Sarasehan Anak SALAM : Apa Kabar, Bu? Pak?
Sarasehan ini adalah ruang sederhana untuk saling menyapa. Diadakan oleh anak di awal semester, momen ini dipilih untuk menyambut kehadiran orangtua baru sekaligus menghangatkan kembali keterhubungan antar warga belajar di SALAM.

Menjaga Ruangnya Tetap Hidup
Sarasehan Anak SALAM tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari percakapan anak, dari sudut panggung ulang tahun SALAM, dari keresahan yang tidak kami sangka akan mengarah ke pertemuan seindah ini. Bilal malam itu membuka diskusi tentang keterlibatan orangtua yang kadang malah menjadi hambatan dalam proses belajar anak. Dari situ, kami mulai menggali. Apakah semua anak merasa seperti ini? Apakah semua orangtua menyadarinya? Dan, bagaimana SALAM sebagai komunitas bisa menampung pertanyaan-pertanyaan ini?
Sarasehan ini sempat nyaris dibatalkan dua kali. Dua kali juga diselamatkan oleh Tantra, teman kami yang sejak awal menyimpan kekhawatiran: jangan-jangan forum Srawung Orang SALAM (SOS) hanya berhenti sebagai diskusi tanpa tindakan. Kekhawatiran yang wajar, dan sempat membuatku sendiri ragu. Apalagi saat kami menyampaikan itu ke beberapa orangtua dan mendapat tanggapan yang cukup ngena. “Apakah Tantra hadir di semua forum SOS? karena SOS ini prinsipnya mengumpulkan masalah dan merefleksikan kebutuhan komunitas” tanya Bu Butet. Rasanya jadi seperti anak sok tahu tentang forum yang belum pernah ia dalami ini. Kami mencoba menelusuri ulang keresahan ini, agar tidak asal dilontarkan. Tapi justru dari situ, pertanyaan Tantra jadi keresahanku sendiri. Kenapa Tantra sampai punya kekhawatiran soal ini? aku pikir kekhawatiran ini juga perlu difasilitasi. Sehingga kami berusaha mengolah rasa ini. Dan ternyata, kekhawatiran itu terbantahkan, karena diskusi ini tidak akan hadir jika tidak ada data-data yang dikumpulkan dan disajikan oleh orangtua dalam forum SOS.
Kami juga menghadapi kesulitan mencari narasumber orangtua. H-3, belum ada yang bersedia. Malam itu aku menelepon Tantra, berharap ia akan bilang, “Batalin aja.” Tapi yang keluar malah, “yaudah mbak, besok diusahain cari narsum lain. Kalau ga dapat, tanggalnya kita mundurin.” Dari situ aku sadar, acara ini bukan hanya tentang siapa yang akan bicara di sarasehan, tapi siapa yang tetap mau berusaha menjaga ruangnya tetap hidup.
Pertanyaan yang paling sering kami dengar selama menyiapkan ini adalah “Ini diinisiasi siapa?” Dan terus terang, itu membuatku bingung. Kami sudah alumni SALAM, sebagian dari kami sudah bekerja. Apa kami masih disebut anak SALAM?
Ketika aku tanya ke Tantra: “Kita ini masih anak SALAM, bukan ya?”
Jawabannya malah: “Terus apa mbak? Mantan anak?”
Aku jadi tertawa, karena sadar, ternyata tidak ada yang benar-benar meninggalkan SALAM dan tidak ada mantan anak.
Menentukan Judul
Judul ini sederhana, hangat, tapi juga penuh makna. Kami memilih “Apa Kabar, Bu? Pak?” karena kami ingin memulai dari sapaan yang paling manusiawi: menanyakan kabar.
Kami merasa, dalam banyak forum atau percakapan yang membahas keterlibatan orangtua, seringnya langsung membicarakan tentang apa yang harus kita lakukan, apa yang kurang, atau apa yang ideal. Padahal, sebelum semua itu, mungkin yang perlu ditanyakan pertama kali adalah “Apa kabar?”
Sapaan ini mengandung empati. Ia membuka ruang. Ia menyapa orangtua bukan sebagai perannya, tapi sebagai manusia. Sebagai anak, kami pun ingin tahu kabar orangtua kami. Bagaimana ya rasanya jadi orangtua yang anaknya belajar di SALAM? Apa yang membuat Ibu dan Bapak merasa dekat? Apa yang bikin menjauh? Apa yang menyenangkan, melelahkan, atau mungkin membingungkan?
Ini sederhana, tapi harapannya besar. Agar setelah ini, kita tidak lupa saling menyapa, bahkan di tengah kesibukan dan tantangan menjadi keluarga belajar.
Membuat Tim Sarasehan
Happy, Rachel, dan Ruel kemudian bergabung bersama kami. kami membicarakan tentang keterlibatan orangtua di hidup kami. Menarik, karena setiap anak punya pengalaman yang beragam sekali. Dari obrolan ini, kami belajar bahwa keterlibatan orangtua bukan satu bentuk tunggal.
Ruel bercerita tentang ibunya, seorang single parent yang selalu berusaha hadir meski tak selalu di sampingnya. Ibunya mencarikan mentor, mendampingi dari jauh, menunjukkan cintanya lewat dukungan-dukungan dalam proses belajar mereka bersama.
Happy, dengan cerita yang sangat berbeda. Happy yang tumbuh tidak dengan keterlibatan orangtua kandung seperti Ruel, justru merasakan kehadiran orangtua lewat komunitas. Ia merasa didampingi oleh fasilitator, oleh para orangtua di sekitar SALAM. Bahkan ketika file riset filmnya hilang jelang presentasi, ada Pak Aji yang duduk di sebelahnya, bukan sebagai fasilitator, tapi sebagai orangtua yang menanyakan keadaannya.
Rachel melihat dari sudut pandang lain, bagaimana orangtuanya mencarikan sekolah untuk adiknya. Rachel menyaksikan ketika orangtuanya berusaha memahami minat adiknya, menunjukkan bahwa keterlibatan juga bisa berbentuk pencarian bersama.
Aku juga merefleksikan perjalananku bersama Bunda selama berkomunitas di SALAM. Sebagai remaja, aku tidak suka Bunda terlibat terlalu dekat, aku risih ketika keluargaku jadi overprotektif. Tapi aku mau Bundaku ikut terlibat di SALAM. Aku merasa SALAM juga mengerti kebutuhan Bunda. Dalam berkomunikasi Bunda menggunakan masakannya untuk menyampaikan perasaan, rasa sayang dan bentuk perhatian. Jadi, ketika Bunda dilibatkan sebagai juru masak untuk menyiapkan makan siang di SALAM, aku merasa senang sekali. Aku berharap, ketika Bunda terlibat di SALAM bukan karena kebutuhanku. Tapi, karena kebutuhan Bunda sendiri. Kebutuhannya untuk belajar, kebutuhannya untuk berkomunitas. Jadi, ketika Bunda mengambil rapot belajarku, bukan untuk kebutuhanku. Tapi untuk kebutuhannya mengetahui proses belajar kami bersama.
Setelah melalui percakapan, kami membagi tugas. Tantra berperan sebagai tim teknis zoom, ia riset banyak hal untuk ini. Mencari tahu bagaimana cara live Instagram dan Youtube, berapa lama mengunduh rekaman Zoom, bagaimana mengantisipasi jumlah peserta jika lebih dari 200 orang, dan menyiapkan materi pembukaan. Rachel menyiapkan diri untuk mengisi pembukaan dengan pembacaan narasi, membantu sebagai time keeper dan notulensi. Happy dan Ruel menggali lagi refleksi mereka untuk siap dibagikan kepada keluarga SALAM. Kami juga mengajak Bu Butet terlibat untuk mendokumentasikan kegiatan ini melalui tulisan dan perspektifnya sebagai orangtua.
Saat Sarasehan Anak SALAM berlangsung, rasanya sulit menahan tangis supaya tidak pecah. Ternyata mengungkapkan perasaan ke orangtua tidak semudah itu. Entah apakah itu perasaan malu, gengsi, atau tulus. Mungkin perasaan yang sama yang dialami oleh beberapa orangtua. Malam itu, kami belajar bersama untuk mengungkapkannya dan belajar untuk bilang terima kasih.
Melalui sarasehan ini, kami belajar bahwa peran orangtua tidak bisa diseragamkan. Setiap anak punya jalan tumbuh yang unik. Tapi satu hal yang pasti: semua butuh ruang yang aman untuk berbagi, mendengar, dan merasa didengarkan.
Sarasehan ini bukan akhir, dan mungkin juga tidak kalian temui jawaban. Tapi ini adalah bentuk dari anak-anak yang percaya bahwa komunitas bisa terus belajar, asal kita masih mau duduk bersama dan saling menyapa.[]
Siswi SMA Ekperimental SALAM
Leave a Reply