hari itu.
Di tengah keramaian itu, Keilano Asa Jatmiko—yang akrab dipanggil Asa—datang paling awal. Dengan langkah tenang, ia memilih meja yang berada tepat di depan kelasnya. Satu per satu perlengkapan gelar karya mulai ia tata sendiri. Gelas-gelas disusun rapi, bahan-bahan dikelompokkan, sementara sebuah catatan kecil di atas kertas tebal diletakkan hati-hati di dekatnya. Catatan itu menjadi pegangan Asa untuk menjelaskan risetnya yang sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari: Susu Cokelat Hangat.
Riset itu lahir dari kebiasaan pagi Asa sendiri. Minuman hangat yang sering dihidangkan di rumah ternyata memancing rasa ingin tahunya. Dari kebiasaan sederhana itulah muncul pertanyaan-pertanyaan kecil: bagaimana membuat susu cokelat yang enak, mengapa harus menggunakan air panas, dan bagaimana membedakan cokelat bubuk dengan susu bubuk cokelat.
Di meja gelar karya, Asa tampak sibuk menakar bahan-bahan. Dengan sendok teh kecil, ia memasukkan susu bubuk putih, cokelat bubuk, dan gula ke dalam gelas-gelas yang sudah disiapkan sebelumnya. Sesekali ia berhenti sejenak untuk memastikan takarannya tepat. Ada keseriusan yang tampak di wajahnya ketika bekerja.
Dalam proses risetnya, Asa sempat mengalami kebingungan. Baginya, membedakan susu bubuk dan cokelat bubuk tidak selalu mudah, sebab ia tahu ada susu bubuk yang warnanya juga cokelat karena sudah bercampur rasa cokelat. Namun dari kebingungan itu, Asa menemukan caranya sendiri untuk memastikan perbedaan keduanya: dengan mencicipi. Dari situ ia memahami bahwa cokelat bubuk murni memiliki rasa pahit, sementara susu bubuk terasa lebih gurih dan manis. Penemuan kecil itu menjadi salah satu momen penting dalam proses belajarnya.
Asa juga mulai memahami alasan di balik langkah-langkah sederhana saat membuat minuman. Ketika ditanya mengapa susu perlu diseduh dengan air panas terlebih dahulu, ia tahu jawabannya: agar gula dan susu bisa larut dengan baik. Pengetahuan yang tampak sederhana itu sebenarnya lahir dari pengalaman langsung yang ia lakukan berulang-ulang.
Namun saat sesi presentasi dan tanya jawab dimulai, Asa masih terlihat malu-malu. Ketika Bu Umi bertanya tentang siapa yang memiliki ide riset tersebut, Asa menjawab pelan sambil tersenyum kecil, “Lupa.” Berkali-kali ia menoleh ke arah mamanya, seolah mencari bantuan jawaban di sana. Jawaban-jawabannya masih singkat dan pelan. Kepercayaan dirinya untuk berbicara di depan banyak orang memang belum tumbuh sepenuhnya. Menariknya, suasana berubah ketika sesi jual beli dimulai.
Begitu ada pembeli datang, Asa seperti menemukan dunianya sendiri. Tangannya bergerak cepat dan sigap menyiapkan susu cokelat hangat sesuai takaran yang telah dipelajarinya. Ia tidak lagi ragu-ragu. Tanpa bertanya kepada siapa pun, Asa langsung mencampur bahan-bahan dengan percaya diri, seolah seluruh proses itu sudah tersimpan di kepalanya.
Di tengah kerumunan pembeli yang datang silih berganti, Asa tetap fokus. Ia tidak panik. Bahkan ketika harus memberikan uang kembalian, Asa mampu menghitung dengan cepat sebelum menyerahkannya kepada pembeli. Ia sudah mengenal nilai mata uang dan mulai memahami praktik sederhana jual beli secara langsung. Saat antrean mulai sepi, barulah Asa berlari kecil menghampiri lapak teman-temannya, kembali menjadi anak kecil yang senang bermain dan berkeliling.
Dari riset sederhana tentang susu cokelat hangat ini, Asa belajar banyak hal: menakar bahan menggunakan sendok teh, mencampur dan mengaduk hingga larut, membedakan rasa dan tekstur bahan, hingga melatih kemampuan berhitung saat jual beli. Meski demikian, proses belajar Asa juga memperlihatkan tantangan yang masih perlu terus didampingi, terutama soal rasa percaya diri untuk berbicara dan mengemukakan pendapat.
Dalam kesehariannya, Asa dikenal sebagai anak yang sangat senang bermain. Ia selalu membutuhkan teman—baik teman bermain, binatang peliharaan, maupun gadget—agar tidak cepat bosan. Saat diajak melakukan praktik riset pun, ia masih sering menunda-nunda. Namun perlahan, ketertarikan belajarnya mulai tumbuh. Kini ia mulai tertarik mengeja kata-kata, meski lebih sering bertanya daripada mencoba mengejanya sendiri terlebih dahulu.
Di balik segelas susu cokelat hangat yang tampak sederhana itu, sebenarnya sedang tumbuh proses panjang seorang anak kecil dalam memahami dunia: belajar fokus, belajar bertanggung jawab, belajar percaya diri, dan belajar menemukan jawabannya sendiri, sedikit demi sedikit.
Diolah dari notulensi Bu Shita
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply