karya anak salam

Cikal dan Dunia Baru Ilustrasi Flora

Rabu pagi, 20 Mei 2026, Ruang Sukrosono terasa hangat sejak sebelum presentasi dimulai. Pukul 08.05 WIB, Eufrasia Padnyana Cikal Siwi Mahening—yang akrab dipanggil Cikal—datang ke sekolah dengan wajah penuh semangat. Saat melewati teras Taman Anak, langkahnya sempat terhenti. Di sana, empat frame ilustrasi flora hasil risetnya telah terpasang rapi di papan pameran. Cikal tersenyum kecil sambil memandangi karya-karyanya sendiri, seolah belum sepenuhnya percaya bahwa gambar-gambar yang selama ini ia kerjakan dengan telaten kini dipajang dan dilihat banyak orang.

Karena suasana di ruang presentasi masih sepi, Cikal kembali turun ke teras. Ia berdiri cukup lama memandang ilustrasi bunga-bunga itu. Ada rasa kagum sekaligus bangga pada hasil kerja tangannya sendiri. Tak lama kemudian teman-teman, fasilitator, dan orang tua mulai berdatangan. Mereka berhenti sejenak di depan papan pameran, melihat karya-karya Cikal, berfoto bersama, lalu berbincang tentang proses risetnya.

Tepat pukul 09.00 WIB, presentasi dimulai. Hari itu ada empat presenter: Matthew, Cikal, Arka, dan Lourdes, dengan sekitar dua puluh lima audiens yang hadir. Ketika tiba giliran Cikal sebagai presenter kedua, sempat terjadi kendala teknis karena file presentasinya tidak bisa dibuka. Namun hal itu tidak membuatnya panik ataupun kehilangan semangat. Begitu file berhasil dijalankan, Cikal langsung memulai presentasinya dengan tenang.

Lukisan Botani by Cikal

Menggunakan slide PowerPoint dan video pendek proses menggambar ilustrasi flora, Cikal bercerita tentang riset yang ia lakukan selama semester ini. Menariknya, sebagian besar slide yang ditampilkan hanya berisi foto dan beberapa kata kunci singkat. Cara ini sengaja dipilih agar Cikal tidak terpaku membaca teks di layar, melainkan benar-benar bercerita kepada audiens. Hasilnya terasa berbeda. Cikal tampil lebih lepas, lebih hidup, dan lebih nyaman berinteraksi dengan orang-orang yang mendengarkannya.

Kursi presenter juga sengaja ditiadakan. Cikal berdiri sepanjang presentasi sambil belajar mengontrol gerak tubuh dan ritme berbicara. Saat menjelaskan proses menggambar, ia tampak sangat menguasai materi. Cara bicaranya seperti sedang mengobrol santai, karena yang ia ceritakan memang pengalaman yang benar-benar dijalani dan dinikmatinya sendiri.

Riset ini berawal dari kecintaan Cikal pada menggambar. Selama ini ia lebih sering menggambar hewan, tetapi di semester dua kelas lima ini ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda: ilustrasi flora. Inspirasi awalnya datang dari sebuah buku tentang pohon di Tahura Ir. H. Djuanda karya Susen C.P. Suryanto. Dari wawancaranya dengan Oma Susen, seorang ahli botani dan dosen Universitas Padjadjaran, Cikal mendapat saran untuk memulai pengamatan dari lingkungan terdekat, yaitu halaman rumah sendiri.

Narasumber berikutnya adalah Tante Keke, seorang pelukis botani, yang banyak memberi masukan tentang teknik ilustrasi flora. Narasumber ketiga adalah ayah Cikal sendiri, Pak YB, yang gemar berkebun dan menanam berbagai bunga di halaman rumah. Dari bunga-bunga itulah Cikal memilih objek gambar sekaligus belajar mengenali identitas tanaman.

Tujuan riset ini sederhana tetapi mendalam: melatih motorik halus, mengasah kreativitas, serta menambah pengetahuan tentang teknik menggambar dan mewarnai. Namun dalam prosesnya, riset ini ternyata juga menjadi perjalanan mengenali diri sendiri.

Percobaan pertama dilakukan dengan menggambar bunga statice yang dipetik dari kebun sebuah restoran dekat rumah. Hasilnya membuat Cikal kurang puas karena bunga yang dipetik tidak langsung digambar sehingga sudah layu saat dijadikan objek. Dari pengalaman itu, Cikal belajar bahwa ilustrasi flora membutuhkan ketepatan waktu dan pengamatan detail terhadap objek asli.

Pada percobaan-percobaan berikutnya, Cikal menggunakan bunga-bunga dari halaman rumahnya sendiri. Setelah memetik bunga, ia segera membuat sketsa dengan pensil di atas kertas kanvas, lalu mulai mewarnainya menggunakan cat air. Dari proses ini, Cikal belajar memilih warna, mencampur warna, mengontrol kadar air pada kuas, hingga menjaga agar kertas tidak terlalu basah. Semua membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi.

Menurut Cikal, penggunaan cat air adalah bagian paling “tricky” sekaligus paling menyenangkan. Ia merasa tertantang untuk menghasilkan warna yang sedekat mungkin dengan warna asli bunga. Dalam riset ini, Cikal juga mencoba keluar dari zona nyaman dengan menggambar detail flora secara realistis—sesuatu yang sebelumnya belum pernah benar-benar ia lakukan.

Perjalanan ini tidak hanya membuatnya belajar teknik ilustrasi, tetapi juga mengenalkan dirinya pada dunia botani. Meski belum mendalami secara detail, Cikal mulai belajar tentang morfologi dan taksonomi tumbuhan. Ia memahami bahwa morfologi berkaitan dengan bentuk fisik bagian-bagian bunga, sedangkan taksonomi mempelajari keluarga dan klasifikasi tumbuhan.

Salah satu momen yang paling membuatnya takjub terjadi setelah ia selesai menggambar. Cikal mencoba memindai hasil ilustrasinya menggunakan Google Lens. Ketika aplikasi itu berhasil mengenali bunga yang ia gambar dan menampilkan nama serta identitas lengkapnya, Cikal spontan berkata penuh kagum, “Wow, gambarku sudah mirip aslinya!” Kalimat sederhana itu menjadi penanda penting bahwa ia mulai menyadari kemampuan dirinya sendiri.

Dalam sesi tanya jawab, Cikal menjawab berbagai pertanyaan dengan santai dan percaya diri. Ketika ditanya tentang fungsi vaselin, ia menjelaskan bahwa vaselin digunakan untuk menjaga bentuk kuas agar tidak rusak atau “jabrig” setelah dipakai melukis. Saat ditanya apakah ilustrasi harus selalu melihat objek langsung, Cikal menjawab bahwa gambar dari imajinasi tetap termasuk ilustrasi, tetapi untuk ilustrasi flora ia merasa objek asli tetap penting agar detail dan akurasinya terjaga.

Ia juga menjelaskan bahwa gambar paling sulit yang pernah dibuatnya adalah anggrek kalajengking, karena arah bunganya berbeda-beda sehingga sulit menentukan sudut pandang. Proses menggambar bunga itu memakan waktu sekitar tiga setengah jam. Namun justru karena sulit, Cikal merasa sangat tertantang dan menikmatinya.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan terhadap karya-karyanya, Cikal menjawab mantap bahwa ia ingin mengumpulkannya menjadi portofolio. Dari jawaban itu tampak bahwa ia mulai memandang karya-karyanya sebagai sesuatu yang serius dan berharga untuk masa depannya. Ada satu kalimat yang sangat membekas dari proses riset ini. Dalam salah satu ilustrasinya, Cikal menuliskan: “My hands are blessed.” Tanganku diberkati.

Kalimat itu terasa bukan sekadar hiasan, melainkan bentuk rasa syukur karena ia menemukan sesuatu yang benar-benar dicintainya. Melalui menggambar, Cikal belajar tentang ketekunan, keberanian mencoba hal baru, kesabaran menghadapi kesulitan, dan daya juang untuk terus memperbaiki diri.

Keesokan harinya, Cikal bahkan dipercaya menjadi fasilitator sebaya dalam Workshop Ilustrasi Flora. Ia mempersiapkan sendiri perlengkapan untuk teman-temannya, mengatur alat gambar, dan memandu workshop dengan antusias. Teman-temannya mengikuti instruksi dengan semangat.

Sebagai orang tua dan pendamping, melihat proses ini terasa mengharukan. Awalnya Cikal belum tertarik menggambar flora. Namun dari rasa penasaran, buku-buku yang dibacanya, dan keinginannya menjadi ilustrator, ia berani mencoba sesuatu yang baru dan sulit. Dari situlah tumbuh keyakinan kecil dalam dirinya.

“Aku mau mengumpulkan karya-karyaku. Itu bisa jadi portofolio-ku.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya ada harapan, kesadaran, dan keberanian seorang anak untuk mulai melihat masa depannya sendiri.

Dari notulensi Dydha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *