karya anak salam

Rayyi dan Secangkir Kopi

Pagi itu, Lapangan Salam berubah menjadi sebuah warung kopi kecil. Di atas meja sederhana, terpajang nama lapak yang ditulis tangan: Bar Jalan-Jalan Kopi DST. Berbagai menu kopi juga tertata di atas kertas. Di balik meja, Anggarakzza Rayyi Pagihari kelas 7 SALAM berdiri dengan semangat dan wajah ceria, siap memperagakan hasil risetnya tentang dunia barista yang selama beberapa bulan ia pelajari.

Bagi Rayyi, kopi bukan sekadar minuman. Di balik setiap cangkir kopi, ada proses panjang yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk terus mencoba. Melalui riset berjudul Barista di Warung Kopi DST, ia ingin memperdalam pengetahuannya tentang profesi barista sekaligus memahami bagaimana secangkir kopi diracik hingga siap dinikmati pelanggan.

Saat presentasi berlangsung, Rayyi menunjukkan keterampilannya menggiling biji kopi secara manual. Tangannya bergerak cekatan memutar grinder, lalu menyiapkan kopi sesuai pesanan. Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam meracik kopi adalah menemukan ukuran gilingan yang tepat. Setiap jenis biji kopi memiliki karakter berbeda sehingga membutuhkan perlakuan yang berbeda pula.

Bagian inilah yang paling sering membuatnya ragu sekaligus penasaran. Ia berkali-kali bereksperimen dengan berbagai ukuran gilingan untuk mencari rasa yang paling sesuai. Menurutnya, hasil gilingan sangat memengaruhi cita rasa kopi ketika diseduh. Jika terlalu kasar atau terlalu halus, rasa yang muncul bisa jauh dari yang diharapkan.

Pengalaman belajar Rayyi tidak hanya terjadi saat presentasi. Selama menjalani magang di Warung Kopi DST, ia merasakan langsung kehidupan seorang barista. Setiap sore sekitar pukul enam, ayahnya mengantarkan ia ke warung kopi. Ketika suasana ramai, ia baru pulang menjelang tengah malam dan dijemput oleh kakaknya, Raka.

Menariknya, sepulang dari warung kopi, Rayyi tidak langsung tidur. Ia sering bercerita kepada keluarganya tentang jumlah pelanggan yang datang, pesanan yang dibuat, dan pengalaman-pengalaman yang ia alami malam itu. Cerita-cerita tersebut menunjukkan betapa besar antusiasmenya terhadap dunia kopi yang sedang dipelajarinya.

Selama presentasi, suasana terasa hidup karena Rayyi kerap bercanda dengan para pembeli yang datang ke lapaknya. Ia terlihat menikmati perannya sebagai barista. Bahkan ketika ada kesempatan untuk diwawancarai oleh Kompas TV, ia memilih menolak karena merasa proses wawancara akan mengganggu konsentrasinya dalam meracik kopi. Baginya, pelanggan dan kopi yang sedang dibuat adalah prioritas utama.

Di balik keceriaannya, perjalanan belajar Rayyi tidak selalu berjalan mulus. Di rumah, ia sering mengalami kegagalan saat menggiling kopi. Hasil yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Namun, ia tidak berhenti di situ. Ia mencoba mengatur ulang grinder manualnya, mengubah setelan sedikit demi sedikit, lalu mengulangi proses yang sama berkali-kali sampai menemukan hasil yang tepat.

Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kualitas kopi tidak ditentukan oleh keberuntungan, melainkan oleh ketekunan dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan. Meski demikian, kegagalan terkadang masih memengaruhi suasana hatinya. Ketika racikan yang diharapkan tidak tercapai, mood Rayyi bisa berubah dan berdampak pada aktivitas lain di rumah, termasuk saat mengerjakan tugas.

Karena itu, salah satu pelajaran penting yang muncul dari riset ini bukan hanya tentang teknik membuat kopi, melainkan juga tentang kemampuan mengelola emosi. Menjadi barista ternyata tidak cukup hanya memahami alat dan bahan. Seorang barista juga perlu memiliki kesabaran, ketenangan, dan kemampuan menerima bahwa hasil terbaik sering kali lahir setelah banyak percobaan.

Melalui riset ini, Rayyi menunjukkan tanggung jawab yang besar terhadap pilihan belajarnya. Ia rela meluangkan waktu hingga larut malam, terus mencoba ketika gagal, dan berani menghadapi tantangan yang muncul selama proses belajar. Dari secangkir kopi yang ia racik, Rayyi tidak hanya belajar tentang rasa, tetapi juga tentang ketekunan, disiplin, dan kesabaran dalam menjalani proses.

Seperti halnya secangkir kopi yang baik, pembelajaran yang bermakna ternyata membutuhkan waktu, perhatian, dan keberanian untuk mencoba lagi ketika hasil pertama belum sesuai harapan.

Dari notulensi: Muhammad Zukhronnee Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *