karya anak salam

Maxim Belajar dari Kue Berlapis

Menjadi presenter terakhir pada hari itu bukanlah posisi yang mudah. Sebagian orang tua yang sebelumnya memenuhi ruangan sudah pulang, dan suasana Studio Garasi tidak lagi seramai sesi-sesi sebelumnya. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi semangat Maximilian Herjuna Gavriel Kelas 7 SALAM, untuk membagikan perjalanan risetnya.

Dengan sapaan sederhana, “Selamat siang,” Maxim membuka presentasi. Sebelum mulai berbicara, ia tampak menggoyang-goyangkan tubuhnya sejenak untuk membuat dirinya lebih rileks. Meski jumlah audiens tidak sebanyak sebelumnya, teman-teman yang masih berada di ruangan tetap memberikan perhatian penuh pada apa yang akan ia sampaikan.

Semester ini, Maxim memilih riset yang cukup menantang: membuat lapis legit. Melalui presentasi berbentuk PowerPoint, ia menjelaskan dengan runtut bagaimana proses belajar yang telah dijalaninya selama beberapa bulan terakhir. Tujuannya tidak hanya sekadar mampu membuat lapis legit yang enak dan ekonomis, tetapi juga mencoba menjual hasil karyanya kepada orang lain.

Perjalanan riset dimulai dari menentukan tema, mencari berbagai referensi, hingga mempelajari sejarah lapis legit. Sumber belajarnya berasal dari buku Homemade Snack & Desserts ala Xander’s Kitchen, berbagai kanal YouTube, serta media sosial yang membahas pembuatan kue tradisional tersebut. Setelah cukup memahami teori, Maxim memulai praktik pertamanya pada 20 Februari 2026.

Karena belum memiliki oven, ia harus berkreasi dengan menggunakan plat atau tatakan kompor yang tebal sebagai alat memanggang. Keterbatasan peralatan tidak menghentikannya untuk terus mencoba. Sebelum membuka pra-pesan, ia telah melakukan empat kali praktik pembuatan lapis legit. Dari setiap percobaan itu, ia menemukan banyak hal baru.

Salah satu penemuan penting adalah bahwa membuat lapis legit membutuhkan waktu yang sangat panjang. Satu kali proses pembuatan bisa memakan waktu sekitar lima jam. Ia juga mengetahui bahwa lapis legit memiliki berbagai variasi dan karakteristik yang berbeda-beda.

Namun, tantangan terbesar ternyata bukan hanya soal teknik memasak. Maxim dengan jujur mengakui bahwa rasa malas untuk memulai praktik dan kebiasaan bermain gawai sering menjadi hambatan dalam proses belajarnya. Meski demikian, ia terus berusaha melawan rasa malas tersebut dan kembali berlatih. Setelah enam kali praktik, ia mulai memahami bahwa jenis butter dan jumlah telur sangat memengaruhi tekstur serta cita rasa lapis legit yang dihasilkan.

Ketika akhirnya membuka pra-pesan, Maxim sempat membayangkan dirinya akan sangat kelelahan karena harus memenuhi pesanan. Kenyataannya berbeda. Ia memang merasa sedikit pegal dan agak lemas, tetapi tidak sampai kewalahan seperti yang dibayangkannya. Pengalaman tersebut memberinya kepercayaan diri bahwa ia mampu mengelola proses produksi dengan lebih baik daripada yang ia kira.

Dalam sesi tanya jawab, para fasilitator memberikan apresiasi atas pilihan riset yang tidak sederhana ini. Mba Mega mengakui bahwa membuat lapis legit membutuhkan komitmen besar karena prosesnya yang panjang dan melelahkan. Ketika ditanya apakah riset ini akan dilanjutkan pada semester berikutnya, Maxim menjawab bahwa ia akan tetap membuat lapis legit, tetapi lebih sebagai kegiatan yang dilakukan ketika sedang ingin membuatnya.

Mba Mega juga memberikan masukan menarik. Karena hasil riset ini sudah dipasarkan, Maxim dapat mulai belajar mendokumentasikan produknya dengan lebih baik melalui fotografi. Foto yang diambil dengan sudut dan pencahayaan yang tepat dapat menjadi media promosi yang efektif.

Bu Dian menyoroti konsistensi yang ditunjukkan Maxim sepanjang semester. Melalui latihan yang berulang, ia mampu melihat perbedaan hasil dari satu percobaan ke percobaan berikutnya. Bu Dian juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan kualitas tidur, terutama karena Maxim juga aktif dalam kegiatan panjat tebing yang membutuhkan kondisi fisik prima.

Sementara itu, Bu Indah mengungkapkan kekagumannya karena bahkan membaca resep lapis legit saja sudah cukup membuat banyak orang merasa enggan untuk mencoba. Namun Maxim justru memilihnya sebagai tema riset dan menjalani prosesnya dengan penuh ketekunan. Mendapat apresiasi tersebut, Maxim mengucapkan terima kasih dan menyampaikan bahwa ia masih berencana membuka pra-pesan kedua.

Di balik keberhasilan yang mulai terlihat, terdapat proses belajar yang melibatkan banyak orang. Setiap kali membawa hasil praktik ke kelas, Maxim meminta teman-teman dan fasilitator untuk memberikan ulasan. Ia kemudian membawa pulang berbagai masukan tersebut dan mendiskusikannya bersama orang tuanya sebelum melakukan perbaikan pada praktik berikutnya. Dukungan juga datang dalam bentuk nyata. Mba Mega meminjamkan mixer, sementara Bu Dian meminjamkan lima loyang dengan berbagai ukuran untuk membantu proses eksperimennya.

Melalui riset ini, Maxim belajar bahwa kesabaran dan konsistensi merupakan bahan yang sama pentingnya dengan telur, butter, dan tepung. Ia juga belajar lebih berhati-hati saat bekerja dengan peralatan panas. Yang tidak kalah penting, ia belajar untuk jujur terhadap hasil kerjanya sendiri. Ia berani mengakui bahwa praktik kedua dan keempat belum memberikan hasil yang memuaskan. Alih-alih menyerah, ia memilih mengevaluasi kesalahan, mendengarkan saran orang lain, dan mencoba lagi.

Pelajaran berharga lainnya muncul ketika ia menghitung biaya produksi dan membandingkannya dengan hasil penjualan pra-pesan. Saat itu ia menyadari bahwa usahanya belum menghasilkan keuntungan. Namun kesadaran tersebut tidak membuatnya kecewa. Ia memahami bahwa tujuan utama pra-pesan pertama bukanlah mencari laba, melainkan memperoleh pengalaman, masukan, dan testimoni dari para pembeli.

Pengalaman itu membantunya memahami kebutuhan usaha secara lebih nyata, termasuk perlunya tambahan peralatan seperti loyang berukuran tertentu, tatakan kompor yang lebih baik, dan akhirnya sebuah oven listrik. Kehadiran oven baru menjadi langkah penting dalam pengembangan keterampilannya.

Pada akhir presentasi, Maxim membawa lapis legit yang dipanggang menggunakan oven listrik tersebut untuk dibagikan kepada para audiens. Kue itu bukan sekadar makanan ringan. Di dalam setiap lapisannya tersimpan jam-jam latihan, keberanian menghadapi kegagalan, dukungan dari banyak orang, serta kesabaran yang terus tumbuh sepanjang proses belajar.

Melalui riset sederhana tentang lapis legit, Maxim sesungguhnya sedang mempelajari sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa hasil yang baik sering kali lahir dari proses yang panjang, ketekunan yang berulang, dan kemauan untuk terus mencoba meskipun belum selalu berhasil.[]

Dari notulensi: Novi Eksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *